Kisah Pemain Pengganti yang Berakhir sebagai Juara Dunia: Dari Aldair hingga Almada
Baca dalam 60 detik
- Sejumlah pemain yang awalnya tidak masuk skuad Piala Dunia akhirnya menjadi juara setelah dipanggil menggantikan pemain cedera, seperti Aldair (1994) dan Ricardinho (2002).
- Proses pemanggilan mendadak sering kali penuh drama, mulai dari ponsel dimatikan hingga paspor kedaluwarsa, namun berujung pada momen tak terlupakan.
- Kisah-kisah ini mengingatkan bahwa peluang kedua di turnamen sebesar Piala Dunia bisa mengubah nasib, relevan bagi pemain Indonesia yang bermimpi tampil di level tertinggi.
Nasib berkata lain bagi enam pemain bintang yang gagal masuk skuad final Piala Dunia 2026, tapi sejarah membuktikan bahwa pintu kejayaan belum tertutup rapat. Trent Alexander-Arnold, Eduardo Camavinga, Phil Foden, Dean Huijsen, Joao Pedro, dan Cole Palmer harus merelakan mimpi berlaga di New York New Jersey Stadium, namun perjalanan para pendahulu mereka menunjukkan bahwa cedera pemain lain bisa menjadi tiket emas menuju gelar juara dunia.
FIFA merangkum kisah enam pemain yang awalnya tidak masuk daftar 26 pemain tim nasionalnya, tetapi berkat serangkaian kejadian tak terduga, mereka justru mengangkat trofi paling bergengsi di sepak bola. Dari Brasil era 1990-an hingga Argentina 2022, setiap era memiliki cerita dramatis tentang pemain pengganti yang menjadi pahlawan.
Kisah paling ikonik datang dari Aldair pada Piala Dunia 1994. Bek tengah Brasil itu bahkan tidak masuk dalam 22 pemain yang diumumkan Carlos Alberto Parreira enam pekan sebelum turnamen. Namun, ketika dokter tim mencoret Mozer—bertentangan dengan keinginan pemain—Aldair dipanggil. Ia kemudian bermain sejak menit pertama setelah Ricardo Rocha cedera di laga pembuka melawan Rusia, dan tak tergantikan hingga final. “Saya bermimpi tentang Piala Dunia terus-menerus. Saat tidak masuk skuad, rasanya seperti dihantam batu,” kenang Aldair. “Seorang jurnalis menelepon saya bilang dipanggil, tapi saya tutup telepon. Saya tidak percaya!”
Drama serupa terjadi pada Piala Dunia 2002. Sehari sebelum Brasil memulai kampanye di Ulsan, kapten Emerson mengalami dislokasi bahu saat bercanda sebagai kiper dalam latihan. Ricardinho, yang sedang berlibur di Curitiba, mendengar kabar itu tetapi menganggap dirinya tidak punya peluang karena belum pernah dipanggil pelatih Luiz Felipe Scolari. Ia bahkan mematikan ponselnya dan pergi ke gereja. Untungnya, istrinya Juliana yang “percaya pada keajaiban” menyalakan ponsel dan menjawab panggilan dari pejabat CBF. Dengan paspor kedaluwarsa yang diperbarui di konsulat Jepang, Ricardinho akhirnya bergabung dan tampil tiga kali sebagai pemain pengganti, membawa pulang medali emas.
Kisah Shkodran Mustafi pada 2014 juga tak kalah menarik. Bek Sampdoria itu masuk dalam skuad provisorial Jerman, lalu dicoret saat pengumuman 23 pemain final. Lima hari kemudian, Marco Reus yang diharapkan menjadi starter cedera ligamen pergelangan kaki. Pelatih Joachim Löw, yang hanya memiliki satu striker (Miroslav Klose), memanggil Mustafi. Ia bermain tiga laga, termasuk sebagai bek kanan saat melawan Aljazair di babak 16 besar. Usai final, Mustafi berkeliling Maracana dengan jersey bertuliskan ‘Reus 21’ sebagai penghormatan. “Saya kaget saat dipanggil. Saya seperti autopilot, pulang, berkemas, dan berangkat ke Piala Dunia,” ujarnya.
Argentina 2022 juga memiliki cerita serupa. Facundo Medina dan Angel Correa dicoret saat Scaloni memangkas skuad dari 28 menjadi 26 pemain. Enam hari kemudian, Nico Gonzalez cedera dan Correa dipanggil. Keesokan harinya, Joaquin Correa juga cedera, sehingga Thiago Almada—yang bahkan tidak masuk daftar provisorial—dipanggil. “Saya menangis saat mendapat telepon,” kata Almada. “Saya memberi ayah tiket Piala Dunia untuk Hadiah Hari Ayah, dan sekarang saya akan bermain di dalamnya!” Almada dan Correa masing-masing tampil sekali sebagai pemain pengganti, menyaksikan Lionel Messi akhirnya meraih trofi impiannya.
Bagi Indonesia, kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa sepak bola penuh kejutan. Pemain yang gigih dan selalu siap, meski awalnya tidak masuk skuad, bisa menjadi bagian dari sejarah. Dengan Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, bukan tidak mungkin pemain dari negara berkembang seperti Indonesia suatu hari nanti mengalami takdir serupa—dipanggil di menit akhir dan pulang sebagai juara dunia.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7826220/original/089435200_1780645584-rivaldo.jpg)
