Timnas Indonesia Gelar Internal Game Terbuka, Ratusan Anak SSB dan Difabel Jadi Saksi
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menggelar laga internal di Stadion Madya GBK yang dihadiri ratusan anak SSB, komunitas sosial, dan penyandang difabel sebagai bagian dari persiapan Piala AFF 2026.
- Pelatih John Herdman menekankan fokus pada proses dan mentalitas tim, bukan sekadar target juara, dalam menghadapi turnamen yang berlangsung 24 Juli–26 Agustus 2026.
- PSSI mengundang secara khusus kelompok masyarakat tersebut untuk menciptakan atmosfer pertandingan sesungguhnya dan mendekatkan timnas dengan penggemar.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/7325619/original/085805000_1780110721-20260530_094442.jpg)
Ratusan anak-anak Sekolah Sepak Bola (SSB), komunitas sosial, dan penyandang difabel memadati tribune barat Stadion Madya Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (30/5/2026) pagi, menyaksikan langsung sesi internal game Timnas Indonesia yang digelar secara terbuka untuk pertama kalinya dalam persiapan menuju Piala AFF 2026.
Sesi uji coba internal yang dipimpin pelatih John Herdman ini diikuti oleh mayoritas pemain yang berlaga di BRI Super League, seperti Saddil Ramdani, Hokky Caraka, Thom Haye, Brian Fatari, dan Cahya Supriadi. Meski hanya laga internal, intensitas pertandingan tetap tinggi—duel dan benturan keras mewarnai jalannya permainan, menunjukkan keseriusan para pemain dalam mematangkan strategi sebelum turnamen bergengsi Asia Tenggara tersebut.
Keputusan PSSI membuka sesi latihan ini untuk publik dinilai sebagai langkah strategis untuk membangun kedekatan emosional antara timnas dan masyarakat. Tak kurang dari ratusan undangan khusus disebar ke berbagai SSB di Jakarta dan sekitarnya, serta komunitas sosial dan difabel. Mereka hadir tanpa dipungut biaya, dan ditempatkan di tribune barat stadion. Kehadiran mereka berhasil menciptakan atmosfer layaknya pertandingan resmi, yang diharapkan dapat membiasakan pemain bermain di bawah tekanan penonton.
Pelatih John Herdman, dalam wawancara sehari sebelumnya (Jumat, 22/5/2026), menegaskan bahwa timnya tidak terobsesi pada target juara semata. "Kami fokus menjalani setiap pertandingan dengan proses yang benar dan mentalitas yang kuat," ujarnya. Pernyataan ini menjadi penekanan bahwa pembangunan tim jangka panjang lebih diutamakan ketimbang hasil instan, meski Piala AFF 2026 yang akan digelar pada 24 Juli hingga 26 Agustus mendatang tetap menjadi ajang pembuktian.
Bagi Indonesia, Piala AFF edisi kali ini memiliki arti penting sebagai batu loncatan menuju persaingan yang lebih ketat di level Asia. Meski tidak dapat menurunkan skuad penuh karena berbagai kendala, Tim Garuda tetap memasang target tinggi. Kehadiran anak-anak SSB dan komunitas difabel dalam sesi internal game ini juga menjadi simbol bahwa sepak bola Indonesia ingin lebih inklusif dan dekat dengan akar rumput.
Langkah PSSI mengundang kelompok difabel patut diapresiasi. Ini menunjukkan kesadaran bahwa sepak bola adalah milik semua kalangan. Atmosfer yang tercipta dari sorak-sorai anak-anak SSB dan dukungan komunitas sosial diharapkan mampu menjadi suntikan moral bagi para pemain yang tengah berjuang merebut tempat di skuad utama.
Ke depan, publik akan menanti apakah pendekatan terbuka seperti ini akan berlanjut pada sesi latihan berikutnya, dan apakah hasil positif di atas lapangan akan sejalan dengan kedekatan emosional yang mulai dibangun. Satu hal yang pasti, Timnas Indonesia tidak hanya sedang mempersiapkan fisik dan taktik, tetapi juga merajut kembali hubungan dengan pendukung setianya.



