Al Hilal Incar Ndiaye, Everton Siapkan Dana Besar untuk Jonathan Rowe
Baca dalam 60 detik
- Klub Saudi Al Hilal mulai negosiasi dengan Everton untuk merekrut winger Iliman Ndiaye, yang bisa menjadi pukulan telak bagi lini depan The Toffees.
- David Moyes telah mengidentifikasi Jonathan Rowe dari Bologna sebagai pengganti ideal, dengan nilai transfer diperkirakan mencapai £38 juta.
- Rowe, meski masih mentah, memiliki kecepatan dan naluri mencetak gol yang mirip dengan Ndiaye, menjadikannya investasi jangka panjang bagi Everton.

Hanya tersisa kurang dari sebulan sebelum Premier League 2026/27 bergulir, Everton dihadapkan pada kenyataan pahit: bintang andalan mereka, Iliman Ndiaye, tengah diburu raksasa Saudi Al Hilal. Jika transfer jadi terjadi, Everton tidak hanya kehilangan pemain paling kreatif, tetapi juga harus bergegas mencari pengganti yang setara.
Ndiaye, yang direkrut dari Marseille seharga £15 juta pada 2024, telah menjadi nyawa serangan Everton. Dalam 71 penampilan, ia mencetak 17 gol dan kerap menjadi mimpi buruk bagi bek lawan dengan kelincahan serta dribelnya. Analis Ben Mattinson menyebutnya sebagai pemain "tak kenal lelah" yang bisa menjadi starter di tim Premier League mana pun. Ketertarikan Al Hilal, yang dikenal dengan kekuatan finansialnya, membuat Everton khawatir kehilangan aset paling berharga mereka.
Namun, Everton bukannya tanpa rencana. Menurut laporan Sport Media Set, manajemen klub asal Liverpool itu telah melakukan kontak dengan Bologna untuk merekrut Jonathan Rowe, winger asal Inggris berusia 23 tahun. Rowe bergabung dengan Bologna dari Marseille pada Agustus 2025 dan sejak itu menjelma menjadi salah satu pemain sayap muda paling menjanjikan di Serie A. Namun, harganya tidak murah: dilaporkan mencapai £38 juta atau setara dengan sekitar Rp760 miliar.
Keputusan untuk memburu Rowe bukan tanpa risiko. Meski Mattinson memuji naluri "striker-like" yang dimiliki Rowe, produktivitasnya masih perlu dibuktikan secara konsisten. Di sisi lain, Ndiaye sendiri juga tidak sedang dalam performa moncer sebelum pindah ke Everton—hanya tiga gol dari 30 pertandingan Ligue 1. Artinya, Everton sebenarnya sudah terbiasa mengambil risiko dengan pemain yang menjanjikan. Yang membedakan, Rowe lahir dan besar di Inggris, sehingga ia lebih siap secara fisik dan mental untuk menghadapi kerasnya Premier League.
Fenomena ini juga menjadi cermin bagi sepak bola Indonesia. Masuknya klub-klub Saudi dengan daya beli tinggi tidak hanya mengancam stabilitas klub Eropa, tetapi juga membuat pasar transfer Asia semakin kompetitif. Bagi klub-klub di Asia Tenggara, strategi mempertahankan bintang muda lokal menjadi krusial agar tidak kehilangan aset berharga seperti yang dialami Everton. Apakah The Toffees akan mampu mempertahankan Ndiaye atau justru menuai sukses dengan perjudian bernama Jonathan Rowe? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



