Setahun Rehabilitasi, Chiki Kucing Kuwuk Kembali Bebas ke Hutan
Baca dalam 60 detik
- Chiki, kucing kuwuk yang ditemukan warga di Bogor, menjalani rehabilitasi setahun di Cikananga Wildlife Center sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya.
- Proses rehabilitasi memprioritaskan pemeliharaan naluri liar dengan membatasi interaksi manusia dan memberikan pelatihan berburu, guna memastikan satwa mampu bertahan sendiri.
- Keberhasilan ini menjadi contoh penting bagi upaya konservasi spesies dilindungi di Indonesia, menekankan pendekatan yang ketat dalam mengembalikan satwa ke alam.

Chiki, kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis) yang kehilangan induknya dan ditemukan warga di sekitar lapangan golf Bogor, kini menghuni kembali hutan asalnya setelah menjalani rehabilitasi selama setahun di Cikananga Wildlife Center (CWC), Sukabumi.
Bagi Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu (YCKT), pelepasliaran bukan sekadar membuka pintu kandang. Ini adalah puncak dari evaluasi ketat terhadap fisik, perilaku, dan kemampuan bertahan hidup tanpa campur tangan manusia. Meidi Yanto, Manajer Konservasi In-Situ YCKT, mengatakan Chiki menunjukkan perkembangan positif selama masa pemulihan. โIa tetap liar, aktif pada peralihan siang dan malam, serta tidak bergantung pada kehadiran manusia,โ ujarnya pada Sabtu (25/7/26).
Menurut Albert Feliciano Ferrari, Field Biologist YCKT, interaksi langsung dengan manusia dibatasi seminimal mungkin sejak tahap rehabilitasi lanjutan. Perawat hanya melakukan aktivitas esensial seperti pemberian pakan, pemeriksaan kesehatan, dan pembersihan kandang. Aktivitas Chiki dipantau menggunakan kamera jebak, sehingga tim tidak perlu sering hadir langsung. Cara ini mencegah habituasi atau ketergantungan satwa terhadap manusia.
Kandang rehabilitasi dilengkapi berbagai bentuk pengayaan lingkungan yang merangsang perilaku alami Chiki, seperti memanjat, bersembunyi, hingga mencari makan. Pakan tidak selalu diberikan secara langsung; kadang disembunyikan untuk mendorong insting mencari mangsa. Pada tahap selanjutnya, tim memberikan pakan hidup berupa mencit sebagai latihan berburu. Kemampuan berburu Chiki dinilai moderat tetapi terus meningkat.
Sebelum dilepasliarkan, Chiki menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Dokter hewan muda CWC, Anatasha Reza Widyantoro, menjelaskan bahwa pemeriksaan meliputi kondisi fisik umum, kesehatan gigi, mata, kulit, rambut, alat gerak, hingga organ tubuh lain. Tim juga melakukan skrining penyakit menggunakan rapid test kit untuk memastikan Chiki bebas dari penyakit yang berpotensi menular ke satwa liar lain. โKami memastikan, Chiki tidak menunjukkan indikasi penyakit yang berpotensi menular pada satwa liar lain di lokasi pelepasliaran,โ tegas Reza.
Menjaga naluri liar menjadi perhatian utama selama rehabilitasi. Satwa yang terlalu terbiasa dengan manusia akan kesulitan hidup di hutan. Oleh karena itu, perawat dilarang berbicara di sekitar kandang, dan area rehabilitasi dipasangi visual barrier agar Chiki tidak melihat aktivitas manusia. โKemampuan Chiki terus meningkat. Perkembangan tersebut menjadi indikator, ia memenuhi syarat untuk hidup di hutan,โ kata Albert.
Dengan keberhasilan ini, YCKT berharap pola rehabilitasi serupa dapat diterapkan pada satwa liar lain yang membutuhkan. Namun, tantangan terbesar tetap pada upaya pencegahan perburuan dan perdagangan ilegal agar satwa seperti Chiki tidak lagi kehilangan habitatnya. Pertanyaan selanjutnya: akankah Chiki mampu bertahan dan berkembang biak di alam liar, mengingat tekanan habitat yang terus menyempit?



