Canal+ Konfirmasi Paddington 4, Investasi Besar untuk Kuasai Pasar Streaming Prancis
Baca dalam 60 detik
- StudioCanal sedang menggarap film keempat Paddington dengan talenta kelas atas, tanpa tanggal rilis publik.
- Canal+ berkomitmen investasi โฌ1 miliar untuk sinema Prancis dan Eropa demi hak tayang perdana enam bulan setelah bioskop.
- Keunggulan regulasi ini membuat Canal+ unggul 9 bulan dari Netflix dalam menayangkan film Hollywood di Prancis.

Pay-TV raksasa Prancis Canal+ mengonfirmasi bahwa film keempat waralaba Paddington tengah dalam pengembangan dengan melibatkan talenta papan atas. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi perusahaan di tengah persaingan ketat layanan streaming global. Kepastian itu disampaikan langsung oleh CEO Maxime Saada pada Selasa (28/7), meski jadwal rilis dan distribusi masih dirahasiakan.
Pengumuman tersebut tidak bisa dilepaskan dari kebijakan regulasi media Prancis yang memberikan keistimewaan bagi Canal+. Dalam perjanjian yang diperbarui hingga 2032, Canal+ mendapatkan akses untuk menayangkan film-film baru enam bulan setelah pemutaran perdana di bioskop. Sebagai imbalan, perusahaan wajib menggelontorkan investasi sekitar โฌ1 miliar (Rp 17,3 triliun) untuk industri film Prancis dan Eropa dalam lima tahun mulai 2028. Angka itu meningkat sekitar โฌ50 juta per tahun dari kewajiban sebelumnya yang sebesar โฌ140 juta per tahun.
Keunggulan ini menjadi senjata ampuh Canal+ melawan raksasa global seperti Netflix. Saada membandingkan, dalam kesepakatan dengan Universal, Warner, dan Paramount, film-film mereka bisa tayang di platform Canal+ hanya enam bulan setelah bioskop. Sementara itu, Netflix harus menunggu hingga 15 bulan untuk hak serupa di Prancis. Selisih sembilan bulan itu menjadi nilai jual utama Canal+ di tengah perang konten yang semakin agresif.
Investasi tersebut hanyalah sebagian kecil dari total belanja konten Canal+. Pada semester pertama 2026 saja, perusahaan mengeluarkan โฌ2,25 miliar untuk film, televisi, dan olahraga di seluruh pasar internasionalnya. Prancis sendiri menjadi kontributor pendapatan terbesar, mencapai โฌ1,77 miliar pada periode yang sama.
Model bisnis yang mengikat investasi dengan hak tayang perdana ini merupakan ciri khas regulasi media Prancis. Di Indonesia, praktik serupa belum lazim. Kebanyakan platform streaming global seperti Netflix, Disney+, atau HBO menerapkan jadwal tayang yang seragam di semua negara, tanpa mempertimbangkan investasi lokal. Namun, tren investasi konten orisinal Indonesia mulai meningkat, meski belum ada regulasi yang mewajibkan akses awal sebagai imbalan.
Keputusan Canal+ untuk terus menggenjot waralaba Paddington menunjukkan bahwa konten keluarga tetap menjadi magnet pelanggan. Film ketiga, Paddington in Peru, sukses secara komersial, dan kelanjutan waralaba ini diharapkan menjaga loyalitas penonton. Saada optimistis bahwa investasi yang dikeluarkan sepadan dengan hak istimewa yang diperoleh, terutama saat persaingan konten semakin memanas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah keunggulan regulasi Canal+ dapat bertahan di tengah gempuran disruptor global. Jika model Prancis terbukti efektif mempertahankan pangsa pasar, bukan tidak mungkin negara lain mulai melirik kebijakan serupa. Sementara itu, para penonton setia Paddington harus bersabar menunggu tanggal rilis resmi yang belum diumumkan.



