Krisis di Federasi Sepak Bola Italia: Maldini dan Leonardo Mundur karena Sengkarut Pemilihan Pelatih
Baca dalam 60 detik
- Paolo Maldini dan Leonardo resmi mundur dari jabatan direktur teknis Timnas Italia hanya dua pekan setelah pengangkatan, menyusul penolakan FIGC terhadap usulan pelatih yang mereka ajukan.
- FIGC menginginkan Roberto Mancini atau Antonio Conte, namun Maldini menilai keduanya tak cocok untuk proyek jangka panjang menuju Piala Dunia 2030 karena alasan loyalitas dan stabilitas.
- Konflik ini mencerminkan pertarungan antara otonomi teknis dan tekanan politik di federasi, menjadi pelajaran bagi pengelolaan sepak bola di negara lain, termasuk Indonesia.

Paolo Maldini dan Leonardo memutuskan mundur dari jabatan masing-masing sebagai direktur teknis dan penasihat Timnas Italia setelah hanya dua pekan menjabat, menyusul kegagalan mereka meyakinkan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) untuk menunjuk Andrea Pirlo sebagai pelatih kepala. Keputusan ini mengakhiri salah satu periode terpendek dalam sejarah kepengurusan teknis tim nasional Italia.
Menurut laporan media Italia, Maldini dan Leonardo mengajukan tiga nama kandidat pelatih: Andrea Pirlo, Thiago Motta, dan kemungkinan lainnya. Namun, Presiden FIGC Giovanni Malagò menolak Pirlo karena kekhawatiran politik terkait perannya sebagai duta merek untuk perusahaan judi Rusia. Penolakan ini dianggap Maldini sebagai intervensi yang merusak otonomi keputusan teknis.
Dalam pertemuan terakhir Senin lalu, Malagò mendesak Maldini dan Leonardo untuk beralih ke kandidat lain, terutama Roberto Mancini dan Antonio Conte. Namun, Maldini berargumen bahwa Mancini baru saja meninggalkan timnas Italia di tengah kualifikasi Euro 2024 untuk melatih Arab Saudi, sehingga dinilai tidak memiliki komitmen jangka panjang. Sementara Conte, meski sukses di klub, dikenal kerap pindah setiap dua tahun—sebuah risiko besar mengingat target Piala Dunia 2030 yang masih empat tahun lagi.
Maldini dan Leonardo kemudian mengusulkan Thiago Motta, pelatih anyar Juventus yang sebelumnya menangani Bologna. Namun, Malagò juga menolak usulan tersebut. Sikap federasi yang tetap ngotot pada Mancini atau Conte membuat Maldini dan Leonardo merasa wewenang mereka dikebiri, hingga akhirnya memilih mundur.
Kisruh ini membuka tabir tarik-ulur antara keputusan teknis dan pertimbangan politik di federasi sepak bola. Di Italia, tekanan politik kerap mewarnai pemilihan pelatih timnas, mirip dengan yang terjadi di Indonesia. PSSI, misalnya, beberapa kali menghadapi dilema serupa ketika memilih pelatih yang disukai publik namun tidak sesuai dengan visi teknis jangka panjang. Kasus Maldini mengingatkan bahwa tanpa jaminan otonomi, figur teknis berkualitas bisa hengkang sebelum sempat bekerja.
FIGC kini akan menggelar rapat dewan pada Selasa siang waktu setempat untuk menentukan langkah selanjutnya. Nama Mancini dan Conte kembali mengemuka, namun tanpa kehadiran Maldini dan Leonardo, siapa pun yang terpilih harus menghadapi tekanan untuk memberikan hasil instan. Apakah federasi Italia akan memilih pelatih berprofil tinggi demi meredam kritik, atau berani mengambil risiko dengan sosok yang lebih kontroversial? Jawabannya akan menentukan arah sepak bola Italia dalam beberapa tahun ke depan.



