Kiko Carneiro Buka Suara: 20 Laga dalam Sakit demi Persik
Baca dalam 60 detik
- Bek asal Portugal, Kiko Carneiro, mengaku menjalani 20 dari 22 pertandingan BRI Super League 2025/2026 dalam kondisi cedera.
- Absennya Carneiro membuat lini belakang Persik rentan, dengan pelatih Marcos Reina gagal menemukan pengganti yang sepadan.
- Pemain 26 tahun itu kini kembali ke Portugal untuk pemulihan intensif dan bertekad kembali 100 persen musim depan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7334876/original/007469900_1780119096-1000886314.jpg)
Kiko Carneiro, bek tengah Persik asal Portugal, akhirnya mengungkap alasan di balik absennya di sejumlah laga pamungkas BRI Super League 2025/2026. Dalam pernyataan yang dirilis melalui akun Instagram pribadinya, pemain berusia 26 tahun itu mengaku telah menjalani 20 dari 22 pertandingan musim ini dalam kondisi kesakitan akibat cedera yang tak kunjung pulih.
Carneiro total absen dalam 12 pertandingan musim lalu, dengan rincian sembilan laga berturut-turut hingga kompetisi usai dan tiga partai akibat akumulasi kartu. Tanpa kehadirannya, pertahanan Persik—julukan Macan Putih—menjadi keropos. Pelatih Marcos Reina beberapa kali mencoba duet Hamra Hehanusa dan M. Firly, atau menurunkan bek Spanyol Chechu Meneses, namun tak satu pun formasi mampu menutup celah yang ditinggalkan Carneiro.
"Musim ini akhirnya sampai di penghujung. Tanpa ragu, ini adalah musim paling sulit sejak saya menjadi pemain sepak bola," tulis Carneiro. Ia mengaku tetap memaksakan diri bermain meski tidak dalam kondisi 100 persen. "Saya bertahan semampu saya, karena memakai jersey klub ini sangat berarti bagi saya," katanya. Bahkan, ia menyebut fisiknya tak lagi sinkron dengan kehendak otak saat bertanding.
Keputusan untuk berhenti diambil Carneiro lima pertandingan sebelum musim berakhir. "Tubuh saya sudah tidak mampu lagi. Sangat berat meninggalkan tim di momen seperti ini, tetapi itu satu-satunya cara agar saya bisa pulih dengan baik dan kembali lebih kuat," ujarnya. Setelah menjalani perawatan intensif bersama tim di Kediri, ia memilih pulang ke Portugal untuk mendapatkan penanganan yang lebih optimal.
Bagi Persik, kehilangan Carneiro menjadi pukulan berat. Bek tengah asal Portugal itu merupakan pilar utama yang sulit digantikan. Absennya ia membuat lini belakang Persik kebobolan banyak gol dan gagal bersaing di papan atas. Pelatih Marcos Reina masih mencari formula tepat untuk menambal lubang yang ditinggalkan Carneiro.
Carneiro pun menyampaikan terima kasih kepada suporter yang setia mendukungnya. "Bahkan di masa-masa tersulit, saya selalu merasakan kalian bersama saya," tuturnya. Ia bertekad kembali musim depan dalam kondisi 100 persen dan terus berjuang untuk Persik.
Pertanyaan besarnya, akankah Persik mampu bertahan tanpa Carneiro di sisa musim ini? Atau justru pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga bagi manajemen untuk lebih memperhatikan kondisi pemain dan menyiapkan cadangan yang setara?



