Christine Taylor Buka Suara: Terapi Covid-19 Selamatkan Pernikahan dengan Ben Stiller
Baca dalam 60 detik
- Aktris Christine Taylor mengaku terapi selama pandemi menjadi kunci rekonsiliasi dengan Ben Stiller setelah pisah sejak 2017.
- Taylor mendorong masyarakat untuk lebih terbuka membahas konseling pernikahan, yang kerap dianggap sebagai tanda kegagalan.
- Pasangan ini kini mengaku hubungan mereka lebih kuat, memberi contoh bahwa perbaikan hubungan butuh waktu dan usaha sadar.

Aktris Christine Taylor secara terbuka mengungkapkan bahwa terapi intensif selama masa karantina Covid-19 menjadi faktor utama yang menyelamatkan pernikahannya dengan aktor dan sutradara Ben Stiller. Dalam wawancara terbaru di podcast McBride Rewind, perempuan 54 tahun itu berharap kejujurannya dapat mendorong lebih banyak pasangan untuk tidak malu menjalani konseling pernikahan.
Taylor dan Stiller menikah pada tahun 2000 dan dikaruniai dua anak. Namun, pada 2017 mereka mengumumkan perpisahan. Keputusan itu, menurut Taylor, tidak diambil dengan ringan. “Saat itu sangat sulit. Bukan tanpa rasa berat hati dan bahkan perasaan terpuruk,” kenangnya. Baru pada 2022 pasangan ini mengonfirmasi bahwa mereka kembali bersama.
Dalam podcast tersebut, Taylor menceritakan bahwa pandemi justru menjadi berkah tersembunyi bagi rumah tangganya. “Kami semua berada di rumah bersama anak-anak. Putri kami lulus SMA, putra kami lulus kelas delapan. Kami punya banyak waktu,” ujarnya. Bersama Stiller, ia rutin mengikuti sesi terapi melalui Zoom. “Kami benar-benar menemukan jalan kembali,” tambahnya.
Taylor mengakui bahwa topik terapi pernikahan masih tabu di masyarakat karena sering dianggap sebagai tanda kegagalan. “Orang tidak suka membicarakannya karena terasa seperti kegagalan,” katanya. Ia justru ingin menormalisasi percakapan semacam itu. “Jika jawaban yang tepat bagi kami adalah perpisahan, dan kami bisa mengetahuinya dengan jelas, itu juga bagus. Tapi ternyata kami bisa kembali.”
Kini, Taylor dan Stiller mengaku hubungan mereka “benar-benar lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya”. Ia menekankan bahwa pernikahan jangka panjang membutuhkan banyak kerja keras. “Hidup bergerak begitu cepat sehingga kita jarang berhenti sejenak untuk saling introspeksi,” katanya.
Di Indonesia, budaya konseling pernikahan belum sepopuler di Barat. Banyak pasangan enggan berkonsultasi karena takut dianggap gagal atau aib keluarga terbongkar. Padahal, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mencatat angka perceraian terus meningkat, dengan faktor utama perselisihan dan kurangnya komunikasi. Kisah Taylor dan Stiller bisa menjadi pengingat bahwa mencari bantuan profesional bukanlah kelemahan, melainkan langkah dewasa untuk menyelamatkan hubungan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah semakin banyak pasangan Indonesia berani mengambil langkah serupa, atau stigma justru semakin mengakar?



