Ted Danson Akui Tak Percaya Diri dengan Status Sex Symbol di Era 'Cheers'
Baca dalam 60 detik
- Ted Danson mengaku butuh waktu dua musim untuk menerima statusnya sebagai idola pria di 'Cheers'.
- Aktor 78 tahun itu kerap meremehkan pujian atas ketampanannya, menganggapnya berkat lawan main yang menarik.
- Setelah mengalami masalah kesehatan misterius, Danson kini lebih fokus pada rasa ingin tahu dan mendengarkan orang lain.

Ted Danson, aktor yang namanya melekat berkat peran Sam Malone di serial legendaris Cheers, mengakui bahwa dirinya sempat bergulat dengan status sebagai simbol seks di puncak ketenaran. Dalam sebuah episode podcast miliknya, Where Everybody Knows Your Name, ia mengungkapkan bahwa butuh waktu hingga musim kedua acara itu untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa banyak wanita menganggapnya menarik.
Dalam perbincangan dengan Lisa Ann Walter, bintang film Parent Trap, Danson menceritakan pengalamannya yang kerap merasa tidak percaya diri meski mendapat pujian. “Saya adalah tipe pria yang, meskipun seorang wanita berdiri telanjang di depan saya, saya masih bertanya-tanya, ‘Apa?’” ujarnya. Ia bahkan sering menoleh ke belakang untuk memastikan pujian itu benar-benar ditujukan padanya.
Menurut Danson, pujian atas ketampanan dan kelucuannya sering ia tolak. Ia justru mengalihkan kredit kepada para produser Cheers yang mempekerjakan aktris-aktris cantik untuk bereaksi kagum pada karakter Sam Malone. “Mereka mempekerjakan wanita-wanita yang sangat seksi untuk menatap Sam Malone dan berkata, ‘Wow, dia seksi’,” kenangnya. Akhirnya, ia belajar untuk diam dan menerima label tersebut.
Di luar kariernya, Danson juga berbagi pengalaman tentang masalah kesehatan yang dialaminya beberapa waktu lalu. Meski tidak merinci jenis penyakitnya, ia menyebut insiden itu sebagai pengalaman yang sangat membebaskan dan merendahkan hati. “Saya baik-baik saja, tapi itu seperti, ‘Oh, ini nyata’,” katanya. Kini, ia mengaku melakukan banyak hal secara berbeda dan lebih menghargai kehidupan.
Perubahan paling mendalam yang ia rasakan adalah tumbuhnya rasa ingin tahu terhadap orang-orang di sekitarnya. “Anda bisa menjadi penasaran tentang orang lain. Anda bisa mendengarkan dan mendukung, peduli. Anda bisa menjadi saksi bagi mereka,” ujarnya. Danson percaya bahwa sisa hidupnya adalah untuk terus penasaran dan mendengarkan—itulah yang terbaik yang bisa ia tawarkan.
Bagi penggemar Cheers di Indonesia, pengakuan Danson ini menjadi pengingat bahwa di balik layar, para bintang pun bergulat dengan citra diri mereka. Di era media sosial yang kerap memicu kecemasan akan penampilan, kisah Danson justru menyiratkan pesan tentang penerimaan diri dan pentingnya kerendahan hati. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan Tanah Air menciptakan ruang yang lebih sehat bagi para artis untuk berproses tanpa tekanan menjadi ‘sempurna’?



