Chappell Roan: Hapus Medsos Demi Kreativitas, Bukan Semua Artis Bisa
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Chappell Roan mengaku kerap menghapus aplikasi media sosial dari ponselnya saat tekanan daring terasa berlebihan.
- Langkah ini disebutnya sebagai hak istimewa karena ia tidak bergantung pada platform digital untuk menopang popularitas.
- Keputusan Roan menyoroti dilema artis yang mengandalkan medsos untuk promosi, namun rentan terhadap komentar negatif.

Pelantun "Pink Pony Club", Chappell Roan, secara terbuka mengungkapkan kebiasaannya menghapus aplikasi media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X dari ponsel ketika tekanan daring mulai mengganggu ketenangan pikirannya. Bagi Roan, langkah ini bukan sekadar jeda digital, melainkan bentuk perlindungan terhadap sisi kreatif yang tengah ia rawat.
Dalam wawancara dengan podcast Elton John Impact Awards, perempuan 28 tahun itu menyebut dirinya berada dalam posisi yang sangat istimewa. "Saya bisa berkata, 'Saya tidak akan menggunakan ini dan saya akan baik-baik saja,'" ujarnya. Namun, ia sadar bahwa tidak semua artis memiliki kemewahan yang sama. Bagi banyak musisi, media sosial adalah mesin utama yang menggerakkan karier mereka—tempat membangun basis penggemar, merilis lagu, hingga berinteraksi dengan label.
Roan mengakui bahwa membaca kolom komentar sering kali terasa sangat mengecewakan. "Saya hapus saja ketika semuanya menjadi terlalu berat dan saya terus melangkah," katanya. Ia menegaskan bahwa apa pun kata orang tentang dirinya, baik di dunia maya maupun nyata, tidak akan menghentikan niatnya untuk berdonasi, meluangkan waktu, dan menulis tentang hal-hal yang berarti—seperti yang ia lakukan bersama Elton John.
Keputusan Roan untuk memutus sementara akses ke media sosial bukanlah yang pertama. Pada April 2025, ia mengaku telah menghapus TikTok dan Instagram karena kolom komentar. Dalam wawancara dengan podcast Los Culturistas, ia menjelaskan, "Jika saya ingin melindungi jiwa kreatif saya, karena saya sedang menulis sekarang, saya harus membangun medan kekuatan di sekelilingnya." Ia menambahkan bahwa membaca komentar adalah jaminan untuk memiliki hari yang buruk.
Fenomena ini juga relevan di Indonesia, di mana banyak musisi dan kreator konten mengandalkan Instagram, TikTok, dan YouTube untuk membangun karier. Tekanan untuk selalu tampil sempurna dan responsif terhadap penggemar sering kali berbenturan dengan kebutuhan akan ruang pribadi. Beberapa artis Tanah Air, seperti penyanyi dan komika, pernah mengambil jeda dari media sosial karena alasan serupa. Namun, tidak semua memiliki daya tawar seperti Roan yang sudah memiliki basis penggemar kuat dan dukungan industri.
Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, dr. Rani Kusuma, M.Psi., keputusan untuk menghapus media sosial secara berkala bisa menjadi strategi sehat untuk menjaga keseimbangan mental. "Namun, bagi mereka yang menggantungkan penghasilan dari platform tersebut, perlu ada pendampingan dan manajemen stres yang lebih terstruktur," ujarnya. Ia menambahkan bahwa industri hiburan perlu menciptakan ekosistem yang lebih suportif bagi artis untuk bisa "bernapas" tanpa kehilangan momentum.
Roan sendiri mengakui bahwa memisahkan antara media sosial, pekerjaan, dan menjadi pribadi yang baik adalah medan yang sulit. "Ini dunia yang sangat sulit untuk dinavigasi. Secara pribadi, jika saya hapus dan terus bergerak, saya bisa keluar dari badai itu," katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa bagi artis yang benar-benar bergantung pada media sosial untuk menjaga momentum, situasinya bisa terasa sangat putus asa.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah industri musik global—dan khususnya Indonesia—siap memberikan ruang bagi artis untuk memilih kapan harus terhubung dan kapan harus menarik diri? Ataukah tekanan untuk selalu "ada" akan terus mengorbankan kesehatan mental para kreator?



