Perempuan di Garda Terdepan: Kisah Perlawanan Lingkungan dari Sumatera hingga Papua
Baca dalam 60 detik
- Perempuan adat dan komunitas di berbagai daerah Indonesia memimpin aksi nyata menjaga lingkungan, mulai dari pengelolaan hutan komunal hingga permakultur pesisir.
- Di tengah tekanan industri ekstraktif dan perubahan iklim, mereka mengembangkan solusi berbasis kearifan lokal yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
- Gerakan ini menyoroti urgensi pengakuan peran perempuan dalam kebijakan lingkungan, mengingat mereka adalah kelompok yang paling terdampak krisis ekologis.

Di tengah deru ekspansi industri ekstraktif dan ancaman perubahan iklim, perempuan-perempuan Indonesia dari Sumatera hingga Papua justru tampil sebagai benteng terdepan dalam menjaga lingkungan dan kearifan lokal. Mereka tidak hanya merawat hutan dan sumber daya alam, tetapi juga menciptakan inovasi pangan serta energi terbarukan yang langsung dirasakan komunitasnya. Namun, ironisnya, suara mereka kerap terpinggirkan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut ruang hidup mereka sendiri.
Sejumlah inisiatif akar rumput menunjukkan bagaimana perempuan mengambil alih peran kunci di saat negara dan pasar gagal melindungi ekosistem. Dari hutan adat di Jambi hingga pesisir Sulawesi Selatan, mereka membuktikan bahwa ketahanan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat bisa berjalan beriringan. Data dari Indonesian Journal of Conservation (Marhaeni, 2012) menegaskan bahwa perjuangan perempuan Indonesia tidak hanya berwujud protes, melainkan juga aksi nyata dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Salah satu contoh paling gamblang datang dari Suku Batin Sembilan di Jambi. Perempuan-perempuan dari komunitas ini, melalui KTH Maju Besamo, mengelola 399 hektare hutan secara komunal. Hutan itu mereka sebut sebagai "apotek hidup" yang menyediakan obat-obatan tradisional dan sumber pangan. Inisiatif ini lahir dari kekhawatiran akan menyempitnya ruang hutan akibat perambahan dan perubahan pola hidup. Dengan menjaga hutan, mereka juga mewariskan pengetahuan ekologis kepada generasi muda.
Di ujung timur Indonesia, tepatnya di Papua Selatan, hadir Girls and Women in Renewable Energy Academy (GAWIREA). Komunitas ini memberdayakan anak perempuan dan perempuan pedesaan melalui pelatihan energi terbarukan, seperti panel surya dan biomassa. Mereka tidak hanya belajar menghasilkan listrik bersih, tetapi juga membangun rumah sagu dengan mesin bertenaga surya. Harapannya, inisiatif ini bisa mengembalikan anak-anak perempuan yang putus sekolah akibat ketimpangan akses pendidikan.
Sementara itu, di Sulawesi Selatan, 18 perempuan Desa Bontomanai mengikuti Sekolah Lapang Permakultur. Mereka memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dengan pupuk dari kotoran ternak, menciptakan siklus pangan mandiri. Langkah ini menjadi jawaban atas krisis iklim yang mengancam ketahanan pangan warga pesisir. Di Malang, Kelompok Perempuan Tani (KPT) Desa Sananrejo mengelola kebun gizi seluas 2.000 meter persegi untuk memerangi stunting. Mereka menyediakan paket sayuran gratis bagi ibu hamil dan balita, yang berhasil menurunkan angka tengkes secara signifikan dalam lima tahun terakhir.
Di Halmahera Timur, perempuan Maba Sangaji menjadi simbol perlawanan saat suami mereka ditangkap karena menolak tambang nikel PT Position. Pencemaran sungai akibat tambang telah merusak sumber ekonomi warga. Tak gentar, Kelompok Perjuangan Perempuan Maba mengolah sagu sebagai pangan lokal dan memasarkannya untuk menopang ekonomi keluarga. "Keberanian adalah modal utama," demikian keyakinan mereka. Mereka menjadi benteng terakhir dalam menjaga kedaulatan pangan dan tanah adat.
Kisah-kisah ini memperlihatkan bahwa perempuan Indonesia tidak sekadar menjadi korban krisis lingkungan, melainkan aktor utama dalam solusi. Mereka mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi sederhana, dari permakultur hingga energi surya. Namun, tanpa pengakuan dan keterlibatan dalam kebijakan, upaya mereka berisiko tetap berada di pinggiran. Pertanyaannya kini: mampukah negara dan sektor swasta belajar dari gerakan akar rumput ini untuk merumuskan kebijakan lingkungan yang lebih inklusif?



