Kansai Airport Selesaikan Renovasi Besar Pertama, Bidik Lonjakan Turis Internasional
Baca dalam 60 detik
- Bandara Kansai di Osaka rampungkan perluasan area internasional 60% jadi 16.000 mΒ², dengan tambahan jembatan keberangkatan dan gerai makan.
- Operator bandara menggeser fokus dari domestik ke internasional seiring turunnya penumpang rute dalam negeri akibat persaingan dengan Bandara Itami.
- Risiko geopolitik seperti ketegangan Jepang-China dan pengalaman pandemi menjadi catatan di balik optimisme peningkatan pendapatan.

Bandara Internasional Kansai di Osaka, Jepang, akhirnya merampungkan proyek renovasi besar pertamanya sejak beroperasi pada 1994. Area keberangkatan internasional diperluas hingga 60 persen menjadi 16.000 meter persegi, sementara jumlah jembatan penghubung untuk penerbangan luar negeri bertambah dari 34 menjadi 40. Langkah ini diambil operator bandara, Kansai Airports, untuk memanfaatkan gelombang kunjungan wisatawan asing yang terus meningkat pascapandemi.
Dalam proyek yang memakan waktu lima tahun itu, Kansai Airports juga menambah jumlah restoran di area keberangkatan internasional dari sebelumnya hanya beberapa menjadi 17 gerai. Tata letak toko bebas bea pun diubah dengan memusatkannya di area tengah untuk menarik lebih banyak pengunjung. Selain itu, area imigrasi baru dan pos pemeriksaan keamanan tambahan dibangun guna mempercepat proses keberangkatan.
Perubahan ini mencerminkan strategi operator untuk menggeser fokus dari rute domestik ke internasional. Pasalnya, jumlah pengguna penerbangan dalam negeri di Kansai terus menurun akibat persaingan ketat dengan Bandara Itami yang juga melayani wilayah Osaka. Sebaliknya, permintaan perjalanan internasional melonjak, didorong oleh pemulihan pariwisata global dan kebijakan visa yang lebih longgar di Jepang.
Seorang eksekutif Kansai Airports menyatakan bahwa perusahaan berharap dapat meningkatkan laba dengan memperpanjang waktu tinggal penumpang di bandara. Semakin lama penumpang berada di area keberangkatan, semakin besar peluang belanja dan konsumsi di gerai-gerai yang tersedia. Namun, strategi ini tidak lepas dari risiko. Ketergantungan yang lebih besar pada lalu lintas internasional membuat bandara lebih rentan terhadap gejolak global.
Pandemi COVID-19 menjadi contoh nyata: Kansai Airports mencatat kerugian tiga tahun berturut-turut sejak tahun fiskal 2020 akibat pembatalan penerbangan dan pengurangan layanan. Lebih baru, memburuknya hubungan Jepang-China menyebabkan penurunan tajam jumlah pelancong dari dan ke China, yang sebelumnya merupakan salah satu pasar terbesar bagi Kansai.
Bagi Indonesia, perkembangan ini relevan mengingat banyak wisatawan Indonesia yang menggunakan Kansai sebagai pintu masuk ke Jepang bagian barat. Dengan perluasan area dan peningkatan fasilitas, pengalaman transit di bandara tersebut diharapkan semakin nyaman. Namun, fluktuasi hubungan bilateral Jepang-China juga dapat berdampak tidak langsung pada ketersediaan penerbangan dan harga tiket bagi pelancong Indonesia.
Ke depan, Kansai Airports harus mampu menyeimbangkan ambisi pertumbuhan dengan mitigasi risiko eksternal. Akankah bandara buatan di teluk Osaka ini berhasil mempertahankan daya tariknya di tengah persaingan ketat bandara-bandara Asia lainnya? Jawabannya akan bergantung pada sejauh mana operator mampu beradaptasi dengan perubahan pola perjalanan dan dinamika geopolitik kawasan.



