Kim Petras Buka Suara soal Sulitnya Cari Pasangan yang Mau Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi pop Kim Petras mengaku jarang bertemu pria yang bersedia menjalin hubungan secara terbuka dengannya.
- Pengalaman tersebut diangkat dalam album terbarunya 'Detour', termasuk lagu yang menyoroti kerahasiaan dalam hubungan.
- Bagi publik Indonesia, kisah Kim mencerminkan perjuangan individu transgender dalam mencari penerimaan sosial, termasuk dalam percintaan.

Penyanyi pop asal Jerman, Kim Petras, mengungkapkan bahwa ia jarang menemukan pria yang mau menjalin hubungan secara terbuka dengannya. Dalam wawancara dengan Stereogum, pelantun 'Unholy' itu menceritakan pengalaman pahitnya di dunia percintaan, di mana banyak pria justru memilih menyembunyikan hubungan mereka.
Kim, yang mulai mengidentifikasi diri sebagai perempuan sejak usia dua tahun dan menjalani terapi hormon di usia 12 tahun, dikenal sebagai salah satu artis transgender paling sukses di industri musik. Namun, popularitasnya tidak serta-merta membuat kehidupan asmaranya mudah. "Dalam pengalaman kencan saya, saya jarang bertemu pria yang secara terbuka ingin berkencan dengan saya. Itu selalu seperti rahasia," ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi inspirasi dalam album terbarunya, 'Detour'. Kim secara khusus menyebut lagu '101' sebagai representasi dari perjalanannya menerima diri sendiri. "Saya suka lagu itu karena mengingatkan saya pada versi lama dan versi baru dari diri saya," tambahnya. Album ini juga mengeksplorasi tema hubungan dengan atlet, yang menurutnya memiliki nuansa "tertutup" dan penuh ketegangan.
Dalam wawancara yang sama, Kim juga berbicara tentang kecenderungannya untuk terus berubah dan menciptakan persona baru. "Saya orang yang cukup pemalu, dan musik memungkinkan saya untuk menjalani bagian dari diri saya yang mungkin terlalu saya takuti untuk dijalani di kehidupan nyata," jelasnya. Ia menekankan pentingnya reinvensi dan fluiditas identitas, terutama di industri pop yang kerap menuntut citra yang konsisten.
Fenomena yang dialami Kim Petras tidak hanya terjadi di industri hiburan global, tetapi juga relevan dengan konteks Indonesia. Di tanah air, individu transgender masih menghadapi stigma sosial yang kuat, termasuk dalam hal hubungan asmara. Banyak dari mereka yang memilih untuk tidak mengungkapkan identitasnya karena takut akan diskriminasi. Kisah Kim menjadi pengingat bahwa bahkan di negara yang relatif lebih liberal sekalipun, penerimaan terhadap hubungan transgender masih menjadi tantangan.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah: akankah industri musik dan masyarakat luas semakin terbuka terhadap keragaman identitas gender? Ataukah kisah Kim Petras hanyalah satu dari sekian banyak cerita yang masih harus diperjuangkan? Yang jelas, dengan album 'Detour', Kim tidak hanya menawarkan musik, tetapi juga sebuah pernyataan tentang hak untuk dicintai secara terbuka.



