Dabbawala Mumbai: Warisan Logistik Ratusan Tahun yang Kini Terancam Punah
Baca dalam 60 detik
- Jumlah dabbawala di Mumbai merosot dari 4.500 menjadi 1.500 orang pascapandemi, akibat kerja jarak jauh dan aplikasi pesan-antar makanan.
- Sistem pengiriman kotak makan siang yang pernah dipelajari Harvard ini kini kehilangan daya saing karena biaya hidup dan perubahan pola konsumsi.
- Asosiasi dabbawala tengah menjajaki sistem kerja shift untuk mempertahankan tradisi, namun masa depan model bisnis ini masih belum jelas.

Mumbai, kota dengan denyut nadi paling cepat di India, kehilangan salah satu ikon ketepatannya: para dabbawala yang selama lebih dari seabad mengantarkan kotak makan siang buatan rumah ke kantor-kantor di pusat kota. Kini, jumlah mereka menyusut drastis, dan yang bertahan harus merangkap pekerjaan lain untuk tetap hidup.
Setiap pagi, ribuan pria berseragam putih dengan topi khas berjejer di stasiun kereta pinggiran Mumbai, menumpuk kotak baja bertumpuk tinggi di atas sepeda. Mereka menaikkan kotak-kotak itu ke gerbong, menyebrangi kota, lalu berjalan kaki atau naik sepeda untuk mengantarkan nasi, dal, sayur kari, dan roti ke meja para pekerja kantoran. Sistem yang sama berjalan mundur pada siang hari: mengumpulkan kotak kosong dan mengembalikannya ke dapur asal. Tanpa aplikasi, tanpa GPS, hanya mengandalkan kode alfanumerik yang diwariskan turun-temurun.
Keajaiban logistik ini pernah dipelajari Harvard Business School sebagai contoh efisiensi biaya rendah. Pada 2003, Pangeran Charles (kini Raja Charles III) bahkan menyempatkan diri bergabung dengan mereka. Namun, pandemi Covid-19 menjadi titik balik. Saat kantor tutup dan kerja dari rumah menjadi kebiasaan baru, permintaan layanan dabbawala runtuh. Sekretaris Asosiasi Pemasok Kotak Makan Siang Mumbai, Kiran Gavande, mengatakan bahwa banyak pekerja kini hanya datang ke kantor dua atau tiga hari seminggu. Dampaknya, jumlah dabbawala terdaftar merosot dari sekitar 4.500 pada 2018 menjadi hanya 1.500 orang saat ini.
Tak hanya pandemi, perubahan gaya hidup warga Mumbai turut mempercepat kemerosotan ini. Aplikasi pesan-antar makanan seperti Swiggy dan Zomato, ditambah menjamurnya cloud kitchen, menawarkan beragam pilihan dari biryani hingga burger dengan harga terjangkau. Dabbawala yang dulu hampir tanpa pesaing kini harus bersaing dengan layanan digital yang hanya perlu satu sentuhan layar. Balu Bhagu Shinde, yang 20 tahun menjadi dabbawala, terpaksa beralih profesi menjadi pengemudi tuktuk setelah pelanggannya menyusut dari 20 orang menjadi hanya dua pada akhir 2020. Kini ia berpenghasilan sekitar 15.000 rupee per bulan, lebih rendah dari sebelumnya, dan kerap berutang untuk biaya sekolah ketiga anaknya.
Mauli Bachche, dabbawala berusia 40 tahun, masih bertahan namun harus bekerja dua pekerjaan. Ia memulai hari pukul 07.00, mengumpulkan kotak dari rumah-rumah, naik kereta, menyelesaikan pengiriman, lalu pada pukul 14.00 memulai siklus pengembalian. Setelah itu, ia bekerja paruh waktu menagih tabungan harian dari para pedagang hingga pukul 22.00. Total perjalanannya melebihi 100 kilometer per hari. "Sebelum Covid, saya mengirim 25 kotak. Sekarang hanya 15," ujarnya. "Penghasilan dari dabbawala sangat rendah. Semua orang punya pekerjaan tambahan."
Kekhawatiran terbesar justru datang dari generasi senior. Baban Kadam, yang telah 35 tahun menjadi dabbawala, mengatakan bahwa generasi muda tidak akan tertarik meneruskan profesi ini. "Biaya hidup sekarang terlalu tinggi. Semua orang ingin pekerjaan atau bisnis yang lebih menguntungkan," katanya. Ramdas Baban Karvande, presiden asosiasi, mengakui bahwa jaringan pengiriman tidak lagi menjangkau seluruh bagian kota seperti dulu. Asosiasi tengah mempertimbangkan sistem kerja shift agar para dabbawala bisa bekerja paruh waktu di samping pengiriman pagi. Namun, ia sendiri ragu apakah sistem ini bisa bertahan lama. "Kami terus berjalan untuk saat ini, tapi tidak bisa mengatakan apa yang akan terjadi di masa depan," ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah dabbawala menjadi cermin bagi sektor informal yang mengandalkan model bisnis tradisional. Di tengah penetrasi aplikasi pesan-antar seperti GoFood dan GrabFood, para penjaja makanan keliling atau jasa antar nasi bungkus di kota-kota besar Tanah Air menghadapi tekanan serupa. Pertanyaannya, akankah inovasi dan adaptasi mampu menyelamatkan warisan logistik yang telah berusia lebih dari satu abad ini, atau justru akan tergerus oleh arus digitalisasi yang tak terbendung?



