Yadnya Kasada: Ritual Syukur Suku Tengger di Kawah Bromo yang Terus Dilestarikan
Baca dalam 60 detik
- Ribuan warga Tengger menggelar Yadnya Kasada di Gunung Bromo, ritual tahunan yang memadukan doa dan persembahan ke kawah sebagai wujud syukur.
- Upacara yang jatuh pada tanggal 14 bulan Kasada dalam kalender tradisional ini telah diakui sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.
- Tradisi melarung sesaji ke kawah Bromo menjadi puncak ritual, mencerminkan harmoni antara kepercayaan lokal dan alam.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7524381/original/044814300_1780297507-1.jpg)
Ribuan warga Suku Tengger dari berbagai desa di kaki Gunung Bromo, Jawa Timur, kembali menggelar upacara Yadnya Kasada pada Minggu, 31 Mei 2026, sebuah ritual tahunan yang memadukan doa, persembahan, dan penghormatan kepada Sang Hyang Widhi di kawah gunung berapi yang masih aktif itu.
Yadnya Kasada merupakan ritual keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 14 bulan Kasada dalam penanggalan kalender tradisional Tengger. Upacara ini menjadi momen penting bagi masyarakat Tengger untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkah dan keselamatan yang telah diberikan. Prosesi dimulai dengan persiapan sesaji berupa sayuran, buah-buahan, dan hewan ternak yang dibawa oleh warga dari berbagai penjuru.
Dalam dokumentasi foto yang diabadikan oleh AFP, terlihat warga desa Ngadisari sibuk menyiapkan persembahan di kaki Gunung Bromo. Sejumlah pria bahkan terlihat membawa kambing saat mendaki Bukit Widodaren, sebuah bukit di kawasan tersebut, sebagai bagian dari persembahan. Suasana khidmat menyelimuti area sekitar kawah saat para Dukun Tengger memimpin doa bersama sebelum puncak acara: melabuh atau melarung sesaji ke dalam kawah Bromo.
Bagi masyarakat Tengger, Yadnya Kasada bukan sekadar seremoni tahunan. Ritual ini merupakan ekspresi iman yang telah diwariskan secara turun-temurun, mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. Menurut para tetua adat, upacara ini juga menjadi pengingat akan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. "Kami percaya, dengan memberikan persembahan terbaik, gunung akan tetap tenang dan memberi berkah," ujar seorang Dukun Tengger yang memimpin doa, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Konteks Indonesia: Di tengah modernisasi dan tekanan pariwisata massal di kawasan Bromo, Yadnya Kasada tetap dijalankan dengan khidmat. Pemerintah daerah setempat, melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, terus mendukung pelestarian ritual ini sebagai bagian dari identitas budaya Jawa Timur. Namun, tantangan tetap ada, seperti perubahan iklim yang memengaruhi pola pertanian warga dan potensi erupsi gunung yang selalu mengintai. Meski demikian, semangat gotong royong dan ketaatan beragama membuat tradisi ini tetap relevan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana generasi muda Tengger akan mempertahankan esensi ritual ini di tengah arus globalisasi. Apakah Yadnya Kasada akan terus bertahan sebagai ritual sakral, atau perlahan bergeser menjadi atraksi wisata semata? Hingga kini, masyarakat Tengger membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan tanpa kehilangan makna.



