Bennacer Putus Kontrak dengan Milan, Gelandang Algeria Berlabuh ke Klub Qatar
Baca dalam 60 detik
- Ismael Bennacer secara resmi memutus kontrak dengan AC Milan setelah cedera lutut parah mengikis posisinya di skuad utama.
- Eks pemain andalan Scudetto 2021/22 itu akan bergabung dengan Al-Gharafa di Liga Qatar, meninggalkan sisa kontrak satu tahun.
- Langkah ini mengakhiri perjalanan Bennacer di Eropa dan menandai babak baru di Timur Tengah yang sarat dengan daya tarik finansial.

Ismael Bennacer resmi memutus kontraknya dengan AC Milan, membuka jalan bagi gelandang asal Algeria itu untuk bergabung dengan Al-Gharafa SC di Liga Qatar. Keputusan ini diambil setelah sang pemain mengalami masa sulit pasca-cedera dan gagal merebut kembali tempat reguler di San Siro.
Bennacer bergabung dengan Milan pada 2019 dan total mencatatkan 178 penampilan kompetitif untuk Rossoneri. Namun, ia tidak lagi tampil untuk klub sejak musim 2024/25 setelah cedera lutut serius yang dideritanya pada akhir musim 2022/23. Sebelum cedera, ia menjadi bagian krusial saat Milan merebut Scudetto 2021/22 dengan 31 penampilan liga.
Setelah cedera, Bennacer dipinjamkan ke Marseille di Ligue 1 dan kemudian ke Dinamo Zagreb di Kroasia, namun performanya tak kunjung pulih seperti sedia kala. Kontraknya dengan Milan sebenarnya masih tersisa hingga akhir musim 2026/27, tetapi kedua pihak sepakat untuk mengakhiri kerja sama lebih awal.
Menurut laporan Gianluca Di Marzio, Bennacer telah menandatangani kontrak dengan Al-Gharafa dan akan segera bergabung dengan tim asal Qatar tersebut. Langkah ini menjadi tren baru bagi pemain Eropa yang memilih petualangan di Timur Tengah, baik karena faktor finansial maupun menit bermain.
Di tengah maraknya perpindahan pemain Eropa ke Asia, keputusan Bennacer menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia untuk lebih jeli memantau pasar pemain yang mulai kehilangan tempat di Eropa. Meski belum ada pemain Indonesia yang menembus level Bennacer, mobilitas pemain seperti ini bisa menjadi tolok ukur bagi pengembangan sepak bola nasional.
Ke depan, publik sepak bola akan menyaksikan apakah Bennacer mampu bangkit di lingkungan baru. Pertanyaan besarnya, dapatkah ia mengembalikan level permainannya di kompetisi yang lebih rendah tekanannya? Atau justru langkah ini akan menguburnya dari sorotan Eropa selamanya? Hanya waktu yang bisa menjawab.



