Mitsubishi Motors Gandeng Startup Produksi Robot Humanoid, Target Seribu Unit per Bulan pada 2027
Baca dalam 60 detik
- Mitsubishi Motors berkolaborasi dengan Highlanders untuk memproduksi massal robot humanoid bertenaga AI, menargetkan 1.000 unit per bulan pada akhir 2027.
- Robot-robot tersebut akan diuji coba di lini produksi mesin pabrik Mitsubishi di Kyoto untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.
- Langkah ini menjadikan Mitsubishi Motors sebagai pionir di Jepang dalam produksi massal robot humanoid, meskipun persaingan global dari AS dan China semakin ketat.

Mitsubishi Motors Corp. menggandeng startup asal Universitas Tokyo, Highlanders Inc., untuk memproduksi massal robot humanoid dengan kecerdasan buatan, menargetkan 1.000 unit per bulan pada akhir 2027. Langkah ini menandai ambisi perusahaan otomotif Jepang tersebut untuk menjadi pelopor di tengah maraknya pengembangan robot serupa di Amerika Serikat dan China.
Kerja sama ini diumumkan pada Juli lalu, di mana Mitsubishi Motors akan memanfaatkan keahlian manufaktur mutakhirnya untuk mengembangkan robot bersama Highlanders. Robot bipedal tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga kerja yang semakin akut di Jepang. Rencananya, robot humanoid akan diperkenalkan di lini produksi mesin pabrik Mitsubishi di Kyoto, untuk mengumpulkan data yang diperlukan bagi pengembangan dan produksi massal robot khusus perakitan mobil.
CEO Mitsubishi Motors, Takao Kato, dalam konferensi pers di Tokyo menyatakan, "Di Jepang, kami menjadi 'pemukul pertama' dalam produksi massal robot humanoid." Ia menambahkan bahwa perusahaan masih mempertimbangkan cara penggunaan robot secara praktis sambil mengevaluasi kinerjanya. Sementara itu, CEO Highlanders, Hiroya Masuoka, mengakui bahwa belum ada perusahaan Jepang yang mampu bersaing dengan raksasa global di bidang kecerdasan buatan fisik (physical AI), namun ia optimistis langkah ini menjadi terobosan.
Bagi Indonesia, kerja sama ini menyiratkan potensi adopsi teknologi serupa di masa depan. Sebagai negara dengan industri otomotif yang berkembang dan ketergantungan pada investasi Jepang, Indonesia bisa menjadi pasar potensial bagi robot humanoid untuk mengatasi tantangan produktivitas dan kekurangan tenaga kerja terampil. Mitsubishi Motors sendiri memiliki pabrik di Indonesia, sehingga uji coba di Kyoto bisa menjadi model bagi penerapan di Tanah Air jika terbukti efisien.
Namun, tantangan tetap ada. Biaya produksi robot humanoid yang tinggi dan kebutuhan adaptasi dengan kondisi lokal menjadi hambatan. Selain itu, persaingan global dari perusahaan AS seperti Tesla dan China seperti Xiaomi terus memacu inovasi. Pertanyaan selanjutnya, akankah langkah Mitsubishi ini menjadi katalis bagi Indonesia untuk mempercepat otomatisasi di sektor manufaktur, atau justru hanya akan memperlebar kesenjangan teknologi regional?



