Rafael Nadal: Antara Penderitaan Kronis dan 22 Gelar Grand Slam
Baca dalam 60 detik
- Rafael Nadal mengungkapkan bahwa ia bermain dengan cedera kaki kronis (Mueller-Weiss syndrome) sepanjang kariernya, yang memaksanya mengambil risiko kesehatan ekstrem.
- Tanpa pengobatan agresif dan injeksi anestesi, Nadal memperkirakan gelar Grand Slam-nya bisa berkurang 10-12, bukan sekadar satu atau dua.
- Tekanan mental yang luar biasa membuatnya mengalami gangguan kecemasan hingga harus berkonsultasi dengan psikiater, sebelum akhirnya menemukan keseimbangan dengan pelatih baru.

Rafael Nadal, petenis Spanyol yang pensiun pada 2024 dengan 22 gelar Grand Slam, mengakui bahwa hampir seluruh kariernya dijalani dalam penderitaan fisik dan mental. Dalam serial Netflix terbaru, ia mengungkapkan bahwa cedera kaki kronis yang dideritanya sejak 2005—saat pertama kali menjuarai Prancis Terbuka—adalah akar dari segala masalah. Tanpa langkah-langkah berisiko tinggi, Nadal yakin ia tak akan pernah mencapai puncak tenis dunia.
Kondisi langka bernama Mueller-Weiss syndrome, yang didiagnosis setelah ia patah tulang kaki kiri di Madrid Open 2005, membuat tulang kaki Nadal mengalami degenerasi. Dokter spesialis Ernesto Maceira menyebut penyebabnya adalah tekanan abnormal pada tulang yang belum matang akibat latihan intensif sejak kecil. Untuk tetap bisa bertanding, Nadal menggunakan sol khusus yang dirancang Maceira, meski harus hidup dalam nyeri konstan. "Tenis menjadi perlombaan melawan waktu," ujarnya. "Saya selalu bertanya-tanya, berapa lama kaki ini bisa bertahan?"
Konsekuensi dari sol khusus itu tak main-main. Pada 2012, Nadal harus mundur dari Olimpiade London dan AS Terbuka karena tendinitis lutut kiri. "Lutut saya hancur. Tendonnya bolong," katanya. Untuk tetap kompetitif, ia kerap menggunakan obat bius dan antiinflamasi dalam dosis besar. Pada 2013, ia nekat bermain di Indian Wells melawan saran dokter, menyuntikkan anestesi ke lutut, dan malah memenangkan turnamen. Namun, kebiasaan itu meninggalkan bekas: dua lubang kecil di ususnya akibat terlalu banyak obat pereda nyeri.
Puncak pengorbanan terjadi di Prancis Terbuka 2022. Rasa sakit di kakinya begitu hebat hingga ia meminta dokter Angel Ruiz-Cotorro untuk mematikan saraf sensorik dengan suntikan anestesi. Tanpa rasa di kaki, ia justru memenangkan gelar Roland Garros ke-14—yang terakhir dalam kariernya. Legenda John McEnroe pun tercengang: "Dia tidak merasakan kakinya dan tetap menang? Apa selanjutnya, dia main pakai penutup mata?"
Di luar fisik, tekanan mental juga menghantuinya. Didikan keras pamannya, Toni Nadal, yang sejak kecil melarangnya minum selama latihan dan memaksanya bermain meski jari patah, membentuk mental baja namun juga menyisakan trauma. Nadal mengaku pernah mengalami gangguan kecemasan parah: ia tidak bisa menelan tanpa botol air di tangan, dan nyaris tersedak air liurnya sendiri. "Saya tahu itu kecemasan, tapi tak bisa menemukan solusi," kenangnya. Ia akhirnya berkonsultasi dengan psikiater yang mendiagnosis stres akibat tuntutan tinggi bertahun-tahun.
Perubahan besar terjadi pada 2016 ketika Nadal merekrut Carlos Moya, mantan petenis nomor satu dunia, sebagai pelatih. Keputusan itu secara tak langsung menggeser peran Toni. "Hubungan dengan Toni secara profesional tidak buruk, tapi mungkin kepala saya butuh mendengar pesan yang berbeda," jelas Nadal. Hasilnya, sejak 2017 hingga pensiun, ia menambah delapan gelar Grand Slam. "Saya menjalani tahun-tahun terakhir karier dengan sedikit lebih banyak rasa bebas," pungkasnya.
Kisah Nadal menjadi cermin bagi atlet muda Indonesia: bahwa kesuksesan besar seringkali harus dibayar dengan pengorbanan fisik dan mental yang tak terbayangkan. Pertanyaannya, sejauh mana sistem pembinaan olahraga di Indonesia siap mendampingi atlet menghadapi risiko serupa—atau justru membiarkan mereka berjuang sendiri?



