Setahun Penantian Tanpa Jawaban: Tragedi Air India AI171 yang Tak Kunjung Usai
Baca dalam 60 detik
- Keluarga korban kecelakaan Air India AI171 masih bergulat dengan duka dan ketidakpastian menjelang rilis laporan akhir investigasi.
- Proses panjang investigasi kecelakaan penerbangan dianggap menambah beban psikologis, terutama bagi keluarga yang kehilangan anggota tercinta.
- Sebuah pesan suara dari korban sebelum kecelakaan menjadi penyejuk hati bagi keluarga, memberi makna di tengah derita yang tak kunjung reda.

Hampir setahun setelah Air India Penerbangan AI171 jatuh sesaat setelah lepas landas dari Ahmedabad, keluarga para korban masih bergulat dengan luka yang tak kunjung mengering. Bagi Imtiyaz Ali, kehilangan sang kakak, Javed, serta ipar dan dua keponakannya dalam tragedi yang merenggut 241 nyawa itu bukan sekadar peristiwa, melainkan lubang hitam yang terus menganga dalam keseharian.
Imtiyaz mengaku rumah keluarganya di Mumbai terasa berubah total. Kehadiran Javed yang dulu begitu hidup kini hanya tinggal bayang-bayang. "Rasanya Javed masih ada di sini," ujarnya lirih saat ditemui di sebuah hotel di Mumbai, seperti dikutip dari wawancara dengan BBC. Ibunya, Farida Bano, bahkan lebih gamblang: "Dia mengikuti saya ke mana pun, siang dan malam."
Laporan akhir investigasi kecelakaan yang menewaskan 241 orang itu dijadwalkan dirilis dalam beberapa pekan mendatang. Namun, bagi Farida, dokumen setebal apa pun tak akan mampu mengembalikan putra sulungnya. "Saya tidak peduli lagi dengan laporan itu. Apa laporan bisa mengembalikan anak saya?" katanya dengan nada pasrah.
Keluarga Ali adalah cerminan dari jutaan keluarga India yang terpaut jarak karena migrasi ekonomi. Javed merantau ke Inggris untuk mencari nafkah, namun ikatan emosionalnya dengan keluarga di Mumbai tak pernah putus. Imtiyaz mengenang bagaimana ibunya dan Javed hampir setiap hari bertelepon. "Sekarang, keheningan itulah yang membunuhnya," katanya.
Proses penyampaian kabar duka kepada Farida, yang memiliki riwayat penyakit jantung, dilakukan secara bertahap. Dokter dan psikolog dikerahkan untuk menjaga kondisinya. Imtiyaz bahkan sempat berbohong, mengatakan Javed dan keluarganya selamat. Namun, insting seorang ibu tak bisa dibohongi. "Saat anak saya pergi, dia tidak menelepon saya selama dua hari. Dia tidak pernah melakukan itu," kenang Farida.
Beban psikologis yang ditanggung keluarga korban diperparah oleh lambatnya proses investigasi dan komunikasi yang dinilai tidak memadai dari Air India serta Tata Group selaku pemilik maskapai. Imtiyaz mengaku harus bolak-balik mengirim surel, menyewa pengacara, dan bahkan mendapat tekanan media agar mendapat kepastian. "Kami percaya mereka. Kami pikir mereka akan berdiri di samping kami," ujarnya kecewa.
Di tengah keputusasaan, secercah ketenangan justru datang dari sebuah pesan suara lama yang dikirim kakak perempuannya. Rekaman itu berisi suara Javed yang menceritakan mimpinya: dua malaikat datang menjemputnya dan memandikannya dengan wewangian mawar. "Saat saya bangun, saya masih bisa menciumnya," kata Javed dalam rekaman itu. Bagi Imtiyaz, pesan itu menjadi jawaban yang selama ini ia cari. "Dia sudah tenang," bisiknya.
Kisah keluarga Ali menyoroti betapa panjang dan berlikunya proses pemulihan pasca-tragedi penerbangan. Di Indonesia, kecelakaan serupa seperti jatuhnya Lion Air JT610 dan Sriwijaya Air SJ182 juga menyisakan duka mendalam serta pertanyaan yang tak kunjung terjawab tuntas. Proses investigasi yang memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, kerap menambah derita keluarga korban yang mendambakan kejelasan.
Bagi Farida Bano, tak ada laporan yang bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan Javed. Setiap senja, ia masih pergi ke makam putranya, membawa makanan kesukaannya—kari kambing, ikan goreng, atau mangga—seolah Javed masih bisa kembali. "Lihat, saya di sini, Nak. Saya datang menjengukmu," panggilnya pelan. Pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di kokpit mungkin akan terjawab oleh laporan investigasi. Namun, bagi mereka yang ditinggalkan, jawaban sejati sering kali hanya bisa ditemukan dalam keheningan dan kenangan.



