Terjun Bebas dengan Pemandangan Gunung Fuji: Akademi Penerbangan Jepang Luncurkan Layanan Skydiving
Baca dalam 60 detik
- Japan Aviation Academy menggandeng dua perusahaan untuk menyediakan layanan skydiving tandem pertama di Prefektur Yamanashi, dengan pemandangan Gunung Fuji.
- Program ini menawarkan pengalaman terjun dari ketinggian 3.700 meter dengan kecepatan hingga 200 km/jam, dibanderol mulai 99.000 yen atau sekitar Rp10 juta.
- Penyelenggara menargetkan 300 pengguna per tahun dan berencana menambah paket wisata musiman seperti penerbangan saat bunga sakura dan tur petik buah.

Sebuah akademi penerbangan di Prefektur Yamanashi, Jepang, meluncurkan layanan skydiving komersial yang memanfaatkan panorama Gunung Fuji sebagai latar utama. Layanan ini diharapkan menjadi daya tarik wisata baru sekaligus menggerakkan perekonomian lokal.
Japan Aviation Academy yang bermarkas di Kota Kai bekerja sama dengan perusahaan angkutan udara Janet Corp. dan Skydive Azul, penyedia jasa skydiving asal Prefektur Saitama. Ini adalah layanan skydiving pertama di Prefektur Yamanashi, wilayah yang dikenal dengan tingkat hari cerah yang tinggi dan pemandangan alam pegunungan yang memukau.
Peserta akan menikmati penerbangan helikopter selama sepuluh menit melintasi Kota Kofu sebelum melompat dari ketinggian sekitar 3.700 meter. Kecepatan jatuh bebas bisa mencapai 200 kilometer per jam sebelum parasut dibuka. Metode tandem digunakan, di mana instruktur terikat di belakang peserta, sehingga pemula pun bisa merasakan sensasi ini dengan aman.
Menurut Satomi Gomi dari Japan Aviation Academy, antusiasme publik melebihi ekspektasi. "Kami merencanakan ini karena Yamanashi memiliki banyak hari cerah dan lingkungan alam yang sangat menarik. Kami menerima lebih banyak pertanyaan dari yang diperkirakan dan merasakan respons yang kuat," ujarnya. Pihaknya berharap dapat mempromosikan layanan ini kepada wisatawan mancanegara yang terus meningkat dan menjadikan Yamanashi sebagai pusat skydiving.
Naoki Yamamoto, perwakilan Skydive Azul, menambahkan bahwa permintaan skydiving dengan pemandangan Gunung Fuji sangat tinggi di Jepang. "Kami berharap dapat menarik sekitar 300 pengguna per tahun," katanya. Layanan ini dibuka untuk usia 16 tahun ke atas, dan peserta dapat meminta instruktur merekam aksi mereka dengan kamera genggam.
Ke depan, penyelenggara berencana menambah program musiman seperti penerbangan saat musim semi untuk menikmati bunga sakura, serta paket wisata yang dikombinasikan dengan tur memetik buah persik dan anggur. Langkah ini menunjukkan upaya diversifikasi wisata petualangan di Jepang yang selama ini identik dengan ski dan pendakian gunung.
Bagi pelancong Indonesia yang gemar olahraga ekstrem, layanan ini bisa menjadi alternatif destinasi baru. Namun, harga yang mencapai Rp10 juta per orang mungkin masih tergolong mahal untuk sebagian besar wisatawan. Meski demikian, dengan potensi pertumbuhan jumlah wisatawan Indonesia ke Jepang yang terus meningkat, bukan tidak mungkin layanan ini akan menarik minat segmen petualang kelas menengah atas.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah inovasi serupa akan muncul di Indonesia, mengingat potensi wisata gunung dan pantai yang juga melimpah. Atau justru Jepang akan semakin kokoh sebagai destinasi wisata petualangan premium di Asia?



