Bangunan Ambruk di Filipina: 12 Tewas, Delapan Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Korban tewas akibat runtuhnya bangunan konstruksi di Angeles City, Filipina, bertambah menjadi 12 orang setelah satu jenazah ditemukan pada Senin dini hari.
- Bencana terjadi pada 24 Mei dini hari saat puluhan pekerja tertidur di dalam bangunan, yang kemudian ambruk tanpa peringatan.
- Operasi pencarian masih berlangsung untuk delapan pekerja yang belum ditemukan, memasuki hari kedelapan dengan harapan yang menipis.

Jumlah korban tewas dalam peristiwa runtuhnya sebuah gedung yang sedang dibangun di Angeles City, Provinsi Pampanga, Filipina utara, kembali bertambah. Otoritas setempat mengonfirmasi bahwa tim penyelamat menemukan satu jenazah lagi dari tumpukan puing pada Senin (1/6) dini hari, sehingga total korban jiwa menjadi 12 orang.
Bangunan tersebut ambruk pada 24 Mei lalu, sekitar pukul 03.00 waktu setempat, saat para pekerja tengah terlelap. Ratusan ton beton dan besi beton menimpa puluhan pekerja yang berada di dalam, menjadikan momen itu sebagai bencana konstruksi paling mematikan di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga hari kedelapan pencarian, setidaknya delapan orang masih dinyatakan hilang. Tim gabungan dari badan penanggulangan bencana, pemadam kebakaran, dan relawan terus berupaya menyisiri puing-puing dengan alat berat dan detektor kehidupan. Namun, peluang menemukan korban selamat semakin tipis seiring berjalannya waktu.
Peristiwa ini kembali menyoroti lemahnya pengawasan keselamatan konstruksi di Filipina, negara yang kerap dilanda gempa dan topan. Menurut para pengamat, banyak proyek bangunan di negara tersebut berjalan tanpa kepatuhan ketat terhadap standar teknis, terutama di daerah padat penduduk seperti Angeles City yang merupakan pusat bisnis dan pariwisata.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya audit keselamatan proyek konstruksi. Di Tanah Air, kasus ambruknya bangunan juga kerap terjadi, seperti runtuhnya lift tambang di Kalimantan atau robohnya jembatan di Jakarta. Otoritas Indonesia diharapkan dapat memperketat pengawasan dan memastikan setiap proyek memenuhi standar bangunan tahan gempa dan beban.
Pemerintah Filipina melalui Badan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional (NDRRMC) telah membentuk tim investigasi untuk mengusut penyebab pasti ambruknya bangunan. Sementara itu, keluarga korban menuntut transparansi dan kompensasi yang layak dari pengembang proyek.
Ke depannya, apakah insiden ini akan mendorong reformasi regulasi konstruksi di Filipina dan menjadi pelajaran bagi negara tetangga seperti Indonesia? Ataukah akan kembali tenggelam dalam rutinitas birokrasi? Yang jelas, nyawa para pekerja konstruksi tidak boleh menjadi taruhan dari kelalaian.



