Gempa Magnitudo 3,6 Guncang Halmahera Barat, Warga Diimbau Tenang
Baca dalam 60 detik
- Gempa tektonik berkekuatan M3,6 melanda perairan barat laut Halmahera Barat pada Jumat pagi, dengan pusat di kedalaman dangkal 14 km.
- BMKG memastikan gempa tidak berpotensi tsunami, namun mengingatkan risiko gempa susulan mengingat aktivitas seismik di wilayah Maluku Utara yang tergolong tinggi.
- Masyarakat pesisir diminta tetap waspada terhadap bangunan retak pasca-gempa, meski guncangan dirasakan ringan dan belum ada laporan kerusakan berarti.
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,6 mengguncang wilayah perairan barat laut Halmahera Barat, Maluku Utara, pada Jumat (29/5/2026) pukul 06.04 WIB, mengagetkan sebagian warga yang tengah bersiap memulai aktivitas pagi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Menurut rilis resmi BMKG, episenter gempa terletak pada koordinat 2,07 Lintang Utara dan 126,63 Bujur Timur, tepatnya 133 kilometer barat laut Halmahera Barat. Dengan kedalaman hiposenter hanya 14 kilometer, gempa ini tergolong dangkal dan getarannya sempat dirasakan oleh sebagian penduduk di pesisir barat Halmahera. BMKG mencatat guncangan berada pada skala II hingga III MMI (Modified Mercalli Intensity), artinya getaran dirasakan nyata oleh beberapa orang dan benda ringan yang digantung bergoyang.
Wilayah Maluku Utara memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di pertemuan lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifik. Sepanjang tahun 2026, BMKG mencatat setidaknya 15 gempa dengan magnitudo di atas 3,0 di sekitar Halmahera, menjadikannya salah satu zona dengan aktivitas seismik tertinggi di Indonesia timur. Meski gempa kali ini berskala kecil, para ahli mengingatkan bahwa gempa dangkal kerap memicu keretakan bangunan yang tidak terlihat, terutama di pemukiman padat.
BMKG dalam pernyataan resminya menekankan bahwa informasi yang disampaikan masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan data. βHasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data,β tulis BMKG melalui akun media sosialnya. Sikap hati-hati ini penting mengingat karakteristik gempa dangkal yang seringkali diikuti oleh rangkaian gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di wilayah rawan gempa seperti Maluku Utara, kejadian ini menjadi pengingat untuk selalu siap siaga. Pemerintah daerah bersama BPBD setempat diimbau untuk segera melakukan asesmen cepat terhadap infrastruktur publik dan permukiman, terutama sekolah dan puskesmas. Belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan berarti hingga berita ini diturunkan, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi tanah longsor di daerah perbukitan pesisir.
Ke depan, frekuensi gempa kecil seperti ini diperkirakan masih akan terjadi mengingat siklus seismik di kawasan tersebut. Masyarakat diharapkan tidak panik namun tetap mengikuti arahan resmi dari BMKG dan aparat setempat. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa siap infrastruktur dan sistem peringatan dini di Maluku Utara menghadapi gempa yang lebih besar?



