Endrick: Bintang Muda Brasil yang Siap Mengguncang Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Penyerang 19 tahun itu mencatat rekor sebagai pencetak gol termuda Real Madrid di La Liga dan Liga Champions sebelum menjalani masa peminjaman gemilang di Lyon.
- Setelah melalui cedera dan persaingan ketat, Endrick berhasil merebut kembali tempatnya di skuad utama Brasil dan diproyeksikan menjadi ujung tombak tim Samba di Amerika Utara.
- Para legenda seperti Ronaldo dan Romario memuji ketajaman serta mentalitas Endrick, yang dinilai mampu menjadi pembeda di turnamen akbar tahun depan.
Di tengah hiruk-pikuk persiapan menuju Piala Dunia 2026, Brasil kembali memiliki senjata rahasia yang membuat suporter dan analis bergidik ngeri: Endrick, remaja 19 tahun yang sudah memecahkan rekor di Eropa dan membuktikan diri sebagai pembunuh berdarah dingin di momen krusial.
Perjalanan Endrick ke panggung terbesar sepak bola dimulai dari Palmeiras, klub tempat ia lahir secara sepak bola. Pada November 2023, saat masih berusia 17 tahun, ia menjadi pahlawan comeback epik saat timnya tertinggal 3-0 dari Botafogo. Dua golnya membalikkan keadaan menjadi 4-3 dan mengantar Palmeiras merebut gelar liga. Momen itu menegaskan bahwa Endrick bukan sekadar talenta muda biasa, melainkan pemain yang lahir untuk panggung besar.
Debutnya di tim senior Brasil segera terwujud. Ia masuk sebagai pemain pengganti melawan Kolombia dan menjadi salah satu pemain termuda yang pernah membela Seleção, hanya kalah dari Pelé, Edu, dan Philippe Coutinho. Tak berhenti di situ, ia mencetak gol kemenangan ke gawang Inggris di Wembley, menjebol gawang Spanyol di Madrid, dan kembali menjadi pahlawan dengan gol penentu kemenangan atas Meksiko. Rentetan penampilan impresif itu membuatnya dilirik Real Madrid.
Kepindahan ke Santiago Bernabéu pada Juli 2024 diwarnai tangis haru suporter Palmeiras. Namun, Endrick tak butuh waktu lama untuk membayar kepercayaan. Dalam debut singkatnya melawan Real Valladolid, ia mencetak gol dan menjadi pencetak gol termuda asing Real Madrid di La Liga (18 tahun 35 hari). Rekor lain menyusul: golnya ke gawang Stuttgart menjadikannya pencetak gol termuda Real Madrid di Liga Champions, menggeser catatan Raúl González yang bertahan sejak 1995.
Namun, musim 2025 menjadi ujian berat. Cedera menghambat perkembangannya, dan menit bermain di bawah Carlo Ancelotti semakin terbatas. Sadar bahwa tempat di skuad Piala Dunia terancam, Endrick memilih dipinjamkan ke Lyon selama enam bulan. Keputusan itu terbukti tepat. Di Prancis, ia menjelma menjadi bintang dengan torehan delapan gol dan delapan assist dalam 21 laga, sekaligus merebut kembali hati pelatih timnas Brasil.
Para legenda Brasil pun angkat bicara. Ronaldo, pencetak gol terbanyak Brasil di Piala Dunia, menyebut Endrick sebagai penyerang berbakat yang akan semakin matang di Real Madrid. Romario, pemenang Piala Dunia 1994, bahkan menyatakan bahwa Endrick mungkin adalah striker murni terbaik Brasil saat ini. Cafu, kapten tim juara dunia 1994 dan 2002, memuji ketidakgentaran Endrick saat mengenakan jersey Seleção. “Dia memakai seragam Brasil tanpa rasa takut; dia tidak merasakan bebannya,” ujar Cafu.
Dalam wawancara perpisahannya dengan Lyon, Endrick melontarkan pernyataan yang mencerminkan kedewasaan mentalnya: “Di Brasil, ketika seseorang mengalami masa sulit, orang sering berkata mereka harus ‘membunuh singa setiap hari’. Saya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan atlet mana pun, tapi saya memutuskan untuk tidak membunuh singa – saya memilih menjadi singa.”
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Endrick menjadi pengingat bahwa regenerasi pemain Brasil berjalan tanpa henti. Dengan jadwal Brasil di Grup F melawan Maroko, Haiti, dan Skotlandia, Endrick berpotensi menjadi momok bagi pertahanan lawan. Pertanyaannya, mampukah ia mengulangi jejak Ronaldo atau Romario sebagai pencetak gol terbanyak dan membawa Brasil meraih gelar keenam? Atau justru cedera dan tekanan akan menghentikan langkahnya? Hanya waktu yang akan menjawab.



