Luis Enrique dan PSG: Cetak Biru Kebangkitan Sepak Bola Italia?
Baca dalam 60 detik
- Luis Enrique, yang pernah menukangi Roma, kini sukses bersama PSG dengan pendekatan taktis yang bisa menjadi pelajaran bagi klub Serie A.
- PSG di bawah Enrique menunjukkan permainan kolektif yang agresif dan fleksibel, kontras dengan gaya bertahan yang masih dominan di Italia.
- Jika Serie A ingin kembali berjaya di Eropa, adaptasi terhadap filosofi sepak bola modern seperti yang diterapkan Enrique menjadi keniscayaan.

Luis Enrique mungkin bukan nama asing bagi penggemar sepak bola Italia—ia memulai karier kepelatihan profesionalnya di Roma pada 2011—namun pendekatan yang ia terapkan di Paris Saint-Germain (PSG) kini menjadi cermin bagi Serie A untuk menemukan jalan kembali ke puncak persaingan Eropa.
Setelah meninggalkan AS Roma dengan catatan kurang memuaskan, Enrique menjelma menjadi arsitek permainan yang disegani. Di PSG, ia tidak hanya mengelola bintang seperti Kylian Mbappé, tetapi juga membangun sistem yang menekankan penguasaan bola, tekanan tinggi, dan transisi cepat. Gaya ini, menurut analis sepak bola Eropa, adalah antitesis dari pendekatan pragmatis yang masih melekat di banyak klub Italia.
Serie A, yang pernah menjadi kiblat taktik dunia melalui catenaccio, kini kerap tertinggal dalam hal intensitas dan inovasi. Klub-klub Italia hanya sekali mencapai final Liga Champions dalam satu dekade terakhir, sementara PSG di bawah Enrique terus tampil dominan di pentas domestik dan kompetitif di Eropa. Perbandingan ini mengundang pertanyaan: apa yang bisa dipelajari Italia dari mantan pelatih Barcelona tersebut?
Menurut jurnalis sepak bola Italia, Susy Campanale, pendekatan Enrique di PSG menunjukkan bahwa sepak bola menyerang yang terorganisir bisa menjadi resep sukses. "Ia membawa fleksibilitas taktis yang jarang terlihat di Italia—kemampuan beralih dari formasi 4-3-3 ke 3-4-3 dalam satu pertandingan tanpa kehilangan koherensi," tulisnya. Hal ini kontras dengan kebanyakan pelatih Serie A yang cenderung mempertahankan satu formasi kaku.
Bagi Indonesia, pelajaran dari transformasi Enrique relevan dalam konteks pengembangan sepak bola nasional. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dan klub-klub Liga 1 sering menghadapi dilema antara hasil instan dan pembangunan filosofi jangka panjang. Model Enrique—yang membutuhkan kesabaran dan investasi pada sistem—bisa menjadi referensi bagi akademi dan pelatih lokal yang ingin melahirkan generasi pemain dengan pemahaman taktik modern.
Namun, adopsi gaya seperti Enrique bukan tanpa risiko. Serie A memiliki tradisi bertahan yang kuat, dan beberapa klub mungkin enggan meninggalkan identitas mereka. Pertanyaan besarnya: mampukah Italia keluar dari zona nyaman dan mengadopsi pendekatan yang lebih progresif, atau akan terus terjebak dalam nostalgia masa lalu?



