Keributan Suporter Sepak Bola Warnai Malam Final Liga Champions di Mandalay
Baca dalam 60 detik
- Keributan fisik antar pendukung terjadi di sebuah kedai bir di Mandalay saat menonton final Liga Champions, viral di media sosial.
- Polisi setempat mengonfirmasi insiden tersebut belum dilaporkan secara resmi, berbeda dengan keributan lain di kedai berbeda yang sudah masuk pengaduan.
- Peristiwa ini menyoroti potensi gesekan antarsuporter di tempat nonton bareng, yang juga relevan dengan fenomena serupa di Indonesia.

Keributan antar pendukung sepak bola pecah di sebuah kedai bir di Mandalay, Myanmar, pada Sabtu (30/5) malam saat pertandingan final Liga Champions UEFA 2025/2026 tengah berlangsung. Insiden yang terekam dalam video amatir dan menyebar luas di media sosial itu memperlihatkan sejumlah pria berseteru, saling pukul, dan adu mulut—masing-masing mengenakan kostum tim favorit mereka.
Peristiwa terjadi di sebuah restoran di kawasan Chanayethazan. Seorang karyawan kedai yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa pengunjung terlibat bentrokan fisik saat menyaksikan laga. “Kami hanya staf, tidak tahu apakah sudah ada laporan polisi,” ujarnya kepada media setempat. Sementara itu, seorang petugas kepolisian dari kantor polisi setempat menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada pengaduan resmi terkait keributan tersebut. Namun, ia mengungkapkan bahwa di kedai bir lain pada malam yang sama juga terjadi pertikaian, dan kasus itu sudah dilaporkan—meski disebut sebagai sengketa biasa, bukan terkait sepak bola.
Final Liga Champions musim ini mempertemukan dua raksasa Eropa di Puskás Aréna, Budapest, Hongaria. Laga yang dinanti jutaan pasang mata itu rupanya memicu emosi berlebih di kalangan suporter yang menonton di tempat umum. Di Myanmar, budaya nonton bareng (nobar) di kedai-kedai bir memang lazim, terutama untuk partai-partai besar Eropa. Sayangnya, antusiasme kadang berujung pada gesekan antarpendukung yang berbeda pilihan tim.
Fenomena serupa juga kerap terjadi di Indonesia. Nobar sepak bola, terutama laga final Liga Champions atau Piala Dunia, sering memicu kericuhan kecil hingga besar. Di Jakarta, Bandung, atau Surabaya, kepolisian biasanya menyiagakan personel di lokasi-lokasi nobar untuk mengantisipasi bentrokan. Namun, kasus di Mandalay ini mengingatkan bahwa pengelola tempat hiburan perlu memiliki prosedur keamanan yang jelas, termasuk kerja sama dengan aparat setempat.
Menurut pengamat sepak bola Asia Tenggara, konflik antarsuporter di ruang publik tidak semata-mata dipicu oleh hasil pertandingan, melainkan juga oleh faktor alkohol, identitas kelompok, dan kurangnya pengawasan. “Ini masalah manajemen kerumunan. Saat emosi dan alkohol bertemu, potensi kekerasan meningkat drastis,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa edukasi kepada pemilik usaha dan pengunjung menjadi kunci untuk mencegah insiden serupa.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah otoritas Mandalay akan memperketat pengawasan tempat-tempat nobar, terutama saat laga-laga besar. Tanpa laporan polisi, insiden ini mungkin berlalu begitu saja. Namun, bagi para penggemar sepak bola di Myanmar dan Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat bahwa kegembiraan menonton bola seharusnya tidak berujung pada kekerasan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7675056/original/096398500_1780469939-1000436835.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5486411/original/051217900_1769586166-Layvin_Marc_Kurzawa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5542151/original/077605100_1774935256-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-66.jpg)