Di Balik Hiruk Blok M, Lapak Buku Eks-Kwitang Jadi Oase Literasi Baru
Baca dalam 60 detik
- Blok M Square kini menjadi sentra buku bekas dan baru dengan puluhan lapak, sebagian besar pindahan dari Pasar Buku Kwitang yang legendaris.
- Penjual buku Jimmy mengamati lonjakan minat baca, terutama buku sosial politik dan sastra, didorong konten kreator dan FOMO positif.
- Survei Jakpat 2025 menempatkan Gen Z sebagai kelompok dengan minat baca tertinggi, sejalan dengan peningkatan kunjungan ke Perpustakaan Nasional.

Di lantai dasar Blok M Square, Jakarta, puluhan lapak buku bekas dan baru berjejer rapi, menyuguhkan pemandangan yang kontras dengan hiruk-pikuk pusat skena di atasnya. Aroma kertas tua bercampur pendingin ruangan menjadi ciri khas yang langsung terasa begitu pengunjung turun dari eskalator. Tempat ini bukan sekadar pasar loak, melainkan oase literasi yang mulai ramai didatangi pencari buku dari berbagai kalangan.
Tak kurang dari 40 toko buku beroperasi di area tersebut, menjajakan mulai dari novel sastra, buku sosial politik, hingga majalah edisi lama seperti National Geographic dan Tempo terbitan 2000-an. Harganya pun relatif terjangkau: buku impor bekas bisa didapatkan Rp90 ribu, sementara majalah lawas dibanderol Rp10–25 ribu per eksemplar. “Enggak mahal, cuma emang harus telaten nyarinya,” ujar Izhar, seorang pengunjung yang tengah memilih-milih majalah.
Sejak pandemi Covid-19, lapak-lapak ini mulai menjamur. Salah satu penjual, Jimmy, mengaku memindahkan usahanya dari Kwitang ke Blok M setelah pamor Pasar Buku Kwitang meredup. “Nerusin bisnis abang dari 2006, habis Covid kita gas di Blok M,” katanya. Menurut Jimmy, hampir semua penjual buku di Blok M adalah eks-Kwitang, menyusul perpindahan sentra buku legendaris yang sempat populer lewat film Ada Apa Dengan Cinta (2002) itu.
Fenomena menarik terjadi di tengah gempuran konten digital. Jimmy, yang setiap hari berinteraksi dengan puluhan pembeli, mencatat peningkatan minat terhadap buku sosial politik dan sastra. “Banyaknya sih cari buku yang relevan sama kondisi kita hari ini,” ujarnya. Buku sastra, menurut dia, menjadi pelarian dari rutinitas yang melelahkan. Ia bahkan optimistis bahwa Indonesia tengah memasuki puncak literasi, didorong oleh fenomena FOMO (fear of missing out) yang positif berkat ulasan para konten kreator buku di media sosial.
Optimisme Jimmy sejalan dengan data riset. Lembaga survei Jakpat pada semester kedua 2025 mencatat Gen Z sebagai kelompok dengan minat baca tertinggi, mencapai 26 persen, mengungguli milenial dan Gen X. Survei terhadap 2.240 responden itu juga menunjukkan penurunan konsumsi hiburan digital: penggunaan media sosial turun 9 persen menjadi 83 persen, sementara platform streaming video seperti Netflix dan Vidio merosot drastis dari 48 persen ke 14 persen dalam setahun. Artinya, sebagian waktu yang dulu dihabiskan di layar kini beralih ke buku.
Indikator lain datang dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas). Sepanjang 2024, pengunjung Perpusnas mencapai 9.492 orang, lalu melonjak menjadi 13.835 pada 2025. Hingga Mei 2026, jumlahnya sudah mencapai 7.704 orang, dengan puncak 2.096 orang pada Januari 2026. Tren ini menunjukkan bahwa minat baca fisik, setidaknya di Jakarta, sedang bangkit kembali.
Di balik optimisme itu, para penjual buku seperti Jimmy tetap waspada. Setiap malam, ia menutup lapaknya hanya dengan terpal, bukan gembok berat. Alasannya filosofis: “Pencuri tak membaca buku, dan pembaca buku takkan mencuri.” Meski beberapa kali kehilangan dua buku saat lapak ramai, ia memilih menyerahkan kasusnya ke pihak berwenang. Pertanyaannya, akankah kebangkitan literasi ini bertahan lama, atau hanya sekadar tren sesaat yang akan tergerus kembali oleh derasnya arus digital?



