Menjelang Musim Panas, Produksi Kipas Khas Jepang 'Mizu-uchiwa' Meningkat
Baca dalam 60 detik
- Perajin di Gifu, Jepang, tengah memproduksi massal kipas mizu-uchiwa yang memiliki efek visual basah dan transparan, dengan target 300 unit dalam 30 varian hingga akhir Juli.
- Kipas tradisional ini dibuat dari kertas Jepang tipis yang direkatkan ke rangka bambu, lalu dilapisi pernis alami berulang kali dan dikeringkan selama 10 hari.
- Mizu-uchiwa menjadi alternatif pendingin ramah lingkungan di tengah tren global mengurangi penggunaan AC, relevan bagi daerah tropis seperti Indonesia.

Perusahaan kerajinan tradisional Furukawashiko Co. di Mino, Prefektur Gifu, Jepang, tengah berada pada puncak produksi kipas mizu-uchiwa, sejenis kipas khas yang dikenal dengan efek visual basah dan tembus pandang. Pada 22 Mei 2026 lalu, bengkel tersebut mulai memproduksi sekitar 300 kipas dalam 30 variasi yang ditargetkan rampung sebelum akhir Juli, menyambut puncak musim panas yang diperkirakan lebih terik dari tahun-tahun sebelumnya.
Mizu-uchiwa, yang secara harfiah berarti "kipas air", dibuat dengan menempelkan kertas Jepang tipis (washi) ke rangka bambu, lalu dilapisi pernis alami secara berulang hingga mencapai kilap basah yang khas. Proses pelapisan dan pengeringan alami memakan waktu sekitar 10 hari, di mana kipas diikat pada tiang bambu dan dibiarkan terkena udara terbuka. Teknik ini sudah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari warisan budaya Jepang yang terus bertahan di tengah modernisasi.
Fenomena produksi mizu-uchiwa yang meningkat setiap menjelang musim panas tidak hanya soal estetika. Dalam beberapa tahun terakhir, kipas ini mulai dilirik sebagai alternatif pendingin yang ramah lingkungan dan bebas listrik. Di tengah krisis energi global dan kampanye pengurangan emisi karbon, produk-produk tradisional seperti mizu-uchiwa mendapat tempat baru di pasar domestik maupun internasional. Menurut pengamat industri kerajinan, permintaan dari wisatawan asing juga ikut mendorong produksi, terutama setelah Jepang membuka kembali pintu bagi turis pasca-pandemi.
Bagi Indonesia, tren ini bisa menjadi inspirasi. Sebagai negara tropis dengan konsumsi listrik untuk pendingin ruangan yang tinggi, penggunaan kipas tradisional yang berbahan alami dan dapat didaur ulang menawarkan solusi sederhana namun efektif. Beberapa daerah di Indonesia, seperti Bali dan Jawa, sebenarnya memiliki tradisi kipas anyaman bambu atau daun lontar, namun belum dikembangkan secara modern. Kolaborasi dengan perajin Jepang atau adopsi teknik pelapisan pernis alami bisa menjadi nilai tambah bagi produk kerajinan lokal agar lebih kompetitif di pasar global.
Keunikan mizu-uchiwa juga terletak pada efek visualnya yang menyerupai air, memberikan sensasi sejuk secara optik. Hal ini menjadikannya tidak hanya sebagai alat pendingin, tetapi juga elemen dekoratif yang diminati kolektor dan desainer interior. Di era di mana konsumen semakin menghargai produk dengan cerita dan nilai tradisi, mizu-uchiwa berhasil memadukan fungsi, seni, dan keberlanjutan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah regenerasi pengrajin dan ketersediaan bahan baku alami. Furukawashiko Co. dan bengkel sejenis di Gifu terus berupaya menarik minat generasi muda melalui program magang dan pameran internasional. Apakah kipas tradisional ini mampu bertahan di tengah gempuran kipas listrik dan AC modern? Jawabannya mungkin terletak pada kemampuan industri kerajinan untuk beradaptasi tanpa kehilangan esensi budaya.



