Piala Dunia 2026: Lima Tim Terendah Siap Kejutkan Dunia
Baca dalam 60 detik
- Cabo Verde, Curaçao, Ghana, Haiti, dan Selandia Baru menjadi lima negara dengan peringkat terendah di Piala Dunia 2026, namun masing-masing memiliki modal unik dari babak kualifikasi.
- Format 48 tim membuka peluang lebih besar bagi tim underdog untuk lolos ke fase gugur, meski tantangan di grup berat seperti Spanyol, Jerman, atau Brasil masih menjadi ujian utama.
- Performa gemilang pemain kunci seperti Antoine Semenyo (Ghana) dan Chris Wood (Selandia Baru) bisa menjadi pembeda di laga-laga krusial.
Lima tim dengan peringkat terendah di Piala Dunia 2026—Cabo Verde, Curaçao, Ghana, Haiti, dan Selandia Baru—bersiap menghadapi rintangan berat di turnamen yang diperluas menjadi 48 peserta. Meski di atas kertas peluang mereka tipis, masing-masing tim membawa cerita perjuangan dan kejutan dari babak kualifikasi yang patut diperhitungkan.
Cabo Verde, yang menempati peringkat ke-69 dunia, lolos untuk pertama kalinya setelah memuncaki Grup D kualifikasi CAF dengan keunggulan empat poin atas Kamerun. Tim asuhan Pedro 'Bubista' Brito hanya kalah sekali dalam sepuluh laga, membuktikan bahwa disiplin dan semangat bisa mengompensasi keterbatasan sebagai salah satu negara terkecil di turnamen. Di Grup H, mereka akan menghadapi Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Laga pembuka melawan Spanyol diprediksi berat, namun peluang lolos kemungkinan besar ditentukan oleh hasil melawan dua tim lainnya.
Curaçao, negara kepulauan dengan populasi hanya 150.000 jiwa, menjadi negara terkecil dalam sejarah Piala Dunia setelah finis tanpa kekalahan di Grup B kualifikasi Concacaf. Di Grup E, mereka akan berhadapan dengan Jerman, Pantai Gading, dan Ekuador. Dengan pelatih tertua turnamen, Dick Advocaat, Curaçao diharapkan tampil kompetitif meski harus berjuang ekstra keras untuk melaju ke babak 32 besar.
Ghana kembali ke panggung Piala Dunia untuk kelima kalinya setelah mendominasi Grup I kualifikasi CAF dengan 25 poin dari 30. Tim asuhan Carlos Queiroz akan memulai dengan laga krusial melawan Panama, sebelum menghadapi Kroasia dan Inggris. Antoine Semenyo, yang musim lalu mencetak 16 gol Premier League dan tiga gol FA Cup, menjadi andalan utama untuk mengulang pencapaian perempat final 2010.
Haiti lolos tanpa bermain satu pun laga kandang di kualifikasi, menempati peringkat ke-83 dunia. Di Grup C, mereka akan bertemu Brasil, Maroko, dan Skotlandia. Kapten Duckens Nazon, yang mencetak enam gol di kualifikasi, diharapkan menjadi motor serangan balik yang mematikan. Laga pembuka melawan Skotlandia bisa menjadi penentu nasib mereka.
Selandia Baru, peringkat ke-85, lolos otomatis sebagai wakil OFC setelah mencatat agregat 29-1 dalam lima pertandingan. Di Grup G, Belgia menjadi favorit, namun Selandia Baru punya peluang bersaing dengan Mesir dan Iran. Chris Wood, yang pulih dari cedera dan mencetak sembilan gol di kualifikasi, menjadi kapten sekaligus tumpuan utama.
Bagi Indonesia, kehadiran tim-tim underdog ini menjadi pengingat bahwa Piala Dunia bukan hanya milik negara besar. Format 48 tim memberikan kesempatan lebih luas bagi negara berkembang untuk bersinar, sekaligus meningkatkan daya tarik turnamen di kawasan Asia dan Afrika. Pelajaran dari perjuangan Cabo Verde dan Haiti bisa menjadi inspirasi bagi sepak bola Indonesia yang tengah berbenah.
Pertanyaan besarnya: akankah salah satu dari tim ini mampu menembus batas ekspektasi dan mencatat sejarah baru? Ataukah dominasi tim unggulan akan kembali membatasi langkah mereka? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko pada 2026.



