Pochettino Bela Diri: Pemain yang Dicoret Tak Ingin Ditelepon
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Timnas AS, Mauricio Pochettino, mengirim surel kepada pemain yang dicoret dari skuad Piala Dunia 2026, bukan menelepon mereka.
- Pochettino beralasan bahwa pemain yang gagal lolos lebih baik tidak dihubungi langsung karena emosi mereka masih labil.
- Keputusan ini menuai kritik dari mantan pemain AS yang menilai seharusnya pelatih memberikan penjelasan secara personal.

Pelatih Tim Nasional Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, membela keputusannya yang kontroversial dalam mengomunikasikan pemain yang tidak masuk skuad Piala Dunia 2026. Alih-alih menelepon, ia mengirim surel kepada para pemain yang dicoret, sementara pemain yang lolos mendapat pesan video pribadi.
Keputusan ini memicu perdebatan di kalangan pengamat sepak bola AS. Mantan penyerang timnas, Herculez Gomez, dalam program ESPN Futbol Americas, mengecam langkah Pochettino. Gomez membandingkannya dengan mantan pelatih Jurgen Klinsmann yang mengabarkan pencoretan dirinya melalui pesan suara pada Piala Dunia 2014—sebuah tindakan yang ia anggap lebih manusiawi.
Dalam konferensi pers, Pochettino menjelaskan bahwa pengalamannya sebagai pemain menjadi dasar pertimbangannya. “Saat saya tidak masuk skuad, saya tidak ingin pelatih menelepon saya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemain yang dicoret tidak ingin mendengar permintaan maaf atau penjelasan yang terkesan dibuat-buat. “Apa yang akan saya katakan? Apakah saya akan berbohong?”
Pochettino menekankan bahwa ia sangat peduli dengan para pemain yang gagal lolos. “Selama dua minggu terakhir saya tidak tidur. Sampai sekarang saya belum bisa menikmati kehadiran 26 pemain yang ada di depan saya karena saya terus memikirkan mereka yang tersingkir,” ungkapnya. Menurutnya, menelepon hanya akan menjadi ajang pembenaran diri, bukan solusi bagi pemain yang kecewa.
Bagi publik sepak bola Indonesia, kontroversi ini menyoroti pentingnya komunikasi pelatih dalam momen krusial seperti pemilihan skuad turnamen besar. Di Tanah Air, kasus serupa pernah terjadi saat pelatih timnas Indonesia mengumumkan skuad untuk Piala AFF atau Kualifikasi Piala Dunia, di mana pemain yang dicoret kerap mengeluhkan minimnya penjelasan. Pendekatan Pochettino—meski kontroversial—setidaknya memicu diskusi tentang cara terbaik mengelola ekspektasi dan emosi pemain.
AS akan memulai perjuangan di Piala Dunia 2026 pada 13 Juni melawan Paraguay di laga perdana Grup D. Dua pertandingan berikutnya adalah melawan Australia dan Turki. Dengan format baru yang melibatkan 48 tim, tekanan terhadap Pochettino semakin besar, terutama karena kontraknya berakhir setelah turnamen. Akankah pendekatan komunikasinya yang tidak konvensional ini berdampak pada performa tim di lapangan? Atau justru menjadi bumerang yang merusak moral skuad?



