Studi Ungkap Pelecehan Seksual di Tempat Kerja Lebih Soal Dominasi Gender daripada Seksualitas
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru membandingkan dua teori utama penyebab pelecehan seksual di tempat kerja: psikologi evolusioner dan pemeliharaan hierarki gender.
- Teori hierarki gender dinilai lebih unggul dalam menjelaskan berbagai bentuk pelecehan, termasuk gender harassment yang paling umum terjadi.
- Implikasinya, intervensi yang efektif harus fokus pada perubahan struktur organisasi dan norma maskulinitas, bukan sekadar edukasi individu.

Pelecehan seksual di tempat kerja bukan semata-mata soal hasrat seksual, melainkan lebih terkait dengan upaya mempertahankan dominasi dan hierarki gender. Demikian kesimpulan studi terbaru yang membandingkan dua kerangka penjelasan utama dalam sains sosial: psikologi evolusioner dan teori pemeliharaan hierarki gender.
Dalam riset yang dipublikasikan baru-baru ini, para peneliti menggunakan tiga kriteria filosofi sains—cakupan penjelasan, produktivitas prediktif, dan potensi intervensi—untuk menguji mana dari kedua teori yang lebih kokoh. Hasilnya, teori hierarki gender keluar sebagai pemenang yang jelas.
Psikologi evolusioner memandang pelecehan sebagai produk mekanisme adaptasi reproduksi pria di masa purba, seperti kecenderungan salah mengartikan ketertarikan seksual wanita. Namun, teori ini gagal menjelaskan perilaku non-seksual seperti lelucon seksis atau permintaan mencatat rapat yang justru lazim terjadi. Sebaliknya, teori hierarki gender melihat semua tindakan tersebut sebagai cara memperkuat peran tradisional dan status pria di lingkungan kerja.
“Pelecehan seksual adalah ekspresi seksisme di tempat kerja, bukan seksualitas atau hasrat seksual,” tulis para peneliti, mengutip pandangan sarjana ilmu sosial yang berfokus pada ketimpangan kekuasaan.
Dari segi produktivitas, kedua teori sama-sama melahirkan program riset yang subur. Namun, psikologi evolusioner memiliki kelemahan mendasar: prediksi intinya—bahwa pria purba yang salah persepsi seksual lebih sukses bereproduksi—tidak dapat diuji secara empiris. Sementara itu, teori hierarki gender menghasilkan prediksi yang lebih terukur, misalnya kaitan antara struktur organisasi yang datar dengan penurunan angka pelecehan.
Yang paling signifikan adalah perbedaan dalam hal intervensi. Psikologi evolusioner menyarankan pelatihan kesadaran bagi pria, namun bukti menunjukkan pendekatan ini tidak efektif. Sebaliknya, teori hierarki gender membuka peluang intervensi struktural: meratakan hierarki organisasi, memutus hubungan antara status dan maskulinitas, serta mengubah norma budaya kerja.
Studi ini menawarkan optimisme bahwa pelecehan seksual bukanlah takdir biologis yang tak terelakkan. “Pelecehan seksual paling baik dipahami sebagai konsekuensi dari lingkungan sosial dan budaya kita saat ini,” tulis para peneliti. “Dan ini adalah sesuatu yang bisa kita bentuk untuk menciptakan masa depan kerja yang lebih aman.”



