Pramono Buka Wacana Transjabodetabek Blok M–Bandung, Andalkan Integrasi Transportasi Publik
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka peluang perluasan layanan Transjabodetabek hingga Bandung, memperluas jangkauan yang sebelumnya mencakup Depok, Bogor, dan Bekasi.
- Popularitas Blok M sebagai pusat kuliner, musik, dan bisnis lokal mendorong integrasi transportasi publik dengan aktivitas kreatif, seiring kenaikan penumpang 10,8 persen hingga September 2026.
- Rute Blok M–Bogor melampaui target dengan hampir 10.000 pengguna harian, menjadi indikator keberhasilan yang mendasari rencana ekspansi ke Bandung.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo membuka kemungkinan memperluas layanan Transjabodetabek hingga ke Bandung, Jawa Barat, dari titik awal Blok M, Jakarta Selatan. Wacana ini muncul setelah rute serupa yang menghubungkan Jakarta dengan Depok, Bogor, dan Bekasi menunjukkan peningkatan jumlah penumpang yang signifikan.
Dalam sambutannya pada The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Jumat (23/10), Pramono menyebut Blok M sebagai contoh sukses kawasan yang mampu memadukan transportasi publik dengan aktivitas kreatif. Kawasan itu kini menjadi magnet bagi generasi muda berkat aneka kuliner, panggung musik, dan geliat bisnis lokal yang tumbuh pesat. Integrasi dengan MRT dan Transjakarta semakin memudahkan mobilitas masyarakat.
Pramono menilai keberhasilan Blok M tidak lepas dari peran transportasi publik yang andal. Ia bahkan mengutip kelakar publik yang menyebut kawasan tersebut sebagai "Negara Blok M" karena popularitasnya. "Dari Blok M ke Bogor, Blok M ke Bekasi, dan kelak barangkali Blok M ke Bandung. Tenang saja, semuanya terhubung melalui Transjabodetabek," ujarnya.
Sejak awal, Pramono memang menaruh perhatian pada peningkatan konektivitas Transjabodetabek sebagai upaya mendorong lebih banyak warga beralih ke angkutan umum. Ia menilai perbaikan kualitas layanan menjadi kunci kenaikan jumlah penumpang. Ke depan, ia berharap kepercayaan publik terhadap transportasi yang dikelola Pemprov DKI tetap terjaga sehingga tren positif ini berlanjut.
Wacana perluasan ke Bandung, jika terealisasi, akan menandai babak baru bagi integrasi transportasi antarkota di Jawa bagian barat. Rute ini berpotensi memperpendek jarak tempuh dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, sejalan dengan agenda pengurangan kemacetan dan emisi. Namun, tantangan seperti koordinasi lintas daerah, kesiapan armada, dan pembiayaan masih perlu dijawab.
"Ini adalah bukti nyata bagaimana transportasi publik dan aktivitas kreatif dapat saling menguatkan," kata Pramono.
Keberhasilan Blok M sebagai simpul transportasi dan ekonomi kreatif menjadi preseden yang ingin direplikasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tampaknya akan terus memperluas jangkauan layanan selama respons masyarakat positif. Pertanyaannya, sejauh mana perluasan rute ini dapat dipertahankan tanpa mengorbankan kualitas layanan yang sudah ada?



