Marquez Sindir Martin soal Team Order: "Kalau Cepat, Tak Perlu Perintah Tim"
Baca dalam 60 detik
- Marc Marquez melontarkan pernyataan tajam yang menyindir Jorge Martin terkait strategi team order di MotoGP.
- Pernyataan ini muncul setelah Aprilia mencetak sejarah finis 1-2-3-4 di Mandalika, sementara Marquez menjadi satu-satunya pembalap Ducati yang konsisten di depan.
- Persaingan gelar semakin memanas menjelang GP Australia, dengan kedua pembalap hanya terpaut dua poin.

Marc Marquez kembali memanaskan persaingan gelar MotoGP dengan melontarkan sindiran halus kepada rival utamanya, Jorge Martin. Menjelang GP Australia, pembalap Ducati itu menegaskan bahwa pembalap yang memiliki kecepatan tidak memerlukan team order, pernyataan yang jelas ditujukan kepada kubu Aprilia dan Martin.
"Jika Anda memiliki kecepatan, Anda tidak membutuhkannya. Anda membutuhkannya jika tidak memilikinya," ujar Marquez seperti dikutip dari situs resmi MotoGP. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pertanyaan mengenai kemungkinan Ducati menerapkan strategi team order, mirip yang mungkin dilakukan Aprilia untuk mendukung Martin.
Persaingan keduanya memang kian sengit. Di GP Indonesia lalu, Marquez berhasil mengalahkan Martin dalam sesi kualifikasi dengan menempel ketat pembalap Aprilia itu keluar dari pit, sebuah taktik psikologis yang terbukti efektif. Marquez finis di posisi keempat, sementara Martin harus puas start di belakangnya. Meski demikian, keduanya meninggalkan Mandalika dengan perolehan poin yang sama, tetap terpaut dua poin di klasemen.
Sejak kembali dari operasi bahu di Hungaria, Marquez memang tampil impresif. Ia hampir selalu menjadi pembalap Ducati pertama yang melintasi garis finis, dan satu-satunya yang mampu bersaing memperebutkan kemenangan. Kondisi ini membuat strategi team order di Ducati menjadi tidak relevan. Bahkan, rekan setimnya, Alex Marquez, menilai wacana tersebut "terlalu dini" untuk dibicarakan.
Di sisi lain, Aprilia kini dihadapkan pada dilema. Dengan empat pembalap cepat di barisan mereka, pabrikan asal Noale itu harus mempertimbangkan matang-matang penggunaan team order. Terlebih lagi, di GP Indonesia, Aprilia berhasil mengamankan posisi 1-2-3-4, sebuah hasil bersejarah, meskipun Martin hanya finis ketiga dan kehilangan poin berharga.
Marco Bezzecchi, yang tertinggal 46 poin dari Martin, masih percaya diri bisa bersaing memperebutkan gelar, apalagi jika GP Qatar tetap digelar. Ia pun enggan mendengar wacana team order. "Saya tidak terlalu memikirkan itu. Saat ini, hal itu tidak memengaruhi kami. Jika mereka memberi tahu sesuatu, kami akan mendengarkan dan melihat bagaimana bertindak. Untuk sementara, belum ada yang dikatakan," ujarnya.
Namun, Aprilia telah mengisyaratkan bahwa mereka mungkin akan menerapkan team order pada balapan tertentu, tanpa menyebut secara spesifik. Marquez menyadari bahwa Ducati saat ini tidak memiliki pembalap yang cukup konsisten untuk membantunya merebut poin dari para pembalap Aprilia. Ia pun tahu bahwa ia harus menghadapi pertempuran melawan motor-motor Noale itu hampir sendirian.
"Saya akan selalu mengatakan bahwa kami adalah tim dan saya akan berusaha, seperti biasa, memberikan yang terbaik untuk Ducati dan tim saya. Mengenai team order, jika Anda memiliki kecepatan, Anda tidak membutuhkannya. Anda membutuhkannya jika tidak memilikinya," tegas Marquez.
Pernyataan Marquez ini jelas merupakan bentuk tekanan psikologis terhadap Martin dan Aprilia. Dengan hanya dua poin memisahkan mereka, setiap balapan menjadi krusial. GP Australia akan menjadi panggung berikutnya bagi keduanya untuk membuktikan siapa yang lebih pantas menyandang gelar juara dunia.
Menarik untuk dinantikan apakah Aprilia benar-benar akan menerapkan team order untuk mendukung Martin, atau justru membiarkan persaingan internal tetap terbuka. Sementara itu, Marquez akan terus berusaha tampil maksimal dan membuktikan bahwa kecepatan adalah senjata utamanya, bukan perintah tim.



