Roma Kehilangan Pellegrini 6-8 Pekan, Gasperini Diuji Ketajaman Skuad
Baca dalam 60 detik
- Lorenzo Pellegrini dipastikan absen minimal enam hingga delapan pekan akibat cedera otot paha kanan yang lebih parah dari perkiraan awal.
- Gian Piero Gasperini kini menghadapi krisis personel dengan empat pemain inti masih dibekap cedera, memaksa rotasi ekstrem di lini tengah dan belakang.
- Kembalinya Bryan Cristante menjadi angin segar, tetapi jadwal padat Serie A dan Eropa menuntut solusi taktis agar Roma tak kehilangan momentum.

Roma harus menerima pukulan telak setelah kapten Lorenzo Pellegrini dipastikan menepi selama enam hingga delapan pekan ke depan. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan gelandang berusia 28 tahun itu mengalami lesi tingkat tinggi pada otot semitendinosus kaki kanan, tepatnya di area pertemuan otot dan tendon distal. Cedera ini jauh lebih serius dari dugaan awal yang memperkirakan ia hanya mengalami kram atau kelelahan ringan.
Insiden tersebut terjadi saat Roma mengalahkan Slovan Bratislava di ajang Liga Champions pada Selasa lalu. Dalam laga itu, Pellegrini terlihat menghentikan langkahnya sebelum benar-benar merasakan nyeri hebat. Harapan bahwa ia berhenti tepat waktu sebelum kerusakan lebih lanjut ternyata sirna setelah hasil tes pada Rabu (waktu setempat) mengonfirmasi kerusakan jaringan yang signifikan. Sky Sport Italia melaporkan bahwa cedera ini membutuhkan waktu pemulihan minimal enam pekan, yang berarti Pellegrini baru bisa kembali setelah jeda internasional November mendatang.
Bagi pelatih Gian Piero Gasperini, ini adalah ujian ketahanan skuad yang sesungguhnya. Roma saat ini sudah kehilangan Paulo Dybala, Manu Koné, dan Mile Svilar karena cedera. Absennya Pellegrini membuat lini tengah kehilangan sosok pengatur serangan sekaligus pemimpin di ruang ganti. Gasperini dituntut untuk segera menemukan formula baru, baik dengan mengubah formasi maupun memberikan kepercayaan lebih kepada pemain muda. Kembalinya Bryan Cristante ke skuad setelah lebih dari sebulan absen setidaknya memberikan satu opsi tambahan, meski ia belum tentu langsung bermain penuh.
Dalam konteks persaingan Serie A dan Liga Champions, kehilangan kapten selama hampir dua bulan bisa berdampak besar pada konsistensi performa. Pellegrini bukan hanya gelandang kreatif, tetapi juga eksekutor bola mati dan penghubung antara lini tengah dan depan. Tanpa dirinya, beban kreativitas akan bertumpu pada pemain seperti Lorenzo Pellegrini? Tidak, tentu saja tidak. Nama-nama seperti Bryan Cristante, Leandro Paredes, atau Edoardo Bove akan diminta mengambil peran lebih besar. Gasperini punya rekam jejak dalam mengatasi krisis pemain, tetapi tekanan di ibu kota tetap tinggi mengingat ekspektasi suporter yang selalu menuntut hasil positif.
"Hasil tes jauh lebih buruk dari prediksi. Kami harus siap tanpa Pellegrini untuk waktu yang lama," demikian indikasi dari laporan medis yang dikutip Sky Sport Italia.
Dari sudut pandang taktis, absennya Pellegrini memaksa Gasperini untuk mempertimbangkan kembali peran gelandang serang. Ia bisa saja mengubah skema menjadi 3-5-2 dengan dua gelandang bertahan, atau tetap mempertahankan 3-4-2-1 dengan menempatkan pemain sayap sebagai penyerang bayangan. Pilihan ini bergantung pada kebugaran Dybala, yang juga masih dalam pemantauan. Jika Dybala belum pulih, opsi menyerang Roma semakin terbatas. Di saat yang sama, jadwal padat Serie A dan Liga Champions menuntut rotasi cerdas agar tidak menimbulkan cedera baru.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, dinamika di Roma ini menjadi cermin betapa rentannya sebuah tim papan atas ketika pemain kunci berguguran. Liga Indonesia juga kerap menghadapi situasi serupa, terutama saat jadwal kompetisi menumpuk dan fasilitas pemulihan belum optimal. Manajemen klub dituntut tidak hanya jeli di bursa transfer, tetapi juga dalam menjaga kebugaran pemain melalui sports science yang memadai. Roma, dengan segala kemewahan fasilitasnya, tetap kesulitan menghindari badai cedera. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa kedalaman skuad dan manajemen beban kerja adalah kunci untuk bertahan di kompetisi panjang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Gasperini mampu meracik strategi tanpa Pellegrini dan pemain cedera lainnya, atau justru keterbatasan ini akan menghambat laju Roma di Serie A dan Liga Champions. Dalam sepak bola modern, krisis cedera sering menjadi titik balik sebuah musim. Jika Roma mampu melewati periode ini dengan hasil positif, mental tim akan teruji dan kans meraih prestasi tetap terbuka. Sebaliknya, rentetan hasil buruk bisa memicu tekanan besar bagi Gasperini. Semua mata kini tertuju pada bagaimana sang pelatih mengelola sumber daya yang ada, dimulai dari laga-laga krusial dalam beberapa pekan mendatang.



