iPhone Duo Menuai Pujian dan Kritik: Layar Lipat, Face ID Hilang, dan MagSafe yang Tak Sepenuhnya Ramah
Baca dalam 60 detik
- iPhone Duo menjadi produk Apple pertama dengan layar lipat, tetapi absennya Face ID dan dukungan Apple Pencil Pro memicu perdebatan di kalangan pengguna.
- Uji coba menunjukkan MagSafe masih bermasalah saat perangkat dalam keadaan terbuka, sementara aplikasi pihak ketiga belum sepenuhnya dioptimalkan untuk layar dalam 7,6 inci.
- Pasar Indonesia kemungkinan besar tidak akan kebagian iPhone Duo secara resmi, sehingga konsumen harus waspada terhadap perangkat global yang tidak bergaransi lokal.

Apple akhirnya merilis iPhone Duo, perangkat lipat pertama mereka, dan reaksi publik terbelah: ada yang memuji inovasi layar ganda, tetapi banyak pula yang menyoroti sejumlah kompromi teknis yang dinilai mengganggu pengalaman pengguna. Ulasan dan sesi tanya jawab di media sosial menunjukkan bahwa perangkat ini bukan sekadar evolusi biasa, melainkan eksperimen besar yang menuai beragam respons.
Dalam sesi AMA di Threads dan X, pengulas teknologi Lance Ulanoff menerima lebih dari 1.300 pertanyaan hanya dalam 24 jam. Pertanyaan itu mengungkap beberapa temuan yang luput dari ulasan awal, mulai dari perilaku MagSafe hingga dukungan aplikasi. Ulanoff mengakui bahwa iPhone Duo telah memicu minat yang luar biasa, tetapi juga menegaskan bahwa perangkat ini tidak lepas dari kekurangan.
Salah satu temuan paling mencolok adalah perilaku MagSafe. Saat perangkat dalam keadaan terlipat, iPhone Duo dapat menempel sempurna pada dudukan pengisian daya nirkabel dan langsung masuk ke mode Standby yang didesain ulang. Namun, ketika pengguna mencoba membuka layar sambil tetap menempel pada MagSafe, bobot separuh bodi yang tidak tertopang membuat perangkat berputar perlahan. Ulanoff menyimpulkan bahwa penggunaan MagSafe dalam keadaan terbuka tidak disarankan. Selain itu, MagSafe Wallet standar tidak dapat menempel karena bagian belakang perangkat terlalu pendek.
Kekhawatiran lain muncul terkait durabilitas layar dalam. Banyak pengguna bertanya apakah lipatan pada layar terlihat jelas atau terasa bergelombang saat disentuh. Setelah diuji, Ulanoff memastikan bahwa lipatan hampir tidak terlihat dan tidak ada gerakan atau pantulan saat area tersebut ditekan. Ia juga tidak menemukan goresan akibat kuku, bahkan sidik jari pun tidak terlihat pada permukaan matte. Meski demikian, sejumlah pengguna tetap menyoroti ukuran layar luar 5,4 inci yang dinilai terlalu kecil, terutama karena penempatan Dock vertikal di sisi kanan menyita ruang yang seharusnya bisa dimanfaatkan.
"Saya berharap Duo berikutnya menghadirkan kembali Face ID. Ini mungkin kesalahan terbesar Duo," kata Ulanoff, mengomentari absennya pemindai wajah yang sudah menjadi standar di semua model iPhone terbaru.
Soal performa, Ulanoff mengklaim baterai iPhone Duo mampu bertahan sepanjang hari dalam berbagai skenario penggunaan. Namun, ia mengakui bahwa sebagian pengulas lain menemukan daya yang lebih cepat terkuras jika layar dalam 7,6 inci terus digunakan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa daya tahan baterai sangat bergantung pada pola pemakaian, dan calon pembeli sebaiknya mempertimbangkan kebiasaan mereka sebelum memutuskan.
Perbandingan dengan pesaing juga menjadi topik hangat. Ketika ditanya tentang Samsung Galaxy Z Fold 8, Ulanoff menilai kualitas kamera keduanya seimbang: sama-sama mengandalkan kamera wide dan ultra-wide tanpa telefoto. Sementara itu, perbandingan dengan iPhone 18 Pro Max menunjukkan bahwa Duo kalah di sektor kamera karena tidak memiliki lensa telefoto dan aperture variabel, serta bobotnya lebih berat. Namun, Duo menawarkan pengalaman layar ganda yang tidak dimiliki iPhone konvensional.
Dukungan aplikasi menjadi catatan penting. Aplikasi bawaan seperti Books telah dioptimalkan untuk layar dalam, memberikan pengalaman membaca yang imersif. Sebaliknya, aplikasi pihak ketiga seperti Kindle, LinkedIn, Gmail, dan Adobe Acrobat masih tampil tidak proporsional. Meski demikian, pengembang terus memperbarui aplikasi mereka, sehingga kinerja yang buruk kemarin bisa berubah dalam beberapa minggu ke depan. Ulanoff juga menemukan bahwa pengguna dapat menjalankan dua aplikasi media sosial secara berdampingan, seperti TikTok dan Instagram Reels, yang menurutnya meningkatkan pengalaman konsumsi konten.
Di Indonesia, iPhone Duo kemungkinan besar tidak akan dijual secara resmi karena Apple belum memasukkan perangkat lipat ke daftar produk yang tersertifikasi di Tanah Air. Konsumen yang berminat harus membeli dari pasar global, dengan risiko tidak mendapatkan garansi resmi dan dukungan purna jual. Selain itu, harga perangkat lipat cenderung premium, sehingga calon pembeli perlu mempertimbangkan nilai tambah fitur yang ditawarkan dibandingkan iPhone biasa.
Ke depan, Apple dihadapkan pada tantangan untuk memperbaiki celah yang ada: menghadirkan Face ID, mendukung Apple Pencil Pro, dan memperluas optimalisasi aplikasi. Jika generasi kedua iPhone Duo mampu menjawab kritik ini, bukan tidak mungkin perangkat lipat akan menjadi standar baru di lini iPhone. Namun, untuk saat ini, iPhone Duo lebih tepat dipandang sebagai langkah awal yang berani namun belum sepenuhnya matang.



