Tragedi Bali: WN Australia Diduga Bunuh Dua Anaknya Lalu Akhiri Hidup, Sahabat Ungkap Perubahan Sosoknya
Baca dalam 60 detik
- Damien John Shaw (56) ditemukan tewas bersama dua anaknya di sebuah vila di Denpasar, Bali, dalam dugaan pembunuhan dan bunuh diri.
- Sahabat korban di Australia menyebut Shaw mengalami perubahan fisik drastis dan tekanan rumah tangga dalam beberapa bulan terakhir.
- Kasus ini menyoroti kerentanan kesehatan mental ekspatriat lanjut usia di Bali serta pentingnya deteksi dini bagi komunitas asing.

Denpasar โ Warga Negara Australia Damien John Shaw, 56 tahun, diduga kuat mengakhiri hidupnya sendiri setelah membunuh dua anaknya yang berusia 6 dan 4 tahun di sebuah vila di Bali pada Minggu (13/9). Peristiwa ini mengejutkan jaringan pertemanannya di Australia dan memicu pertanyaan tentang kerentanan kesehatan mental di kalangan ekspatriat.
Polisi Kota Denpasar telah memeriksa ibu kedua anak tersebut, yang saat kejadian sedang berada di Jakarta bersama keluarganya. Hingga kini, penyidik belum merilis motif resmi, namun sejumlah teman Shaw di Australia menggambarkan adanya tekanan rumah tangga dan perubahan kondisi fisik yang mencolok dalam beberapa bulan terakhir.
Tania Dagnall, sahabat Shaw yang berbasis di Bunbury, Australia Barat, mengaku bertemu dengannya sekitar tiga bulan lalu di Bali. Ia menyebut Shawโyang akrab disapa 'Damo'โtampak jauh lebih kurus dari biasanya. "Saya terkejut melihatnya. Penampilannya sangat berbeda saat dia menghampiri dan bergabung dengan kami untuk minum kopi. Dia bukan lagi sosok pria berbadan kekar yang biasa saya lihat," ujar Dagnall kepada ABC Australia.
Menurut Dagnall, Shaw dan istrinya sempat mengalami ketegangan rumah tangga dalam beberapa bulan terakhir. Meski kondisi keuangannya tergolong mapanโdengan properti di Perth dan Jepang yang ia gunakan sebagai tempat singgah saat bermain seluncur saljuโteman-temannya tidak menyangka ia tega melakukan tindakan tersebut. "Jika dia benar-benar melakukan hal ini, tidak ada alasan yang dapat membenarkannya; sama sekali tidak ada alasan untuk itu, selamanya. Sungguh mengerikan," tegas Dagnall.
"Sejujurnya, kami mengira dia menjalani kehidupan yang ideal: pensiun di tempat yang indah dan memiliki anak-anak," ujar Tania Dagnall, sahabat korban.
Shaw diketahui berasal dari Perth dan telah lama menetap di Bali. Ia pindah agama saat menikahi istrinya sekitar tujuh tahun lalu. Setelah itu, ia berhenti mengonsumsi alkohol dan menjauhi narkoba. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pelaut di industri minyak dan gas dengan sistem kerja fly-in fly-out, lalu memilih pensiun dini untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga. Rutinitasnya sehari-hari termasuk mengantar anak-anak ke sekolah dan tempat latihan renang.
Kasus ini menyoroti sisi gelap kehidupan ekspatriat di Bali yang sering dipandang sebagai surga pensiun. Tekanan sosial, isolasi, dan dinamika rumah tangga dapat memicu krisis kesehatan mental yang tidak terdeteksi. Bagi komunitas asing, terutama yang berusia lanjut, akses terhadap layanan konseling dan dukungan psikologis masih terbatas. Pemerintah Indonesia melalui Dinas Kesehatan setempat belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah pencegahan ke depan.
Dari sudut pandang hukum, kasus ini akan melibatkan koordinasi antara Kepolisian RI dan otoritas Australia, terutama karena korban adalah WN Australia. Proses repatriasi jenazah dan penyelidikan lintas negara kemungkinan akan memakan waktu. Sementara itu, ibu korban yang selamat harus menghadapi trauma mendalam dan proses hukum yang panjang.
Ke depan, peristiwa ini dapat mendorong pemerintah daerah di Bali untuk memperkuat program kesehatan mental bagi warga asing, termasuk menyediakan layanan konseling berbahasa Inggris. Namun, tanpa kesadaran kolektif dari komunitas ekspatriat untuk saling peduli, tragedi serupa berpotensi terulang. Apakah kasus ini akan menjadi titik balik perhatian terhadap kesehatan jiwa di kalangan pendatang, atau hanya menjadi berita yang cepat berlalu?



