Teriakan 'I Love You Daddy' Tak Hentikan Pembunuhan Dua Anak di Kuta: Alarm Baru bagi Pariwisata dan Keamanan Bali
Baca dalam 60 detik
- Rekaman CCTV mengungkap detik-detik tragis saat seorang ayah asal Australia menghabisi nyawa kedua anaknya di sebuah bungalow di Kuta, Bali.
- Peristiwa ini memicu pertanyaan serius tentang pengawasan orang asing dan kesiapan layanan kesehatan mental di destinasi wisata utama Indonesia.
- Investor dan pelaku industri pariwisata perlu mewaspadai dampak jangka panjang terhadap reputasi keamanan Bali di mata pasar internasional.

Duka mendalam menyelimuti kawasan wisata Kuta, Bali, setelah seorang pria berkewarganegaraan Australia berinisial SDJ (56) tega mengakhiri hidup kedua buah hatinya, ADS (6) dan LKS (4), di dalam sebuah bungalow. Rekaman pengawas sirkuit tertutup (CCTV) yang dirilis kepolisian memperlihatkan rangkaian peristiwa mengerikan itu, termasuk upaya bocah perempuan korban untuk melarikan diri dari amukan sang ayah.
Kapolresta Denpasar Kombes Leonardo Simatupang mengungkapkan bahwa insiden bermula dari keributan di dalam unit penginapan. Suara jeritan anak laki-laki pertama, ADS, memicu kepanikan. Sang adik, LKS, berusaha menyelamatkan diri dengan berlari keluar, namun dikejar oleh SDJ. Dalam rekaman tersebut, terdengar teriakan pilu LKS yang berulang kali memohon, "I love you, Daddy," sebelum akhirnya berhasil terpojok dan dibawa kembali ke dalam kamar.
Setelah membunuh kedua anaknya, pelaku terlihat mondar-mandir mencari tali di area gudang. Seutas tali berwarna biru kemudian ditemukan dan diduga kuat digunakan SDJ untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara gantung diri. Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus kekerasan dalam keluarga yang melibatkan warga negara asing di wilayah hukum Indonesia.
Bagi Indonesia, khususnya Bali sebagai ikon pariwisata global, insiden ini bukan sekadar catatan kriminal biasa. Kejadian ini menyoroti kerentanan sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan jiwa di kalangan wisatawan mancanegara. Selama ini, Bali dikenal sebagai destinasi penyembuhan dan relaksasi, namun kasus ini menunjukkan bahwa tekanan psikologis yang tidak tertangani bisa berujung pada tragedi kemanusiaan.
"Dari visual CCTV kelihatan anaknya yang perempuan itu dilakukan pengejaran," ujar Kombes Leonardo Simatupang, menegaskan bahwa proses hukum tetap berjalan meski pelaku telah meninggal.
Dari perspektif industri, peristiwa ini dapat memengaruhi persepsi keamanan Bali di mata wisatawan Australia, yang selama ini menjadi salah satu pasar utama. Pemerintah daerah dan pelaku usaha pariwisata dituntut untuk tidak hanya fokus pada promosi, tetapi juga memperkuat layanan konseling dan intervensi krisis di lingkungan hotel dan resor. Tanpa langkah konkret, kepercayaan pasar terhadap keamanan destinasi bisa terkikis.
Lebih jauh, kasus ini membuka diskusi tentang perlunya regulasi yang mewajibkan pelaku usaha akomodasi memiliki protokol tanggap darurat psikologis. Kerja sama dengan konsulat asing dan penyedia layanan kesehatan mental menjadi krusial untuk mencegah kejadian serupa. Investor di sektor properti dan pariwisata perlu mencermati risiko reputasi yang timbul dari insiden semacam ini, terutama dalam jangka panjang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah otoritas Bali dan pemerintah pusat akan menjadikan tragedi ini sebagai momentum untuk mereformasi sistem pengawasan dan dukungan kesehatan mental bagi pendatang. Tanpa itu, bayang-bayang insiden serupa akan terus menghantui, mengancam tidak hanya nyawa, tetapi juga stabilitas ekonomi daerah yang bergantung pada pariwisata.



