Elijah Pies Buka Kafe Flagship di Joo Chiat: Souffle Pie hingga Pizza Croissant
Baca dalam 60 detik
- Merek pie asal Singapura, Elijah Pies, meresmikan kafe kedua di Joo Chiat dengan konsep heritage shophouse dan 60 kursi.
- Menu andalan baru meliputi Souffle Pie, Kaya Toffee Pie, serta deretan 'Pizza Pies' dengan kulit croissant 27 lapis.
- Ekspansi ini menandai strategi Elijah Pies yang mengandalkan visual media sosial dan pengalaman pelanggan untuk bertahan di industri F&B.

Setelah 12 tahun merintis dari dapur rumah, Elijah Pies akhirnya mengukuhkan diri sebagai pemain utama industri kuliner Singapura dengan membuka kafe flagship di Joo Chiat. Berlokasi di sebuah shophouse warisan, kafe yang mulai beroperasi Sabtu (12/9) ini dirancang untuk menampung keluarga besar dan para pemilik anjing, lengkap dengan menu baru yang memadukan teknik pastry Eropa dengan cita rasa lokal.
Kafe anyar ini merupakan cabang kedua setelah sukses membuka gerai di Tanjong Pagar tiga tahun lalu. Menurut Limin Wong, salah satu pendiri, pemilihan Joo Chiat didasari oleh banyaknya pelanggan setia yang tinggal di kawasan timur Singapura. “Kami mencari lokasi yang tepat selama hampir dua tahun, dan begitu melihat shophouse ini, rasanya langsung jatuh cinta,” ujarnya. Dengan 60 kursi yang ditata lega, ruang privat yang terang, serta area outdoor ramah hewan, kafe ini menyasar segmen keluarga dan komunitas pecinta anjing yang kerap melintas di lingkungan tersebut.
Desain interior yang digarap biro arsitektur Nice Projects menghadirkan sentuhan mewah, seperti meja dengan kristal biru Brasil dan lantai yang dipasang 1.480 ubin travertine Italia yang dipotong dan ditempatkan secara manual. Namun, daya tarik utama justru terletak pada menu spesial yang hanya tersedia di gerai ini. Elijah’s Souffle Pie (S$18) misalnya, disajikan hangat dengan isian gianduja, almond joconde, dan praline hazelnut, dihiasi bunga cokelat yang meleleh perlahan. Ada pula Kaya Toffee Pie (S$9) yang terinspirasi dari budaya Peranakan, memadukan kaya buatan sendiri, gula Melaka, dan kelapa parut.
Inovasi paling berani hadir lewat seri “Pizza Pies” yang terinspirasi dari deep-dish pizza ala Chicago. Kulitnya dibuat dari croissant yang dilaminasi tangan dengan 27 lapisan mentega Prancis dan tepung, melalui proses riset yang memakan waktu empat hingga lima bulan. “Kami ingin menangkap esensi pizza, tapi disajikan dengan cara yang sesuai merek kami, enak, dan estetis,” kata Elijah Tan, pendiri lainnya. Tersedia empat varian: Garlic Ebi (S$22), Truffle Croque (S$24), Cheeseburger (S$23), dan Ruffles (S$23) yang terinspirasi keripik kentang, lengkap dengan espuma yang disemprotkan di meja.
Tak hanya untuk manusia, Elijah Pies juga menyediakan “doggie pies” buatan toko roti hewan Petissier. Dengan bahan dasar dada ayam, kentang, ubi Cina, dan krim kelapa, kudapan ini hadir dalam rasa Wild Berry Lavender dan Matchamisu (S$9). Sementara itu, deretan mocktail baru seperti “Berry Bubble” (S$12) dan “1930” (S$13) — yang terinspirasi dari sejarah bangunan — menambah daya tarik bagi pengunjung yang ingin bersantai tanpa alkohol.
Keberhasilan Elijah Pies bertahan selama lebih dari satu dekade tidak lepas dari strategi pemasaran digital yang matang. Wong, yang meninggalkan karier 10 tahun di bidang brand marketing, menekankan pentingnya fotografi dalam menarik minat pelanggan. “Kami berinvestasi besar di media sosial. Foto-foto yang kami unggah harus terlihat lezat, sehingga orang penasaran untuk datang,” tuturnya. Strategi ini terbukti efektif, terutama karena Elijah Pies memulai bisnisnya sebagai toko online dengan model delivery-only, yang justru menguntungkan saat pandemi COVID-19 melanda.
Menurut Tan, kunci lain adalah menjalankan usaha ini layaknya korporasi, bukan sekadar operasional F&B. “Kami selalu merencanakan kenaikan harga bahan baku dan upah. Semua tantangan yang umum terdengar, kami rasakan juga,” jelasnya. Pendekatan konservatif ini membuat mereka baru berani membuka gerai fisik setelah delapan tahun beroperasi. “Kami ingin bertanggung jawab kepada tim yang menggantungkan hidup pada keputusan kami,” tambah Wong.
Sebagai pasangan suami-istri, mereka mengaku tidak lepas dari konflik kecil sehari-hari. Namun, Tan menegaskan pentingnya pembagian peran yang jelas. “Kamu lakukan yang kamu kuasai, lalu percayakan yang lain untuk mengeksekusinya. Jangan mencoba mengatur semuanya,” katanya sambil tersenyum.
Kehadiran Elijah Pies di Joo Chiat tidak hanya memperkaya pilihan kuliner di kawasan tersebut, tetapi juga menjadi studi kasus bagaimana merek yang lahir dari media sosial dapat bertransformasi menjadi bisnis ritel yang solid. Dengan desain yang memanjakan mata dan menu yang instagramable, Elijah Pies tampaknya siap menyambut generasi baru pelanggan yang haus akan pengalaman bersantap unik. Pertanyaannya, apakah formula kesuksesan ini akan tetap relevan di tengah persaingan F&B Singapura yang semakin ketat? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun langkah Elijah Pies kali ini menunjukkan bahwa inovasi dan konsistensi adalah kunci untuk bertahan.



