Eks Bankir Singapura Rambah Bisnis Kue Kering: Investasi S$40.000 demi Kukis Gaya New York di Pasar Tradisional
Baca dalam 60 detik
- Donovan Wong, mantan relationship manager bank, membuka gerai Ate Cookies di Golden Mile Food Centre dengan modal S$40.000, menjual kukis ala Levain Bakery seharga S$5,50–S$7.
- Keputusan ini diambil setelah pengalaman pahit mengembangkan usaha pertamanya, Wen Li Taiwanese Food, yang gagal di tahun pertama karena ekspansi terlalu cepat.
- Wong menargetkan pembeli muda dan pekerja kantoran, dan berharap gerainya bisa menjadi batu loncatan untuk membuka toko roti mandiri di masa depan.

Di tengah hiruk-pikuk Golden Mile Food Centre, Singapura, aroma kukis panggang segar kini bersaing dengan bau tumisan khas jajanan lokal. Sejak 14 Juni lalu, sebuah gerai baru bernama Ate Cookies menawarkan kukis gaya New York yang tebal dan padat, diinisiasi oleh Donovan Wong, 33 tahun, yang sebelumnya berkarier sebagai relationship manager di sebuah bank.
Wong bukanlah wajah baru di dunia kuliner Singapura. Sebelumnya, ia bersama rekannya, Joe Cheong, membuka Wen Li Taiwanese Food di pusat jajanan yang sama pada 2021. Namun, perjalanan bisnis pertamanya tidak mulus. Wong mengaku terlalu terburu-buru melakukan ekspansi di tahun pertama, yang berujung pada kegagalan. “Saya terlalu tergesa-gesa. Kami mencoba ekspansi di tahun pertama dan gagal total,” ujarnya kepada 8days. Pelajaran berharga ini membuatnya lebih berhati-hati dalam memulai usaha kedua.
Keputusan Wong untuk meninggalkan dunia perbankan demi kuliner memang tidak mudah. Ia harus menerima pemotongan gaji sekitar S$2.000, dan hingga kini pendapatannya dari bisnis F&B belum mampu melampaui gaji bankirnya. “Pendapatan saya kadang berfluktuasi seperti pasar saham. Belum pernah lebih tinggi dari pekerjaan sebelumnya, tapi saya terus berusaha,” kelaknya. Meski demikian, ia tidak menyesali pilihan hidupnya. “Lima tahun yang luar biasa, meski penuh tantangan,” tambahnya.
Ide membuat kukis muncul secara tak terduga saat Wong menikmati kukis Subway. Ia membayangkan kukis yang lebih tebal dan lezat. Risetnya kemudian mengarah pada Levain Bakery di New York, yang dikenal dengan kukisnya yang super tebal. Tanpa pernah mencicipi langsung, Wong mempelajari resep dan tekniknya melalui video dan gambar daring, lalu mengembangkannya menjadi versi yang sesuai selera lokal. “Saya ingin kukis ini terasa homemade, bukan komersial,” jelasnya. Ia pun menginvestasikan sekitar S$40.000 untuk membuka Ate Cookies, yang sebagian besar dikelolanya sendiri. “Bagian tersulit dari usaha solo adalah saya harus menjadi otak, tubuh, tangan, dan kaki sekaligus,” katanya.
Kukis Ate Cookies dijual dengan harga S$5,50 hingga S$7 per biji, setara dengan harga seporsi makanan di hawker. Wong menyadari harga tersebut tergolong premium, namun ia menekankan ukuran dan kualitas bahan. Setiap kukis berbobot 180–200 gram, lebih besar dari kukis biasa yang hanya 120–150 gram. Bahan-bahan seperti kacang, cokelat couverture, matcha, dan bubuk kakao berkualitas tinggi membuatnya pantas dihargai mahal. “Untuk harga satu kukis, Anda bisa membeli makan siang,” akunya, namun ia menilai pelanggannya, yang mayoritas anak muda dan pekerja kantoran, bersedia membayar lebih untuk camilan.
Wong memilih Golden Mile Food Centre bukan tanpa alasan. Ia ingin dekat dengan Wen Li agar mudah mengawasi kedua usahanya. Meski ia mengakui jumlah pengunjung di pusat jajanan tersebut menurun, bisnis kukisnya berjalan “pelan tapi pasti”. Keuntungan yang diperoleh saat ini ia putar kembali untuk mengembangkan gerai. “Golden Mile mulai sepi,” katanya, namun ia tetap optimistis.
Fenomena seperti ini sebenarnya juga mulai terlihat di Indonesia. Gerai-gerai kukis premium bermunculan di berbagai pusat perbelanjaan dan pasar modern, menargetkan kelas menengah yang haus akan pengalaman kuliner baru. Tren ini menunjukkan bahwa makanan penutup bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan gaya hidup. Pertanyaannya, apakah pasar Indonesia sebesar Singapura? Dengan populasi yang jauh lebih besar dan penetrasi media sosial yang tinggi, peluangnya tampak menjanjikan, asalkan pengusaha mampu menyeimbangkan harga dan kualitas.
Wong berharap Ate Cookies dapat menarik cukup banyak pelanggan sehingga suatu hari ia bisa membuka toko roti kecil yang berdiri sendiri. “Saya ingin terus menciptakan makanan yang enak,” ujarnya. Akankah kukis premium menjadi primadona baru di Asia Tenggara, menggusur camilan tradisional? Waktu yang akan menjawab, namun langkah Wong setidaknya menunjukkan bahwa inovasi di sektor makanan tidak pernah berhenti.



