Dari Guru Menjadi Pengusaha Roti: Harun Min dan Fenomena Chinese Beef Roti di Singapura
Baca dalam 60 detik
- Mantan guru asal Linxia, Harun Min, sukses membuka dua gerai Ameen Roti di Singapura dengan resep otentik khas Muslim Tionghoa.
- Investasi awal sekitar S$300.000 dan antrean panjang 30-60 menit menunjukkan tingginya minat pasar terhadap jajanan tradisional ini.
- Kesuksesan ini membuka peluang ekspansi kuliner etnis Tionghoa-Muslim di Asia Tenggara, termasuk potensi pasar Indonesia.

Harun Min, seorang mantan guru sekolah menengah asal Linxia, Tiongkok barat laut, kini menjadi sorotan di Singapura setelah meluncurkan dua gerai roti daging sapi khas Muslim Tionghoa yang langsung ramai dipesan. Dalam waktu singkat, Ameen Rotiโyang berlokasi di Haji Lane dan Century Squareโberhasil menarik antrean panjang, menandakan bahwa jajanan tradisional ini memiliki daya tarik kuat di tengah lanskap kuliner Singapura yang kompetitif.
Min, yang berusia 36 tahun, tidak pernah membayangkan akan menjadi pengusaha restoran. Setelah enam tahun mengajar bahasa Mandarin dan matematika, ia memutuskan mencari perubahan hidup. Dengan latar belakang sosiologi dari Northwest Minzu University, ia sempat mencoba berbagai usaha sampingan, mulai dari bimbingan belajar hingga menjual sepatu olahraga. Namun, kecintaannya pada kuliner tradisional Tionghoa-Muslim akhirnya membawanya ke industri makanan.
Konsep yang diusung Ameen Roti terbilang unik: hanya dua menu, yaitu Beef Roti seharga S$6 dan Chicken Roti seharga S$5,50. Roti ini dibuat dengan resep tradisional Muslim Xi'an, menggunakan adonan tipis yang diisi daging berbumbu lalu digoreng hingga renyah. Para koki yang didatangkan langsung dari kampung halaman Min di Linxia memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun, memastikan cita rasa autentik yang sulit ditiru.
Keputusan Min memilih Singapura sebagai lokasi usaha bukan tanpa pertimbangan. Setelah berlibur ke Singapura pada 2024, ia terkesan dengan kebijakan yang stabil, aturan bisnis yang transparan, dan pasar makanan multikultural yang terbuka terhadap jajanan internasional. "Tidak ada birokrasi tersembunyi," ujarnya. Sebelum membuka gerai tetap, ia sempat menguji pasar melalui stan di pasar malam, termasuk di Woodlands, Tampines, dan bazar Ramadan di Jalan Sultan. Respons positif dari wisatawan Tionghoa dan warga lokal meyakinkannya untuk melanjutkan.
Fenomena ini tidak hanya menarik perhatian pecinta kuliner, tetapi juga mengundang diskusi tentang harga. Sebagian netizen menganggap S$6 terlalu mahal untuk sepotong roti. Namun, Min membela harga tersebut dengan alasan penggunaan daging premium dan proses pembuatan yang manual. Ia juga berencana mengajukan sertifikasi halal, meskipun saat ini sudah dikelola oleh pemilik Muslim.
Bagi Indonesia, kisah sukses Ameen Roti memberikan pelajaran berharga tentang potensi kuliner etnis Tionghoa-Muslim yang masih jarang dieksplorasi. Dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki pasar yang sangat potensial untuk makanan halal autentik. Namun, tantangan seperti regulasi halal, rantai pasok bahan baku, dan preferensi rasa lokal perlu dipertimbangkan. Para pengusaha kuliner di Indonesia dapat belajar dari strategi Min yang fokus pada keaslian resep dan kualitas bahan, sekaligus memanfaatkan media sosial untuk membangun popularitas.
Ke depan, Min berencana memindahkan keluarganya ke Singapura setelah bisnisnya stabil. Ia juga tidak menutup kemungkinan ekspansi ke negara lain, termasuk Malaysia yang sempat menjadi pertimbangan awal. Pertanyaannya, apakah fenomena roti daging sapi ini akan menjadi tren kuliner baru di Asia Tenggara, atau hanya sekadar sensasi sesaat? Dengan semakin banyaknya wisatawan Tionghoa dan meningkatnya apresiasi terhadap kuliner etnis, peluang untuk berkembang tampaknya masih terbuka lebar.



