Koki Eksentrik Singapura Mewajibkan Satu Aturan: Jangan Makan di Warung Lain Sebelum Menyantap Kepitingnya
Baca dalam 60 detik
- Pemilik Sin Huat Eating House, Danny Lee, menerapkan aturan ketat: pelanggan dilarang memesan makanan dari kios lain di kedai kopinya sebelum menyantap hidangan kepitingnya, demi menjaga kualitas dan mencegah pembatalan pesanan.
- Warung kaki lima di Geylang ini terkenal dengan harga selangit dan tanpa menu, namun tetap mempertahankan predikat Michelin Bib Gourmand selama sepuluh tahun berturut-turut, bahkan pernah dipuji mendiang Anthony Bourdain.
- Fenomena ini memicu perdebatan tentang etika pelayanan dan transparansi harga di industri kuliner, yang juga relevan dengan praktik restoran di Indonesia yang kerap menerapkan aturan serupa.

Bagi sebagian orang, menikmati sepiring bee hoon kepiting yang legendaris di Sin Huat Eating House, Singapura, harus dibayar mahal—bukan hanya dengan uang, tetapi juga dengan kepatuhan pada aturan tak tertulis yang berlaku di warung tersebut. Sang pemilik, Danny Lee, dengan tegas menolak melayani pengunjung yang kedapatan menyantap makanan dari kios lain di dalam kedai kopinya sebelum hidangan kepitingnya tiba. Aturan unik ini kembali menjadi sorotan setelah seorang food vlogger, Damian Lim, mengalaminya langsung saat berkunjung baru-baru ini.
Lee, yang juga dikenal sebagai "food Nazi" oleh para blogger kuliner sejak 2007, memiliki alasan logis di balik larangannya. Ia menjelaskan bahwa proses menyembelih dan memasak kepiting memakan waktu, dan jika pelanggan sudah kenyang dengan makanan lain, mereka berisiko membatalkan pesanan. Kejadian seperti ini pernah terjadi, di mana pengunjung yang mengemil kue curry puff sambil menunggu pesanan justru ditolak oleh Lee. Baginya, pengalaman menyantap kepiting segar adalah sebuah ritual yang tidak boleh diganggu oleh makanan lain.
Sin Huat Eating House, yang terletak di Lorong 35 Geylang, bukanlah tempat makan biasa. Tidak ada menu, harga tidak transparan, dan Lee sendiri yang menerima semua pesanan. Ia akan menawarkan hidangan laut yang menurutnya terbaik hari itu, dengan harga yang bisa membuat bulu kuduk merinding. Seorang pengguna TikTok bahkan mengaku harus membayar S$294 (sekitar Rp3,4 juta) untuk sepiring bee hoon dengan dua ekor kepiting, dan sempat dimarahi Lee karena hanya memesan satu hidangan. Meski demikian, ia mengakui rasa bee hoon kepitingnya "surgawi".
Fenomena Sin Huat menarik untuk dibandingkan dengan praktik kuliner di Indonesia. Di berbagai restoran, terutama yang menyajikan hidangan laut, sering kali ada aturan serupa, seperti larangan membawa makanan dari luar atau kewajiban memesan hidangan utama. Namun, yang membedakan adalah transparansi harga. Di Indonesia, keluhan tentang harga yang tidak jelas sering kali menjadi sorotan, seperti yang terjadi di beberapa restoran seafood di kawasan wisata. Praktik Danny Lee, meski dianggap otoriter, justru berhasil membangun reputasi dan loyalitas pelanggan yang bersedia membayar mahal demi kualitas.
Warung ini juga memiliki sejarah panjang. Sebelum dipegang Lee, Sin Huat dikelola oleh ayahnya. Lee, yang dulunya peternak babi, mulai bekerja sebagai juru masak pada 1991 dan kemudian memperkenalkan hidangan laut hidup yang membuat nama Sin Huat melejit. Meski kini ia juga menjual nasi campur pada siang hari, hidangan lautnya yang mahal hanya tersedia untuk makan malam. Namun, jam operasionalnya pun tidak pasti; Lee sering kali melayani pengunjung di luar jam yang tertera, seperti yang dialami Lim yang datang pukul 11.30 dan langsung dilayani.
Bagi para penggemar kuliner, Sin Huat adalah destinasi yang wajib dikunjungi, meski harus siap mengikuti aturan sang koki. Damian Lim, yang juga generasi ketiga penjual makanan Peranakan, mengakui bahwa aturan Lee sedikit mengontrol, tetapi ia memahami alasannya. "Porsinya sangat besar, jadi saya bisa mengerti," ujarnya. Ia juga memuji rasa kepiting yang manis dan bee hoon yang dimasak dengan kaldu yang kaya, meski kali ini tidak ada wok hei yang khas.
Ke depannya, muncul pertanyaan: apakah model bisnis seperti Sin Huat dapat bertahan di tengah tren kuliner yang semakin mengutamakan transparansi dan pengalaman pelanggan? Atau justru keunikan dan sikap eksentrik Lee yang menjadi daya tarik tersendiri? Di Indonesia, mungkin kita akan melihat lebih banyak restoran yang berani menerapkan aturan ketat demi menjaga kualitas, tetapi dengan harga yang lebih masuk akal. Hanya waktu yang bisa menjawab, apakah pendekatan "diktator" ini akan menjadi tren atau justru ditinggalkan.



