Pianis Niu Niu: Konser Amal dengan Delapan Konserto demi Anak Penderita Kanker
Baca dalam 60 detik
- Niu Niu, pianis asal China, akan memainkan delapan konserto dan debut biola dalam satu konser amal di Singapura untuk merayakan 20 tahun Viva Foundation.
- Konser bertajuk 'Where The Twain Shall Meet' ini menggabungkan musik Timur dan Barat, termasuk karya komposer China, sebagai simbol harmoni dan harapan bagi anak-anak penderita kanker.
- Keberanian Niu Niu mengambil tantangan musikal besar ini diharapkan dapat menginspirasi dan menggalang dukungan global, termasuk dari Indonesia, untuk meningkatkan kesadaran dan perawatan kanker anak.

Pianis asal Xiamen, Niu Niu, akan mempersembahkan sebuah konser amal yang belum pernah ada sebelumnya di Singapura pada 27 Oktober mendatang. Dalam satu malam, ia akan membawakan gerakan-gerakan dari delapan konserto besar dunia serta melakukan debut bermain biola di Asia. Konser ini bukan sekadar pertunjukan musik, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk mendukung anak-anak penderita kanker melalui Viva Foundation for Children with Cancer.
Niu Niu, yang bernama asli Zhang Shengliang, bukanlah nama asing di dunia musik klasik. Sejak usia enam tahun, ia telah memulai karier musiknya dan menjadi siswa termuda yang pernah diterima di sekolah dasar afiliasi Konservatorium Musik Shanghai pada usia delapan tahun. Prestasinya terus menanjak: menandatangani kontrak dengan label EMI Classics di usia sembilan tahun dan meraih beasiswa penuh di Juilliard School, New York, saat berusia 17 tahun. Kini di usianya yang ke-29, ia siap menantang batas kemampuannya dengan membawakan karya-karya Tchaikovsky, Chopin, Rachmaninov, Liszt, dan lainnya bersama Metropolitan Festival Orchestra di bawah arahan konduktor Chan Tze Law.
Konser bertajuk "Viva Concerti: Where The Twain Shall Meet" ini merupakan bagian dari perayaan dua dekade Viva Foundation, sebuah organisasi amal Singapura yang fokus pada peningkatan angka harapan hidup anak-anak penderita kanker melalui perawatan medis, riset, dan edukasi. Pendiri dan ketua Viva Foundation, Jennifer Yeo, menyebut Niu Niu sebagai musisi yang sensitif dengan hati terbuka terhadap semua jenis musik. "Ia memiliki hati yang lembut terhadap mereka yang kurang beruntung, termasuk anak-anak penderita kanker," ujarnya. Niu Niu sendiri menegaskan bahwa konser ini adalah upaya bersama untuk berbagi cinta dan harmoni melalui musik, serta menyampaikan kekuatan kepada anak-anak yang berjuang melawan kanker.
Yang membuat konser ini semakin istimewa adalah pilihan repertoar yang menggabungkan musik Timur dan Barat. Niu Niu akan membawakan Konserto Biola "Butterfly Lovers" karya He Zhanhao dan Chen Gang, serta gerakan keempat dari Konserto Piano "Yellow River" karya Yin Chengzong. Ini merupakan debut biola Niu Niu di Asia, dan ia merasa terhormat dapat memainkan karya paling terkenal dari China tersebut. "Sebagai orang China, saya memiliki perasaan yang mendalam terhadap karya ini. Setelah bertahun-tahun belajar di luar negeri, saya merasakan koneksi yang lebih dalam dengan tanah air, dan saya berharap dapat menyampaikan semua emosi itu pada malam itu," ungkapnya. Ia juga mengungkapkan rencananya untuk membawakan kedua konserto China tersebut secara utuh dalam satu konser pada tur China tahun depan.
Konser ini juga menjadi simbol pertemuan dua kutub pendidikan yang membentuk Niu Niu. Ia mengakui bahwa pendidikan di China memberikan fondasi teknis yang kuat, sementara di Amerika Serikat ia belajar mengembangkan imajinasi dan orisinalitas. "Satu sama lain tidak bisa dipisahkan," katanya. Dalam kehidupan pribadinya, ia menjaga disiplin berlatih setiap hari, namun tetap spontan. Ia juga mengaku senang memainkan lagu-lagu pop seperti karya JJ Lin di waktu luangnya, dan bahkan berdansa hip hop atau K-pop sebelum konser untuk relaksasi.
Bagi Niu Niu, musik adalah bahasa universal untuk berkomunikasi. Ia menekankan pentingnya ketulusan dalam bermusik, bukan sekadar untuk menarik perhatian. "Saya ingin orang menyukai saya sebagai pribadi, bukan karena saya bisa memainkan lagu JJ Lin atau Jay Chou," ujarnya. Ia juga berbagi cara mengatasi rasa gugup: "Anda harus merangkulnya." Setelah 23 tahun berkarier, ia justru mencoba untuk tetap merasa sedikit gugup sebelum konser, karena itu membantunya tetap fokus.
Konser amal ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kebolehan musikal, tetapi juga penggalangan dana untuk riset dan perawatan kanker anak. Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan dukungan bagi anak penderita kanker masih terus digalakkan. Kiprah Niu Niu ini dapat menjadi inspirasi bagi musisi dan masyarakat Indonesia untuk turut berkontribusi dalam isu kemanusiaan, baik melalui musik maupun donasi. Pertanyaannya, akankah aksi panggung yang berani ini mampu menggugah lebih banyak pihak untuk peduli pada nasib anak-anak pejuang kanker di kawasan Asia Tenggara?



