Ostapenko Kembali Memanas: Keributan dengan Pelatih Lawan Warnai Laju ke Perempat Final Ganda AS Terbuka
Baca dalam 60 detik
- Petenis Latvia, Jelena Ostapenko, kembali terlibat insiden kontroversial di AS Terbuka, kali ini berselisih dengan pelatih lawan saat laga ganda putri.
- Kemenangan straight-sets atas pasangan Australia-Taiwan diwarnai protes keras Ostapenko terkait perilaku pelatih lawan yang dianggapnya tidak sportif.
- Insiden ini menambah daftar panjang konflik Ostapenko di lapangan, menyoroti temperamennya yang meledak-ledak di tengah tekanan turnamen Grand Slam.

NEW YORK โ Jelena Ostapenko kembali menjadi pusat perhatian di AS Terbuka, kali ini bukan karena pukulan-pukulan kerasnya, melainkan karena aksi konfrontasinya dengan pelatih lawan. Petenis asal Latvia itu, yang berpasangan dengan Hsieh Su-wei asal Taiwan, sukses melaju ke perempat final ganda putri setelah menyingkirkan pasangan Australia-Taiwan, Maya Joint dan Chan Hao-ching, dengan skor 6-4, 6-4. Namun, kemenangan tersebut diwarnai ketegangan yang nyaris meledak di lapangan.
Keributan dimulai saat Ostapenko merasa terganggu oleh ulah pelatih lawan yang duduk di sisi tribun. Ia menuding pelatih tersebut bertepuk tangan dan berteriak setiap kali ia dan Hsieh melakukan kesalahan. Lebih dari itu, Ostapenko mengaku pelatih itu melontarkan pujian sinis dalam bahasa Mandarin, yang kemudian diterjemahkan oleh Hsieh. "Mereka melakukan ini karena tahu mereka tidak bisa mengalahkan kami," ujar Ostapenko kepada wasit, seraya menyebut perilaku itu "sangat tidak sopan" dan meminta kehadiran penerjemah bahasa Mandarin.
Insiden ini bukanlah yang pertama bagi Ostapenko. Pada AS Terbuka tahun lalu, ia terlibat pertikaian verbal dengan Taylor Townsend, menuduh petenis Amerika itu "tidak punya kelas" dan "tidak berpendidikan". Saat itu, Ostapenko akhirnya meminta maaf, mengaku kata-katanya disalahpahami karena bahasa Inggris bukan bahasa ibunya. Namun, pola perilaku yang sama kembali muncul, menunjukkan bahwa temperamennya yang meledak-ledak masih menjadi sisi rapuh yang kerap dieksploitasi lawan.
Setelah wasit setuju untuk menangani situasi, Ostapenko dan Hsieh kembali fokus dan berhasil menutup pertandingan dengan kemenangan dua set langsung. Namun, perayaan kemenangan Ostapenko tidak berhenti di situ. Ia berteriak keras ke arah kotak pelatih lawan, sementara Hsieh dan Chan memilih untuk tidak berjabat tangan di akhir laga yang berlangsung panas tersebut. Momen ini tentu menjadi sorotan, mengingat etika sportivitas biasanya menjadi prioritas dalam turnamen sebesar AS Terbuka.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, insiden ini mengingatkan bahwa tekanan kompetisi tingkat tertinggi sering kali memicu emosi yang tidak terkendali. Di tengah hiruk-pikuk turnamen Grand Slam, para atlet dituntut tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga mampu menjaga ketenangan mental. Ostapenko, yang pernah menjadi juara Prancis Terbuka 2017, jelas memiliki kualitas untuk bersaing di level atas. Namun, jika ia tidak mampu mengelola emosinya, peluangnya untuk meraih gelar demi gelar bisa terus terusik oleh kontroversi yang tidak perlu.
Ke depannya, pertanyaan besarnya adalah apakah Ostapenko dapat belajar dari kejadian ini atau justru semakin sering terlibat konflik. Dalam dunia tenis profesional, reputasi adalah aset berharga. Jika ia terus-menerus terlibat keributan, ia berisiko dicap sebagai pemain yang sulit dikendalikan, yang bisa memengaruhi hubungannya dengan wasit, lawan, bahkan sponsor. Mampukah ia menyalurkan emosinya menjadi energi positif di lapangan? Atau akankah kita terus menyaksikan drama yang sama di setiap turnamen? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: nama Ostapenko selalu menjanjikan tontonan yang tidak pernah membosankan.



