Beta Kuala Lumpur: Perayaan Kuliner Malaysia yang Mendunia
Baca dalam 60 detik
- Restoran Beta di Kuala Lumpur mempertahankan bintang Michelin dengan menu baru yang mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara.
- Koki Raymond Tham memadukan tradisi dan modernitas, menggunakan bahan lokal serta elemen seni dan budaya Malaysia dalam setiap hidangan.
- Menu 'Tour of Malaysia' menjadi daya tarik utama, menawarkan pengalaman gastronomi yang mencerminkan identitas multikultural Malaysia.

Restoran Beta di Kuala Lumpur, yang digawangi oleh koki Raymond Tham, kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu destinasi kuliner terdepan di Asia Tenggara. Setelah meraih bintang Michelin pada 2023, Beta kini meluncurkan menu baru yang mengajak pengunjung menjelajahi kekayaan rasa dan budaya Malaysia, dari utara hingga timur, termasuk Sabah dan Sarawak.
Sejak dibuka pada 2018, Beta telah menjadi bagian dari gelombang baru kuliner modern Malaysia yang dipelopori oleh koki Darren Teoh melalui restoran Dewakan. Kini, modern Malaysian cuisine telah menjadi kebanggaan nasional, dengan sejumlah koki berbakat yang berhasil meraih pengakuan internasional. Tham, yang pernah belajar dan bekerja di luar negeri, membawa perspektif global namun tetap berakar kuat pada tradisi lokal.
Menu andalan Beta, 'Tour of Malaysia', dibanderol RM630++ per orang, mengajak pengunjung menikmati perjalanan rasa dari berbagai wilayah. Setiap hidangan dirancang untuk bercerita, tidak hanya tentang rasa, tetapi juga tentang sejarah dan budaya. Tham menekankan pentingnya storytelling dalam setiap sajian, terutama bagi tamu mancanegara yang ingin mengenal Malaysia lebih dalam.
Salah satu keunikan Beta adalah penggunaan elemen lokal dalam presentasi, seperti piring dan peralatan makan dari tanah liat Malaysia serta lukisan cat air karya seniman lokal. Hal ini sejalan dengan komitmen Tham untuk mempromosikan kekayaan budaya Malaysia, tidak hanya melalui makanan tetapi juga melalui pengalaman visual dan sensorik secara keseluruhan.
Menu pembuka menampilkan tiga camilan yang terinspirasi dari kuliner utara Malaysia, disajikan dengan kandar pole, sebuah alat tradisional yang digunakan oleh pedagang kaki lima. Salah satu yang menonjol adalah Squid with mackerel, laksa, dan kesum, yang menghadirkan kesegaran dan kompleksitas rasa laksa dalam satu gigitan. Ada juga Peknga, pancake kelapa khas Kedah yang dimodifikasi menyerupai crumpet Inggris, sebagai penghormatan atas pengalaman Tham di luar negeri.
Hidangan roti tanpa ragi, yang terinspirasi dari masa penjajahan Jepang di Malaya pada 1940-an, menjadi salah satu sajian yang paling berkesan. Roti ini dibuat dari singkong, mengingatkan pada masa ketika beras langka dan masyarakat beralih ke singkong sebagai sumber karbohidrat. Tham mengaku terinspirasi oleh cerita neneknya tentang masa sulit tersebut. Roti ini disajikan dengan emulsi cabai merah yang memberikan sensasi hangat dan nyaman.
Menu utama menampilkan hidangan-hidangan yang menggambarkan kekayaan kuliner timur Malaysia. Udang yang dimarinasi dengan anggur beras fermentasi dan dipanggang, disajikan dengan paku (fiddlehead fern) dan aioli dari kepala udang. Sementara itu, scallop dengan foam scallop dan sentuhan tuhau, jahe liar khas Borneo, menghadirkan cita rasa yang unik dan segar. Tham juga bangga dengan Beef Short Ribs yang dimasak dengan teknik slow-braised dan charcoal grilled, disajikan dengan saus masak hitam dan acar sayuran.
Untuk hidangan penutup, Beta menyajikan Teh Tarik, es krim yang terbuat dari teh Cameron Highlands, disajikan dengan kue dhal dan sirup gula Melaka. Kombinasi ini mungkin terdengar tidak biasa, tetapi Tham berhasil menyatukan elemen-elemen yang berbeda menjadi harmoni yang sempurna. Ini adalah contoh bagaimana Beta berani menantang konvensi dan menciptakan sesuatu yang baru tanpa meninggalkan akar tradisi.
Bagi para penikmat kuliner Indonesia, kehadiran Beta dan restoran-restoran modern Malaysia lainnya menjadi inspirasi bahwa kuliner Nusantara juga memiliki potensi besar untuk diangkat ke panggung internasional. Dengan kekayaan rempah dan tradisi yang dimiliki, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan fine dining berbasis lokal, seperti yang dilakukan Tham di Malaysia.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Indonesia akan mampu melahirkan koki-koki visioner yang mampu mengangkat kuliner tradisional ke level dunia, seperti yang dilakukan Raymond Tham di Beta. Dengan semakin banyaknya talenta muda yang berani bereksperimen dan berkolaborasi, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan kita akan melihat restoran Indonesia meraih pengakuan serupa.



