Andrew Garfield: Film The Uprising Harus Membuat Para Miliarder Ketakutan
Baca dalam 60 detik
- Aktor Andrew Garfield secara terang-terangan menargetkan para miliarder sebagai penonton yang perlu merasakan kegelisahan setelah menyaksikan film The Uprising.
- Film arahan Paul Greengrass ini mengangkat kisah Pemberontakan Petani 1381 di Inggris, yang dinilai relevan dengan kesenjangan sosial masa kini.
- Garfield mengaku kelelahan setelah menyelesaikan tiga proyek film beruntun, dan berencana mengambil jeda untuk memulihkan diri.

Andrew Garfield, aktor yang dikenal lewat perannya dalam film Spider-Man, punya harapan yang tidak biasa untuk film terbarunya, The Uprising. Ia ingin para miliarder yang menonton film tersebut merasa ketakutan. Bagi Garfield, film yang mengisahkan pemberontakan petani Inggris pada 1381 ini bukan sekadar drama sejarah, melainkan cermin atas ketimpangan sosial yang masih relevan hingga saat ini.
Dalam sebuah acara pemutaran film, Garfield menyampaikan bahwa ia berharap penonton merasa tergugah setelah menyaksikan The Uprising. Ia ingin penonton melihat perjuangan karakter-karakternya sebagai refleksi dari pergulatan hidup mereka sendiri. Namun, pernyataannya yang paling mencolok adalah ketika ia secara khusus menyebut para miliarder. "Saya harap jika ada miliarder yang menonton, mereka akan ketakutan setengah mati," ujarnya, seperti dikutip dari Bang Premier.
Film yang disutradarai oleh Paul Greengrass ini mengangkat kisah Pemberontakan Petani yang dipimpin oleh tokoh fiktif Ploughman, yang diperankan oleh Garfield. Greengrass, yang sebelumnya dikenal lewat film-film seperti Captain Phillips dan Bourne series, menegaskan bahwa pesan filmnya, "Tidak akan ada perdamaian sampai kita disembuhkan," sama relevannya dengan kondisi dunia 600 tahun lalu. Garfield pun menambahkan bahwa para miliarder justru mungkin yang paling membutuhkan penyembuhan tersebut, karena mereka dianggap paling rentan terhadap penyakit jiwa akibat kekayaan yang dimiliki.
Pernyataan Garfield ini tentu memicu perdebatan, terutama di tengah meningkatnya kesenjangan ekonomi global. Di Indonesia, isu ketimpangan sosial juga menjadi perhatian serius. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rasio gini Indonesia masih berada di angka 0,381 pada Maret 2024, yang mengindikasikan kesenjangan yang cukup lebar. Film seperti The Uprising dapat menjadi pengingat bahwa sejarah sering kali berulang, dan bahwa suara rakyat kecil tidak pernah benar-benar padam.
Di balik pesan politiknya, The Uprising juga menjadi ajang unjuk kebolehan Garfield sebagai aktor. Greengrass, yang pernah bekerja dengan aktor-aktor papan atas seperti Matt Damon, Tom Hanks, dan Matthew McConaughey, menilai Garfield memiliki kombinasi kekuatan dan kerentanan yang langka. "Ketika Andrew terlibat perkelahian, Anda percaya dia bisa melakukannya, tapi dia juga punya kelembutan yang melekat dalam jiwanya," puji Greengrass dalam wawancara dengan Esquire UK.
Kesibukan Garfield dalam setahun terakhir memang luar biasa. Ia mengaku menjalani tiga proyek film secara beruntun, sebuah pengalaman baru yang melelahkan namun memuaskan. "Saya belajar banyak tahun ini. Saya melakukan tiga hal berturut-turut, saya tidak pernah melakukannya sebelumnya. Saya kelelahan, tapi ketiganya adalah hal yang sangat ingin saya lakukan," tuturnya. Setelah melalui masa padat tersebut, Garfield berencana mengambil jeda dan menikmati hidup sederhana, termasuk pergi ke Disneyland bersama keponakan-keponakannya.
Pertanyaan yang kemudian mengemuka adalah apakah film seperti The Uprising mampu menggugah kesadaran publik, khususnya di Indonesia, tentang pentingnya keadilan sosial? Atau justru akan menjadi tontonan yang menguap begitu saja? Yang jelas, Garfield telah menempatkan filmnya sebagai medium untuk menyuarakan kegelisahan yang selama ini mungkin hanya menjadi bisik-bisik di ruang-ruang diskusi.



