Cedera Tendon Patela Menghantui Mario Gila: AC Milan Kehilangan Bek Andalan di Momen Krusial
Baca dalam 60 detik
- Bek AC Milan, Mario Gila, mengakui mengalami ketidaknyamanan pada tendon patela yang memaksanya keluar lapangan di menit 87 saat melawan Juventus.
- Kepergian Gila berdampak langsung: Milan yang unggul 1-0 harus rela berbagi angka setelah Juventus menyamakan kedudukan hanya empat menit berselang.
- Cedera ini menjadi pola yang mengkhawatirkan karena Gila juga tidak mampu menyelesaikan dua laga sebelumnya, dan Milan akan menghadapi mantan klubnya, Lazio, pekan depan.

Bek andalan AC Milan, Mario Gila, buka suara soal alasan di balik keputusannya meninggalkan lapangan lebih awal saat timnya ditahan imbang Juventus di lanjutan Serie A. Pemain asal Spanyol itu mengaku merasakan nyeri pada tendon patela, sebuah kondisi yang kian mengkhawatirkan mengingat ia juga tidak mampu tampil penuh dalam dua pertandingan sebelumnya.
Gila ditarik keluar pada menit ke-87 saat Milan tengah unggul 1-0 atas Juventus. Namun, keputusan tersebut justru menjadi titik balik. Hanya empat menit setelah bek berusia 24 tahun itu meninggalkan lapangan, Juventus berhasil menyamakan kedudukan lewat gol Federico Gatti di masa injury time. Hasil imbang 1-1 itu membuat kedua tim harus puas berbagi poin, dengan masing-masing mengoleksi tujuh angka dari tiga laga awal.
โSaya merasa tidak nyaman pada tendon patela, jadi saya harus keluar. Namun, hasil imbang ini tidak boleh disia-siakan,โ ujar Gila kepada DAZN, dikutip MilanNews. Ia juga menegaskan bahwa timnya tidak layak menyalahkan dirinya atas hilangnya keunggulan. โSaya pikir mereka pantas mendapatkan hasil imbang. Kami tidak bermain 100 persen, banyak kehilangan bola. Kami bertahan sampai akhir melawan tim sekuat Juventus.โ
Pola cedera yang dialami Gila mulai menjadi perhatian serius. Sebelum laga kontra Juventus, ia juga ditarik keluar lebih awal saat Milan menghadapi Torino dan Venezia. โSaya belum bisa menyelesaikan pertandingan, dan itu memalukan,โ akunya. Kondisi ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi pelatih Stefano Pioli, terutama dengan jadwal padat yang menanti.
Kekhawatiran akan kebugaran Gila semakin relevan mengingat laga berikutnya Milan justru akan berhadapan dengan mantan klubnya, Lazio. Bek yang direkrut dengan mahar โฌ30 juta pada musim panas lalu itu tentu ingin tampil maksimal, tetapi kondisi fisiknya masih menjadi tanda tanya. Pertandingan melawan Biancocelesti juga akan menjadi ujian mental bagi Gila yang pernah membela tim ibu kota tersebut.
Dari sisi taktis, absennya Gila di menit-menit akhir membuat Milan kehilangan ketenangan dalam mengelola permainan. Statistik menunjukkan bahwa tanpa Gila, lini belakang Milan lebih mudah ditembus. Meski demikian, Gila menolak anggapan bahwa timnya bergantung padanya. โSaya pikir tidak adil untuk mengatakan tim menderita tanpa saya,โ tegasnya. Sikap ini menunjukkan kedewasaan pemain, namun secara objektif, kehadirannya di lapangan memberikan rasa aman bagi rekan-rekannya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kondisi Gila menjadi pengingat betapa pentingnya manajemen kebugaran pemain di kompetisi ketat seperti Serie A. Dengan jadwal yang padat dan intensitas tinggi, cedera kecil seperti ini bisa berdampak besar pada performa tim. Milan sendiri saat ini masih dalam persaingan ketat di papan atas, dan kehilangan poin di menit akhir tentu menjadi pelajaran berharga.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah Pioli berani merotasi Gila lebih awal untuk menghindari risiko cedera yang lebih parah? Atau justru memaksanya bermain dengan risiko yang ada? Keputusan ini akan menentukan konsistensi Milan dalam perburuan scudetto. Sementara itu, para penggemar berharap Gila segera pulih dan mampu menunjukkan performa terbaiknya, terutama saat menghadapi Lazio yang kini menjadi rival langsung di klasemen.



