Spalletti Bela Wasit soal Gol Milan, Sindir Jurnalis: Kontak Bukan Berarti Pelanggaran
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Juventus menilai keputusan wasit Mariani pada gol pembuka Milan sudah tepat, meski ada kontak antara De Winter dan Kolo Muani.
- Spalletti menegaskan timnya harus beradaptasi dengan standar kepemimpinan wasit baru di Serie A yang lebih longgar terhadap kontak fisik.
- Pernyataan ini muncul di tengah perubahan gaya pengadilan liga yang sejauh ini belum menghasilkan satu pun penalti atau intervensi VAR.

Luciano Spalletti, pelatih Juventus, dengan tegas menolak mempermasalahkan gol pembuka AC Milan dalam laga yang berakhir imbang 1-1 di Allianz Stadium, Minggu (6/9/2026) malam WIB. Ia justru melontarkan sindiran tajam kepada para jurnalis yang kerap memperdebatkan istilah 'kontak' dalam setiap insiden di lapangan.
Pertanyaan krusial muncul setelah wasit Maurizio Mariani membiarkan gol Milan yang dicetak lewat skema serangan balik. Sebelum gol tercipta, bek Juventus, Koni De Winter, terlihat bersenggolan dengan penyerang Milan, Randal Kolo Muani. Banyak pengamat menilai insiden itu seharusnya menjadi pelanggaran yang membatalkan gol. Namun, Spalletti memiliki pandangan berbeda.
"Mariani adalah salah satu wasit terbaik Italia, dan menurut saya, garis yang kami lihat sekarang ini sudah benar," ujar Spalletti dalam konferensi pers usai pertandingan, seperti dikutip Football Italia. "Jika ingin bermain di Eropa, Anda harus beradaptasi. Ini bukan pelanggaran, dan tidak akan ditiup. Itu cara yang tepat."
Pelatih asal Italia itu juga mengakui bahwa wasit bisa saja membuat kesalahan, tetapi pada kecepatan permainan seperti sekarang, hal tersebut adalah risiko yang tak terhindarkan. "Tentu saja, ada insiden di mana pelanggaran tidak diberikan atau kartu kuning terlewat, tetapi pada kecepatan permainan, hal-hal seperti ini bisa terjadi bahkan pada wasit yang baik dan berpengalaman seperti dia," tambahnya.
Yang menarik, Spalletti tidak hanya membela wasit, tetapi juga menyindir gaya pemberitaan media. Ia menyinggung bahwa istilah 'kontak' yang kerap digunakan jurnalis sebenarnya tidak memiliki arti dalam aturan baru. "Seperti yang saya katakan sebelumnya, dunia 'kontak' yang suka kalian gunakan," katanya dengan nada sinis. "Mereka mengajari kalian bahwa kontak tidak berarti apa-apa. Orsato akan mengambil musik dari kalian. Karena ini seperti melodi, dan dia mengambilnya karena dia tidak meniup peluit untuk sebuah kontak. Entah ada dampak, atau ada pelanggaran, atau kalian harus menyebutnya dengan cara lain."
Pernyataan Spalletti ini menegaskan perubahan filosofi pengadilan di Serie A musim ini. Sejauh ini, liga belum memberikan satu pun tendangan penalti dan tidak ada intervensi VAR yang terjadi. Ini merupakan perubahan drastis dari musim-musim sebelumnya yang cenderung lebih sering menghentikan permainan untuk hal-hal kecil. Spalletti menilai perubahan ini positif dan menuntut timnya untuk beradaptasi, terutama jika ingin bersaing di kompetisi Eropa.
"Saya tidak akan mengeluh tentang hal-hal ini; saya ingin melihat tim saya berjuang sampai akhir. Kami beruntung, karena seharusnya kami bisa membawa pulang gol lebih awal," tegas Spalletti, mengindikasikan bahwa timnya seharusnya bisa menang sebelum Milan menyamakan kedudukan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perubahan gaya kepemimpinan wasit di Serie A ini menarik untuk dicermati. Liga Indonesia sendiri kerap diwarnai kontroversi keputusan wasit, dan adaptasi terhadap standar internasional seperti ini bisa menjadi pelajaran. Jika wasit di Indonesia lebih berani melonggarkan interpretasi kontak fisik, permainan bisa menjadi lebih cepat dan dinamis, meski risiko kontroversi tetap ada.
Dengan hasil ini, Juventus dan Roma sama-sama mengoleksi tujuh poin dari tiga laga perdana. Sementara itu, Inter dan Roma menjadi satu-satunya tim yang meraih sembilan poin penuh. Persaingan di papan atas Serie A diprediksi akan semakin ketat, dan keputusan wasit yang lebih longgar ini akan terus menjadi sorotan. Pertanyaannya, akankah gaya kepemimpinan wasit baru ini bertahan sepanjang musim, atau justru memicu gelombang protes dari klub-klub besar lainnya?



