IQE Cetak Laba Operasional Semester I, Optimistis AI Data Center Dongkrak Kinerja
Baca dalam 60 detik
- Produsen komponen semikonduktor asal Wales, IQE, membukukan laba inti £6 juta pada semester pertama 2025, berbalik dari rugi £0,4 juta tahun sebelumnya.
- Lonjakan belanja infrastruktur AI global mendorong permintaan material fotonik seperti indium phosphide, yang menjadi andalan IQE untuk ekspansi kapasitas.
- IQE berencana pindah ke papan utama Bursa London pada 2027, seiring pergeseran strategi dari pesanan spot ke kontrak jangka panjang dengan raksasa industri.

IQE, pemasok komponen semikonduktor asal Wales, mencatatkan laba inti £6 juta (sekitar Rp125 miliar) pada paruh pertama tahun ini, berbalik dari kerugian £0,4 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pencapaian ini tidak lepas dari derasnya aliran investasi global untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) yang memacu permintaan material fotonik, sekaligus menegaskan posisi perusahaan di rantai pasok data center.
Perusahaan yang berbasis di Cardiff ini memproduksi epitaksi untuk wafer yang kemudian diolah menjadi laser untuk pusat data. Dengan demikian, IQE berada di hulu rantai pasok AI, segmen yang tengah menikmati lonjakan belanja modal dari raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, dan Amazon. Setelah sempat tertekan oleh perlambatan pasar elektronik dan gangguan tarif Amerika Serikat, IQE kini menuai berkah dari ekspansi masif infrastruktur AI yang membutuhkan komponen optik berkecepatan tinggi.
Kinerja semester pertama yang melampaui ekspektasi manajemen membuat IQE mempertahankan proyeksi pendapatan tahunan yang sempat dinaikkan pada Juli lalu. Momentum positif disebut berlanjut hingga paruh kedua, didorong oleh meningkatnya permintaan indium phosphide—material kunci dalam fotonik untuk data center generasi berikutnya. Untuk mengantisipasi lonjakan permintaan, IQE berencana menambah kapasitas manufaktur di sejumlah fasilitasnya pada semester kedua.
Kendati optimistis, IQE mengakui adanya hambatan pasokan substrat indium phosphide. Jutta Meier, Chief Executive Officer IQE, mengatakan perusahaan tengah melakukan negosiasi dengan sejumlah pemasok untuk mengatasi bottleneck tersebut. "Ini adalah hambatan yang kami hadapi dengan berbagai negosiasi dengan pemasok di seluruh industri," ujarnya. Meski demikian, Meier yakin kendala ini tidak akan menghalangi pencapaian target paruh kedua.
Di bawah kepemimpinan Meier, IQE telah menggeser model bisnis dari pesanan spot menjadi perjanjian jangka panjang (LTA) dengan pelanggan seperti MACOM, Tower Semiconductor, dan Lumentum. Langkah ini dinilai analis sebagai perubahan fundamental dalam membangun basis pendapatan yang lebih stabil. "Ini mewakili perubahan mendasar dalam cara basis pendapatan dibangun secara historis, dan kami berharap LTA lebih lanjut akan diamankan dengan nama-nama besar dalam beberapa bulan mendatang," kata Damindu Jayaweera, analis Peel Hunt.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal positif bagi industri teknologi nasional yang mulai melirik pengembangan pusat data. Dengan komitmen pemerintah untuk menarik investasi AI dan data center, kebutuhan akan komponen semikonduktor berkualitas tinggi akan meningkat. Meski Indonesia belum memiliki pemain besar di sektor epitaksi, rantai pasok global yang semakin solid dapat membuka peluang bagi perusahaan lokal untuk masuk ke segmen hilir, seperti perakitan modul optik atau manufaktur perangkat keras pendukung.
Rencana IQE untuk memindahkan pencatatan sahamnya ke papan utama Bursa London pada paruh pertama 2027 juga menjadi indikator kepercayaan diri perusahaan terhadap prospek jangka panjang. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan likuiditas dan visibilitas di mata investor institusional, yang pada gilirannya akan memudahkan akses pendanaan untuk ekspansi lebih lanjut.
Dengan tren investasi AI yang diprediksi terus tumbuh, IQE berada di posisi strategis untuk memanfaatkan gelombang permintaan ini. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah seberapa cepat perusahaan mampu mengatasi hambatan pasokan dan apakah model LTA yang baru akan cukup kuat untuk menjaga pertumbuhan di tengah fluktuasi pasar global. Bagi pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini layak dicermati sebagai barometer kesehatan ekosistem semikonduktor dunia yang akan berdampak pada harga dan ketersediaan komponen di masa depan.



