Ghedjemis Dapat Peringatan dari Pelatih Frosinone: 'Kembalikan Posisimu'
Baca dalam 60 detik
- Frosinone menang 3-2 atas Venezia, namun sorotan tertuju pada Fares Ghedjemis yang baru tampil sebagai pemain pengganti setelah gagal pindah klub.
- Ghedjemis sempat dibekukan karena memaksakan transfer, dengan tawaran dari Monaco, Besiktas, Celtic, dan Rangers, tetapi tak ada yang memenuhi banderol โฌ17 juta.
- Pelatih Massimiliano Alvini menuntut Ghedjemis membuktikan diri lewat kerja keras untuk merebut kembali tempat inti.

Frosinone menekuk Venezia 3-2 dalam laga sengit Serie A, namun perhatian justru tertuju pada Fares Ghedjemis. Pemain sayap asal Aljazair itu baru dimainkan sebagai pengganti pada menit ke-57, setelah sebelumnya dibekukan karena memaksakan hengkang. Pelatih Massimiliano Alvini memberikan peringatan tegas: Ghedjemis harus 'merebut kembali tempatnya' di skuad.
Kemenangan ini menjadi pelepas dahaga bagi Frosinone yang tampil meyakinkan di 60 menit awal. Gol penentu lahir dari Giorgi Kvernadze di masa injury time, memastikan tiga poin berharga. Alvini memuji karakter timnya yang mampu bangkit setelah sempat kehilangan ritme permainan. "Kami bermain sangat baik selama 60 menit, lalu berhenti melakukan hal-hal tertentu dan membiarkan Venezia kembali ke permainan. Namun, kami menunjukkan karakter untuk bangkit dan memenangkannya," ujarnya kepada Sky Sport Italia.
Ghedjemis, yang berulang tahun pada hari pertandingan, menjadi sorotan utama. Sebelumnya, ia dikaitkan dengan sejumlah klub besar seperti AS Monaco, Besiktas, Celtic, dan Rangers. Namun, tidak ada satu pun yang berani memenuhi harga yang diminta Frosinone, sekitar โฌ17 juta plus bonus. Akibatnya, pemain berusia 24 tahun itu harus bertahan dan kembali bersaing memperebutkan tempat utama.
Alvini menegaskan bahwa Ghedjemis harus menunjukkan komitmennya. "Ghedjemis harus terus berlatih keras untuk memenangkan kembali tempatnya di tim," kata Alvini. "Saya senang penonton menunjukkan kasih sayang kepadanya hari ini, terutama karena ini hari ulang tahunnya." Ghedjemis sendiri masuk menggantikan rekan setimnya pada sisa 33 menit plus waktu tambahan, tetapi belum mampu memberikan kontribusi signifikan.
Konteks transfer ini menarik untuk dicermati. Ghedjemis merupakan salah satu arsitek promosi Frosinone ke Serie A musim lalu, finis kedua di belakang Venezia. Namun, keinginannya untuk pindah ke liga yang lebih kompetitif membuat hubungan dengan klub memanas. Di Italia, kasus seperti ini sering terjadi, di mana pemain yang memaksakan transfer kerap kehilangan tempat di skuad utama. Bagi Frosinone, mempertahankan Ghedjemis adalah keputusan strategis, mengingat nilai jualnya yang tinggi di masa depan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Ghedjemis menjadi pelajaran berharga tentang dinamika transfer dan manajemen pemain. Di tengah maraknya pemain muda Indonesia yang mencoba peruntungan di liga Eropa, kasus ini menunjukkan bahwa keputusan pindah klub tidak selalu berjalan mulus. Negosiasi yang alot bisa berujung pada 'hukuman' berupa pembekuan, seperti yang dialami Ghedjemis. Hal ini menegaskan pentingnya menjaga profesionalisme dan komunikasi yang baik antara pemain, agen, dan klub.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Ghedjemis mampu kembali ke performa terbaiknya dan merebut hati Alvini. Dengan kualitas yang dimilikinya, ia seharusnya bisa menjadi pembeda di lini serang Frosinone. Namun, sikapnya yang sempat memaksakan kehendak bisa menjadi bumerang. Mampukah ia membuktikan bahwa dirinya layak menjadi pilihan utama, atau justru akan terus menghangatkan bangku cadangan? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: Ghedjemis harus bekerja ekstra keras untuk mengembalikan kepercayaan pelatih dan suporter.



