Banjir Bandang Nepal: 1.287 Tewas, Ribuan Masih Hilang, Pencarian Difokuskan di Terowongan PLTA
Baca dalam 60 detik
- Nepal menggelar hari berkabung nasional setelah banjir bandang akibat longsoran gletser menewaskan sedikitnya 1.287 orang dan membuat lebih dari 5.000 lainnya hilang.
- Tim penyelamat masih berupaya maksimal, dengan fokus pada terowongan pembangkit listrik tenaga air yang diyakini menjadi lokasi potensial korban selamat.
- Bencana ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap dampak perubahan iklim, sebuah pelajaran penting bagi Indonesia yang juga rawan bencana hidrometeorologi.

Nepal memasuki hari berkabung nasional pada Senin (26/8) untuk mengenang ribuan korban banjir bandang yang dipicu longsoran gletser di lembah Himalaya, dekat perbatasan Tibet. Hingga saat ini, sedikitnya 1.287 orang dipastikan tewas, sementara lebih dari 5.000 lainnya masih dinyatakan hilang, menjadikan bencana ini salah satu yang terburuk dalam sejarah negara tersebut.
Upacara peringatan yang biasanya digelar selama 13 hari menurut tradisi Hindu kali ini diperingati secara sederhana. Bendera nasional dikibarkan setengah tiang di kantor-kantor pemerintah dan misi luar negeri, namun acara-acara seremonial besar ditiadakan. Pasalnya, operasi pencarian dan pertolongan masih terus berlangsung di sejumlah titik yang terdampak, terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau.
Juru bicara Pusat Operasi Darurat Nasional (NEOC), Phanindra Paudel, menegaskan bahwa pemerintah memutuskan untuk tidak menggelar program seremonial apa pun karena fokus utama masih pada upaya penyelamatan. Sementara itu, Presiden Nepal Ram Chandra Paudel dilaporkan telah meninjau langsung kawasan terdampak pada hari yang sama, menunjukkan perhatian serius pemerintah terhadap bencana ini.
Di tengah duka yang mendalam, secercah harapan muncul dari upaya penyelamatan yang masih berlangsung. Juru bicara militer Nepal, Raja Ram Basnet, menyatakan bahwa timnya terus bekerja dengan intensitas yang sama seperti hari pertama. "Fokus kami adalah mencari dan menyelamatkan di tiga level: darat, udara, dan di dalam terowongan," ujarnya. Terowongan-terowongan yang merupakan bagian dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di kawasan tersebut menjadi prioritas utama, karena ratusan pekerja dilaporkan masih terjebak di dalamnya.
Seorang ahli penyelamatan terowongan asal Australia, Arnold Dix, yang memberikan nasihat kepada tim Nepal, menyebut operasi ini menghadapi "banyak potensi penyelamatan yang terjadi bersamaan di lokasi berbeda, masing-masing dengan bahaya dan ketidakpastiannya sendiri." Dalam beberapa hari terakhir, empat orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, tiga di antaranya ditemukan di area PLTA atau terowongan. Salah satu kisah yang paling mengharukan adalah ditemukannya seorang perempuan berusia 64 tahun di distrik Nuwakot, yang selamat setelah rumahnya tertimbun material longsor selama lebih dari sepuluh hari. Ia dievakuasi oleh pasukan bersenjata Nepal dan diterbangkan ke rumah sakit di Kathmandu.
Di sisi lain, tim penyelamat dari China juga menemukan dua belas jenazah di kawasan perbatasan pada hari Minggu, menggunakan alat berat dan radar penembus tanah. Sementara itu, media China melaporkan 31 orang tewas di wilayah Tibet, dengan 531 orang belum ditemukan. Bencana ini tidak hanya menjadi tragedi kemanusiaan, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang kesiapan infrastruktur di kawasan rawan bencana, khususnya proyek-proyek PLTA yang dibangun di lembah-lembah curam Himalaya.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana hidrometeorologi yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, saat dihubungi terpisah, menekankan bahwa peristiwa di Nepal harus menjadi pelajaran berharga. "Indonesia dengan kondisi geografisnya yang rawan longsor dan banjir bandang perlu terus memperkuat sistem peringatan dini dan tata kelola lingkungan, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan lereng gunung atau aliran sungai," ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya penilaian risiko yang ketat untuk pembangunan infrastruktur di daerah rawan bencana, termasuk pembangkit listrik dan permukiman.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih terus berlangsung. Pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah masih ada korban selamat yang terjebak di dalam terowongan-terowongan PLTA yang gelap dan berbahaya itu. Sementara itu, dunia menyaksikan Nepal berduka, dan bersamaan dengan itu, belajar bahwa kekuatan alam tidak bisa diremehkan, dan bahwa pembangunan harus selalu selaras dengan upaya menjaga keseimbangan lingkungan.



