Kebakaran Pasar di Papua Tengah Tewaskan 11 Orang, Enam Di Antaranya Anak-anak
Baca dalam 60 detik
- Insiden kebakaran di Paniai, Papua Tengah, menewaskan 11 orang dan meluluhlantakkan puluhan kios.
- Korban jiwa didominasi anak-anak, memicu keprihatinan atas keselamatan di permukiman padat.
- Penyebab kebakaran masih diselidiki, menyoroti risiko kebakaran yang berulang di Indonesia.

Kebakaran hebat melanda sebuah pasar di Paniai, Papua Tengah, pada Senin dini hari (7/9), menewaskan 11 orang termasuk enam anak-anak. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 00.00 waktu setempat ini dengan cepat melahap sejumlah ruko dan kios, menurut keterangan polisi setempat.
Juru bicara kepolisian setempat, Henry J. Manurung, mengungkapkan bahwa petugas menemukan 11 jenazah dengan luka bakar. Dari jumlah tersebut, lima orang dewasa dan enam lainnya adalah anak-anak yang usianya berkisar antara dua hingga sembilan tahun. Proses identifikasi dan evakuasi masih berlangsung hingga siang hari.
Api yang berkobar selama lebih dari tiga jam tersebut menghanguskan sedikitnya 40 kios dan rumah. Meskipun petugas pemadam kebakaran telah dikerahkan dengan mobil dan meriam air, upaya pemadaman terkendala oleh intensitas api yang tinggi dan kepadatan bangunan. "Bangunan yang saling berdekatan membuat api cepat merambat dan menyulitkan proses pemadaman," ujar Manurung dalam pernyataannya.
Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan rentannya wilayah Indonesia terhadap kebakaran, terutama di kawasan padat penduduk. Sebelumnya, pada Desember tahun lalu, kebakaran di gedung perkantoran tujuh lantai di Jakarta Pusat menewaskan 22 orang. Insiden tersebut diduga dipicu oleh ledakan baterai drone di lantai dasar. Tak hanya itu, ledakan di pabrik pengolahan nikel di Indonesia timur pada 2023 juga merenggut sedikitnya 12 nyawa.
Otoritas setempat masih menyelidiki penyebab kebakaran Paniai. Dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, namun belum ada konfirmasi resmi. Sementara itu, warga yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian kini mengungsi di lokasi aman, menunggu bantuan dari pemerintah daerah.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan perlunya peningkatan standar keselamatan kebakaran, terutama di pasar tradisional dan permukiman padat yang kerap abai terhadap protokol. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan audit bangunan dan sosialisasi pencegahan kebakaran. Pertanyaannya, akankah tragedi ini menjadi momentum perbaikan, atau justru tenggelam dalam rutinitas duka yang berulang?



